“Hai, apa kabar Mai? Maaf, kebetulan aku lewat sini, terus hujan tiba-tiba turun. Boleh berteduh di sini?” kata Rizal.
Hujan malam ini memang sangat deras. Aku pun langsung mempersilakan Rizal masuk.
“Mau aku buatkan teh hangat?” tanyaku.
“Boleh kalau tidak merepotkan,” jawabnya.
Sedikit cerita, Rizal kekasih terbaik yang pernah aku miliki. Namun, orang tuaku tak merestui hubunganku dengannya.
“Ini teh hangatnya,” kataku.
“Terima kasih. Sudah lama, kamu masih terlihat cantik,” kata Rizal.
Tanpa sadar aku tersenyum saat mendengar hal itu. Dia memang paling pandai membuatmu merasa senang. Entah apa yang terjadi, obrolan kami sangat dalam dan menyenangkan.
Singkat cerita, Rizal mengajakku menari bak adegan di film India. Kami berdua memang sering melakukan hal itu saat sedang merasa senang. Tak heran jika dia mengajakku kembali melakukan hal itu.
“Masih suka menari dengan musik India?” tanya Rizal.
“Masih, tetapi sudah jarang,” jawabku.
“Mari lakukan lagi, menari bersamaku,” ajaknya.
Rizal langsung memutar lagu India yang menjadi kesukaan kami. Tanpa sadar, tubuhku mulai ikut bergoyang mengikuti irama lagu. Tangan Rizal mulai menggenggam tanganku. Perlahan, kami berdua pun terlena dalam alunan lagu.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya

















