Sabtu, 12 Juni 2021
3 Jun 2021
(ANTARA FOTO)
(ANTARA FOTO)

INIKEPRI.COM – Firman Setyawan, Camat Bintan Utara, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), mengaku mengalami kesulitan tidur (insomnia) setelah terinfeksi COVID-19.

“Saya mulai mengalami insomnia setelah lima hari terinfeksi COVID-19. Kemudian setelah sembuh pun saya masih sulit tidur,” katanya dilansir dari ANTARA, Kamis 3 Juni 2021.

Firman yang telah dua kali disuntik vaksin ini, mengalami gejala berupa batuk dengan intensitas tinggi, yang menyebabkan nyeri pada bagian dadanya.

Batuk disertai nyeri pada bagian dada tersebut terjadi selama dua hari. Setelah lima hari terinfeksi COVID-19, jadwal tidurnya mulai berubah.

Firman baru bisa tidur pada pukul 05.00 WIB, setiap hari. Padahal matanya mengantuk sejak malam hari.

“Saat saya terinfeksi COVID-19, mungkin banyak pikiran karena ada tugas-tugas yang belum dilaksanakan, seperti pelaksanaan MTQ. Tetapi kemudian saya tidak ada beban pikiran apa-apa, tetapi masih juga sulit tidur,” katanya.

Menurut dia jadwal tidurnya sekarang mulai sedikit ada perubahan. Sejak beberapa hari lalu, ia sudah bisa terlelap tidur mulai pukul 03.00 WIB.

Ia sendiri tidak mengetahui apakah ada hubungan antara COVID-19 dengan insomnia.

“Saya sudah tanyakan ke dokter. Jawabannya karena dipengaruhi pikiran. Padahal tidak ada hal berat yang menyebabkan saya sulit tidur,” katanya.

Firman tertular COVID-19 dari stafnya. Sekitar sebulan yang lalu, seorang stafnya diketahui tertular COVID-19 berdasarkan hasil penelusuran terhadap pasien COVID-19 yang sempat mengikuti rapat bersamanya.

Kemudian staf tersebut menularkan virus tersebut kepada dirinya dan sejumlah staf lainnya.

“Kantor kami sempat tutup setelah ada tujuh orang terinfeksi COVID-19,” tutup dia.

Dinkes Bintan: Perlu Uji Klinis

Atas kasus Firman tadi, Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau menyatakan tim medis perlu melakukan uji klinis terhadap pasien COVID-19 kesulitan tidur (insomnia).

Kepala Dinkes Bintan Gama AF Isnaenibmengatakan sejumlah pasien COVID-19 di daerah tersebut yang mengalami kesulitan tidur merupakan kasus baru, yang ditemukan baru-baru ini. Namun pemerintah maupun tim medis belum dapat menyimpulkan kasus itu sebelum dilakukan penelitian oleh para ahli.

Dokter ahli syarat, contohnya harus memastikan apakah COVID-19 mengganggu syaraf pasien. Kemudian, psikiater juga dibutuhkan untuk memeriksa pasien, apakah ada permasalahan nonmedis, yang menyebabkan pasien sulit tidur.

“Kami belum dapat pastikan apakah ada hubungan antara COVID-19 dengan gangguan tidur pada pasien. Apakah ini masuk dalam kategori organik, ada hubungan antara COVID-19 dengan pasien, atau hanya tekanan yang menyebabkan pikiran yang berlebihan,” katanya, dilansir dari ANTARA, Kamis 3 Juni 2021. (ET)

5 1 vote
Article Rating
Jangan Lewatkan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Batam

Trending

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x