Menariknya, orangtua juga sudah mulai bergabung dan menggunakan Tiktok selama pandemi covid-19. Tiktok telah mengubah dan menghubungkan orang-orang yang baru kenal di seluruh dunia. Orangtua seperti pengguna @charlesmallet berusia 82 tahun memiliki lebih dari 4 juta pengikut. Akun ini pernah berbagi rasa terima kasihnya untuk Tiktok, dan dampak positif yang dialaminya dalam kehidupannya. Atau seperti pengguna @grandma_droniak berusia 90 tahun, dengan lebih dari 1,5 juta pengikut. Salah satu video lucu dari pakaiannya ditonton lebih dari 20 juta kali.
Bahkan, politikus senior seperti mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohammad, membuat akun Tiktok untuk berkomunikasi dengan kaum muda (The Star, 5 Agustus 2020), sedangkan di Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Informatika telah membuat akun Tiktok pada Maret 2019, dengan tujuan yang sama (The Jakarta Post, 20 Februari 2020).
Tiktok berpeluang jadi ruang diskusi dan wadah bagi aktivitas politik oleh negara lain di dunia, seperti kasus heboh antara pendukung K-Pop dan mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 2020. Ratusan remaja pengguna Tiktok dan penggemar K-Pop mengatakan bertanggung jawab sebagian terhadap kegagalan kampanye Donald Trump di BOK Center, Tulsa, Okla (New York Times, 21 Juni 2020).
Pengguna Tiktok dan penggemar grup musik pop Korea mengklaim telah mendaftarkan ratusan ribu tiket potensial untuk kampanye Trump sebagai lelucon (prank). Setelah akun resmi kampanye Trump @TeamTrump mem-posting twit yang meminta pendukung untuk mendaftar tiket gratis menggunakan ponsel mereka pada 11 Juni, akun penggemar K-Pop mulai membagikan informasi dengan pengikut, mendorong mereka untuk mendaftar ke rapat umum, tetapi kemudian tidak muncul.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya

















