Varian ini berasal dari Afrika Selatan. Virus ini pertama kali ditemukan pada Desember 2020. Varian ini punya pola mutasi berbeda. Varian ini sudah ditemukan di Bali pada Mei lalu.
Mutasi varian ini menyebabkan lebih banyak perubahan pada struktur protein spike milik virus corona. Menurut Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes Siti Nadia Tarmizi, varian Beta diduga bisa memengaruhi penurunan efikasi vaksin COVID-19.
Sama seperti varian Alpha, varian Beta juga memiliki kemampuan penularan lebih cepat. Gejala yang ditimbulkan varian ini tidak jauh berbeda dengan infeksi COVID-19 pada umumnya, tetapi mutasi varian ini tergolong cukup berbahaya.
Mutasi pada varian Beta dapat meningkatkan peluang virus menghindari sistem kekebalan seseorang, dan dapat memengaruhi seberapa efektif vaksin virus corona bekerja.
3. Varian Delta
Varian ini pertama kali ditemukan di Maharashtra, India. Varian ini memiliki sejumlah karakteristik mutasi, yang membuat varian tersebut berbeda dan lebih berbahaya dibanding strain asli.
Menurut Ketua Tim Peneliti Whole Genome Sequencing (WGS) FK-KMK Universitas Gadjah Mada Gunadi, terdapat beberapa sebab yang membuat varian Delta dinilai lebih berbahaya.
Pertama, varian Delta berhubungan dengan usia pasien meskipun sudah divaksin dua dosis. “Semakin tua pasien COVID-19, maka varian Delta ini akan memperburuk kekebalan tubuh pasien tersebut,” kata Gunadi.
Varian Delta diketahui dapat menginfeksi kembali pasien COVID-19 dan akan memperlemah kekebalan tubuh pasien. Padahal, seharusnya apabila sudah terinfeksi COVID-19 pasien akan mendapatkan antibodi secara alami.
Gejala varian Delta ini meliputi:
- Sakit perut
- Hilang selera makan
- Muntah
- Mual
- Nyeri sendi
- Gangguan pendengaran.
Pada 10 Mei 2021, WHO mengklasifikasikan virus ini menjadi variant of concern. Virus jenis ini juga termasuk salah satu virus yang paling mudah penularannya. Umumnya, orang yang terinfeksi varian ini dapat melakukan isolasi mandiri.
(Petugas kesehatan mengambil sampel tes cepat Antigen dari seorang pedagang yang beraktivitas di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, Bali, Sabtu (19/6/2021). Pemerintah Kota Denpasar menggelar tes cepat Antigen di ruang publik untuk mengantisipasi terjadinya kasus varian baru COVID-19. (RWH)
Halaman : 1 2

















