“Aku hangatin dengan mi kuah pedas rasa ayam bawang kesukaanmu, ya?” kata Kayara.
Ya, mi kuah pedas rasa ayam bawang memang sangat istimewa bagiku. Kayara memang selalu tahu kesukaanku.
“Mau mau. Cabainya sepuluh! ” jawabku dengan gembira.
“Ih, pedas banget,” jawabnya.
Kayara pun langsung meracik semua bumbu yang diperlukan. Tangannya terlihat sangat lihai saat memotong cabai. Setelah beberapa saat, semangkuk mi kuah pun akhirnya jadi. Aku pun sangat senang dan tak sabar merasakan. “Makan dulu, yuk, sayang,” kata Kayara.
Saat aku coba, rasanya sangat menakjubkan. Minya tidak terlalu lembek dan pedasnya juga pas di lidah. Namun, ini terlalu pedas untuk Kayara.
Sebab, dia memang tak terlalu suka makanan pedas. “Ampun, kok pedas banget, sih mas,” kata Kayara.
“Kan, kamu sendiri yang masak,” jawab sembari tertawa.
“Iya, sih. Kamu emang jagonya makanan pedas” jawabnya.
Perlahan, wajah Kayara pun penuh dengan keringat. Meski terasa pedas, dia terlihat menikmati mi kuah buatannya. Singkat cerita, hujan pun sudah reda. Jam juga sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Aku pun langsung berpamitan kepada Kayara. Tak enak dengan tetangga jika terlalu lama. (RM/GENPI)

















