Bahkan menurut pakar politik dan hukum Universitas Nasional (Unas) Saifil Anam, Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan diyakini akan tumbang jika nekat memasangkan Puan Maharani dengan Prabowo Subianto di Pilpres 2024.
“Tentu kalau tidak mengubah cara dan strategi pendekatan dalam meraih simpati rakyat, maka lambat laun tumbangnya PDIP akan semakin terasa. Apalagi bila tetap memaksakan Prabowo-Puan dalam kontestasi Pilpres 2024 mendatang,” kata Saiful dilansir dari Hops, Minggu 4 juli 2021.
Lebih lanjut Anam menegaskan jika kekuatan PDIP yang mulai terkikis saat ini sudah bisa dirasakan Presiden Jokowi belakangan. Diperkuat pada beberapa moment penting bagi petinggi PDIP yang tidak dihadiri Jokowi.
“Yakni terbukti dalam beberapa kesempatan misalnya dalam penganugerahan gurubesar kehormatan Megawati dan peresmian patung kuda Soekarno, Jokowi tidak tampak hadir bersama Megawati dan Prabowo,” ujar Saiful.
Menurut Saiful, aroma PDIP akan tumbang makin menguat dengan kedekatan Megawati dengan Prabowo belakangan ini. Kedekatan keduanya akan menumbuhkan faksi-faksi di tubuh di partai banteng.
“Di mana di situ ada simpul Ganjar misalnya, atau bahkan Jokowi yang saya kira juga ingin menjadi king maker untuk Pilpres yang akan datang,” tutup Saiful.
Konflik yang terjadi antara Ganjar Pranowo dan Puan Maharani yang disajikan dalam kancah politik jelang Pilpres 2024 mendatang dinilai sebagai sandiwara belaka yang cilakanya untuk muluskan Jokowi 3 periode.
Di tengah konstalasi perang kekuasaan antara Ganjar dan Puan, masyarakat di fokuskan atas sandiwara perebutan kekuasaan yang terjadi antara kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Hal tersebut ditegaskan Direktur Gerakan Perubahan, Muslim terjadinya konflik PDIP yang terlihat di permukaan memang hanya dipasang Puan dan Ganjar.
Sehingga isu yang terjadi di permukaan yakni persaingan antara Puan dan Ganjar, namun lebih dalam jika dilihat seksama yakni adanya kubu yang menginginkan sesuatu. (ER/HOPS)
Halaman : 1 2

















