Dalam suasana kehidupan modern yang memang sarat dengan “kemajuan kebendaan” tentunya akan membawa perkembangan ke arah kebaikan, namun yang sungguh memprihatinkan dan malah mencemaskan, bahwa kehidupan modern itu akan dapat menyebabkan “kemunduran” bilamana umat Islam, khususnya generasi muda Islam sampai lalai apalagi meninggalkan ajaran agamanya yang luhur. Dengan pelbagai kebebasan yang dilakoninya, umumnya generasi muda tidak lagi berangkat dari kepentingan jangka panjang, namun lebih sering memandang sesuatunya itu dari pemikiran jangka pendek, yang bersifat instan. Demikian pula halnya dalam menyikapi perubahan yang sedang dijalaninya.
BACA JUGA:
Pancasila dari Hati dan Pikiran
Profil kepribadian kaum muda yang sedang mencari “bentuk” tentunya menjadi “mangsa” di alam kehidupan modern, karena dalam perkembangan kehidupannya, para kaum muda telah nyaris kehilangan nilai-nilai etika dan mora-litasnya. Pikirannya telah berubah alam pikiran kemanusiannya (human thought) menjadi “semacam pikiran mesin” (the thinking of machiness), karena alam pikiran di seba-gian besar generasi muda ibarat perangkat “komputer”, yang diisi program tertentu, kemudian diaplikasikan sedemikian rupa, kemudian dijalankan menurut kehendak orang yang menggunakannya.
Demikian besarnya pengaruh teknologi modern itu pada alam kehidupan generasi muda, sehingga sistem sosial modernnya mengalami “homogenisasi”, dimana keberadaannya hanya berfungsi seperti sebuah mesin, dan sosok-sosok individu generasi muda yang sedang dalam kancah pergolakan itu bagaikan sekrup-sekrup kecil yang memang tidak lagi mempunyai pilihan. Karenanya, tiap individu generasi muda dalam kehidupan umat seakan-akan tiada berharga (nobody) yang lebur ke dalam siklus masyarakat masinal yang bersifat atomitis, maka seseorang generasi muda yang dihinggapi kondisinya yang demikian, akan kehilangan rasa percaya diri dan tercabutnya identitas dirinya sebagai Muslim.
Masa Depan Memerlukan Kualitas Iman, Ilmu dan Amal
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya

















