Ketua MUI Sebut MBG Program Mulia: Yang Diperbaiki Pelakunya, Bukan Programnya

- Publisher

Minggu, 14 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi. Foto: Istimewa

Ilustrasi. Foto: Istimewa

INIKEPRI.COM – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Anwar Iskandar menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan kebijakan yang memiliki tujuan mulia karena tidak hanya berupaya memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Pengasuh Pondok Pesantren Al Amin Ngasinan, Kediri, yang akrab disapa Gus War itu menyampaikan pandangannya saat menanggapi aksi demonstrasi sejumlah kalangan mahasiswa yang menyuarakan penolakan terhadap Program MBG, Sabtu (13/6/2026).

Menurutnya, apabila dilihat dari perspektif agama, memberi makan kepada sesama merupakan perbuatan yang sangat dianjurkan dan memiliki nilai kemuliaan yang tinggi. Karena itu, kebijakan pemerintah yang bertujuan menyediakan makanan bagi masyarakat, khususnya anak-anak dan kelompok yang membutuhkan, sejalan dengan nilai-nilai keagamaan.

“Kalau dari perspektif agama, memberi makan itu sesuatu yang sangat mulia. Memberi makan orang lain merupakan bagian dari sifat yang dicintai Allah. Karena itu program memberi makan kepada masyarakat tentu merupakan sesuatu yang baik,” ujarnya.

BACA JUGA:  Berkas Lengkap, Indra Kenz Segera Disidang

Pelaksanaan Harus Dibenahi

Meski demikian, Gus War mengakui masih terdapat berbagai persoalan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis. Namun, menurutnya, kekurangan tersebut tidak dapat dijadikan alasan untuk menghentikan program yang manfaatnya sangat besar bagi masyarakat.

Ia menegaskan bahwa apabila ditemukan penyimpangan atau pelanggaran, maka yang perlu diperbaiki adalah tata kelola serta oknum yang melakukan kecurangan, bukan kebijakan dasarnya.

“Bahwa dalam pelaksanaannya ada hal-hal yang kurang baik, itu tentu ada aturannya dan sudah ditindak. Yang pertama programnya mulia, kemudian pelaksanaannya yang harus diperbaiki,” kata Gus War.

Menurutnya, sejumlah persoalan yang muncul selama ini lebih disebabkan oleh ulah oknum yang tidak menjalankan amanah dengan baik sehingga bantuan yang seharusnya diterima masyarakat secara utuh menjadi berkurang.

“Ada yang nakal, mestinya Rp10 ribu dikurangi menjadi Rp7 ribu atau Rp5 ribu. Mungkin diambil untuk menambal biaya ketika ingin mendapatkan izin. Ada satu titik sampai Rp300 juta atau Rp500 juta,” ungkapnya.

BACA JUGA:  BGN Kaji Ulang Anggaran Program MBG 2027, Usulan Rp270 Triliun Dinilai Terlalu Besar

Praktik semacam itu, lanjutnya, justru merugikan masyarakat sebagai penerima manfaat. Karena itu, penindakan terhadap pelaku penyimpangan harus dilakukan secara tegas agar tujuan utama program tetap tercapai.

“Kalau ada yang nakal sehingga bantuan yang seharusnya diterima penuh menjadi berkurang, maka yang diperbaiki adalah pelakunya, bukan programnya yang dihentikan,” tegas Ketua MUI tersebut.

Gerakkan UMKM dan Buka Lapangan Kerja

Selain memberikan manfaat dari sisi pemenuhan gizi bagi anak-anak dan para santri, Gus War menilai Program MBG juga memiliki dampak ekonomi yang signifikan. Menurutnya, keberadaan dapur pelayanan MBG telah menciptakan peluang kerja baru sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat.

Program tersebut melibatkan berbagai pelaku usaha kecil dan sektor produksi rakyat, mulai dari peternak ayam, petani sayur, petani buah, hingga produsen tahu dan tempe. Dengan demikian, manfaat program tidak hanya dirasakan oleh penerima makanan, tetapi juga oleh pelaku usaha dan masyarakat di sekitarnya.

BACA JUGA:  Dana BGN Belum Cair, Program Makan Bergizi Gratis di Kepri Dihentikan Sementara

“Program ini bukan hanya bermanfaat bagi penerima makanan, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan dan menggerakkan UMKM. Mulai dari peternak ayam, pembuat tahu dan tempe, petani sayur, petani buah hingga pelaku usaha kecil lainnya,” jelasnya.

Ia menambahkan, perputaran ekonomi yang tercipta dari Program Makan Bergizi Gratis memberikan manfaat langsung kepada masyarakat lapisan bawah sehingga memiliki efek berganda bagi perekonomian rakyat.

Karena itu, berbagai persoalan yang muncul tidak seharusnya dijadikan alasan untuk menghapus program yang dinilainya membawa manfaat besar bagi bangsa.

Untuk menggambarkan pandangannya tersebut, Gus War mengibaratkan Program Makan Bergizi Gratis sebagai sebuah lumbung yang menghasilkan banyak manfaat bagi masyarakat.

“Kalau ada tikus di lumbung, tikusnya yang dibasmi, bukan lumbungnya yang dibakar,” ujarnya.

Penulis : DI

Editor : IZ

Berita Terkait

Prabowo Tegaskan Pemerintah Jalankan Amanat UUD 1945 demi Kemakmuran Rakyat
Kepala BP Batam Paparkan Kinerja 2025: Investasi Lampaui Target, Optimis Raih WTP Ke-10
Komisi XII DPR Beri Lampu Hijau Tarif Listrik PLN Batam dan Kolaka Green Energy
Prabowo Tetapkan Solar Rp15.000 per Liter untuk Nelayan Kapal 30–200 GT
ASN Bisa WFH atau WFA untuk Antar Anak di Hari Pertama Sekolah
Prabowo Panggil Pimpinan BP Batam, Siapkan Batam Menjadi Gerbang Maritim dan Investasi Global
Nippon Paint Kantongi Sertifikat dari International Tennis Federation
Mau Magang Digaji Setara UMP? Pemerintah Buka 150 Ribu Kuota, Cek Jadwal Pendaftarannya

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 07:11 WIB

Prabowo Tegaskan Pemerintah Jalankan Amanat UUD 1945 demi Kemakmuran Rakyat

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:29 WIB

Kepala BP Batam Paparkan Kinerja 2025: Investasi Lampaui Target, Optimis Raih WTP Ke-10

Jumat, 17 Juli 2026 - 08:08 WIB

Komisi XII DPR Beri Lampu Hijau Tarif Listrik PLN Batam dan Kolaka Green Energy

Selasa, 14 Juli 2026 - 07:13 WIB

Prabowo Tetapkan Solar Rp15.000 per Liter untuk Nelayan Kapal 30–200 GT

Minggu, 12 Juli 2026 - 07:35 WIB

ASN Bisa WFH atau WFA untuk Antar Anak di Hari Pertama Sekolah

Berita Terbaru