Sebelumnya dari laman yang sama, CNBCINDONESIA sempat memberitakan terkait proyek ramah lingkungan yang kini menjadi primadona baru dalam ekonomi global, baik itu di bidang infrastruktur, energi hingga transportasi (kendaraan listrik).
Proyek-proyek tersebut kini tidak lagi eksklusif bagi negara maju saja, melainkan proyek ‘hijau’ tersebut juga mulai dibidik oleh konglomerat Asia Tenggara.
Dilansir Forbes, Sunseap-perusahaan yang disokong oleh perusahaan miliarder sektor energi Thailand, Isara Vongkusolkit, Banpu pcl dan entitas investasi negara Singapura Temasek-mengatakan pada Juli lalu (21/7) bahwa mereka menandatangani nota kesepahaman dengan BP Batam.
Kerja sama ini untuk membangun pembangkit listrik tenaga surya terapung dan fasilitas penyimpanan energi senilai US$ 2 miliar (Rp 29 triliun) di Pulau Batam yang berlokasi sekitar 45 menit perjalanan dengan feri dari Singapura.
“Pembangkit listrik tenaga surya terapung, yang dapat menghasilkan listrik dengan daya puncak 2,2 gigawatt, membentang 1.600 hektar pada Waduk Duriangkang di bagian selatan Pulau Batam, menjadikannya sistem fotovoltaik terapung terbesar di dunia,” tulis Sunseap.
Fasilitas penyimpanan energi tersebut juga akan menjadi yang terbesar di dunia, dengan kapasitas lebih dari 4.000 megawatt per jam, tambahnya.
“Proyek hyperscale (skala raksasa) ini merupakan tonggak penting bagi Sunseap yang dilaksanakan segera setelah [Sunseap] menyelesaikan instalasi sel surya terapung lepas pantai Singapura pertama di sepanjang Selat Johor,” kata salah satu pendiri dan CEO Sunseap, Frank Phuan.
“Kami percaya bahwa sel surya terapung akan sangat membantu mengatasi kendala [akan kurangnya] lahan yang dihadapi bagian [wilayah] perkotaan di Asia Tenggara dalam pemanfaatan energi terbarukan.” (ER/CNBCINDONESIA)
Halaman : 1 2

















