Aku lantas bergegas mengantar makanan sekalian agar bisa bertemu dengannya.
Ketika aku sampai, aku melihat pesan teks yang tiba-tiba masuk.
“Mas, nanti masuk saja. Gerbangnya tidak saya dikunci. Saya lagi di belakang, takut nggak dengar,” tulis Mbak Yani.
“Kok, tiba-tiba aku deg-degan, padahal sudah biasa masuk ke rumahnya,” pikirku.
Aku pun masuk dengan membawa makanan dan mencoba memanggil lewat telefon. Namun, belum sempat telefon, Mbak Yani ternyata sudah di depan dan membuka pintu sedikit.
“Bang, maaf ya sampai suruh masuk. Saya habis selesai mandi juga soalnya,” kata Mbak Yani dari balik pintu.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya

















