Islamophobia Sebagai Psiko-Abnormal

- Admin

Senin, 12 September 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi. Foto: Istimewa

Ilustrasi. Foto: Istimewa

Pertama, melalui classical conditioning seseorang dapat belajar untuk takut pada suatu stimulus netral jika stimulus tersebut dipasangkan dengan kejadian yang secara intrinsik menyakitkan atau menakutkan. Kedua, operant conditioning seseorang dapat belajar mengurangi rasa takut yang dikondisikan tersebut dengan melarikan diri dari atau menghindarinya. Jenis pembelajaran yang kedua ini diasumsikan sebagai operant conditioning; respons dipertahankan oleh konsekuensi mengurangi ketakutan yang menguatkan.

Phobia juga bisa muncul melalui modelling berdasarkan vicarious learning dalam arti seseorang bisa mengalami gangguan kejiwaan berupa phobia terhadap obyek tertentu ketika mendapati orang yang yang dipercaya [tokoh] melakukan upaya-upaya verbal terhadap obyek tertentu yang akhirnya menimbulkan reaksi fobik. Jika seorang tokoh cendekiawan atau pemimpin komunitas selalu menakut-nakuti anggotanya tentang Islam secara berulang kali, maka akan muncul reaksi fobik pada komunitas sosial itu terhadap Islam. Padahal reaksi fobik itu bersifat emosional belaka, bukan rasional. Akhirnya melalui upaya verbal tokoh tersebut menimbulkan gangguan kejiwaan jamaahnya berupa islamophobia.

Baca Juga :  Memahami Simbol, Lambaian Tangan Anas dan Anwar Ibrahim

Inilah yang terjadi saat ini, kenapa banyak orang yang tiba-tiba mengidap penyakit kejiwaan islamophobia berupa ketakutan yang irasional terhadap islam yang justru sebuah sistem dan ajaran mulia dan terbukti mensejahterakan seluruh manusia. Islam oleh Allah adalah rahmatan lil’alamin, namun jika seseorang mengidap penyakit kejiwaan berupa islamophobia, maka Islam akan dianggap sebagai monster menakutkan. Islamnya tidak salah, namun penyakit phobianya yang harus disembuhkan. Dalam perspektif classical conditioning, Islam sengaja dikondisikan sebagai kondisi yang menakutkan dengan cara dipasangkan dengan berbagai kejadian yang secara instrinsik menakutkan.

BACA JUGA:

Pemilu ‘Wedding Party Oligarki-Kapitalis’

Dalam hal ini konsep Islam lebih khusus khilafah disandingkan dengan perilaku ISIS yang biadab dan mengaku mewakili Islam, maka timbullah ketakutan irasional. Padahal Islam dan khilafah itu mulia, dan perilaku ISIS adalah kondisi buatan mereka. Padahal Islam dan khilafah tidak ada hubungannya sama sekali dengan ISIS yang justru bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Maka ISIS bukan Islam, tapi dikondisikan seolah berasal dari Islam.

Baca Juga :  Duet Anies-Puan, Presiden PKS Sampaikan Tiga Syarat

Efeknya banyak masyarakat yang terjebak dengan psikoterorisme ala Barat ini sehingga masyarakat justru takut dan menghindar dari ajaran Islam. Lebih dari itu kadang umat Islam sendiri justru membenci, menfitnah, memusuhi Islam dan para pejuangnya. Inilah kondisi di mana masyarakat mengalami penyakit kejiwaan berupa Islamophobia karena berhasil dikondisikan oleh Barat melalui upaya monsterisasi Islam, syariah dan khilafah.

Istilah Islam juga sering disandingkan dengan istilah anti kebhinekaan, anti Pancasila dan lainnya. Karena itu jika ada orang menolak Islam, maka orang tersebut tengah mengalami gangguan kejiwaan [psiko-abnormal] berupa phobia yang harus segera disembuhkan. Reaksi fobik yang timbul dari impuls-impuls id tentang Islam, orang phobia hewan masih bisa dipahami saat melihat hewan tersebut, sementara Islam itu sebuah agama. Bagaimana bisa ada orang yang takut kepada agama yang baik bagi negeri ini, namanya juga phobia.

Baca Juga :  Kualitas Iman, Ilmu Dan Amal: Momentum Bagi Generasi Muda Islam dalam Mencari Peluang dan Menghadapi Tantangan Masa Depan

Islamophobia berdampak kepada kecacatan keterampilan sosial bagi pengidapnya. Dukungan terhadap model psikologi behavioral ini berasal dari berbagai penemuan yang menunjukkan bahwa orang-orang yang memiliki kecemasan sosial memang memiliki skor rendah dalam tingkat keterampilan sosial (Twentyman & McFall, 1975) dan bahwa mereka tidak mampu memberikan respons pada waktu dan tempat yang tepat dalam interaksi sosial (Fischetti, Curran, Sr Wessberg, 1977), misalnya melakukan berbagai tindakan terhadap orang-orang yang mendakwahkan Islam.

Perhatikan bagaimana perspektif rendahnya keterampilan sosial ini terkait dengan teori avoidance conditioning yang telah dikaji sebelumnya. Seseorang yang keterampilan sosialnya rendah memiliki kemungkinan menciptakan situasi yang menakutkan bersama orang lain. Dalam kaitan Islamophobia, masyarakat Barat lantas memberikan berbagai gambaran yang menakutkan agama Islam ini. Ironi, orang Barat yang dikenal rasional, namun dalam soal Islam, mereka justru mengalami gangguan kejiwaan yang irasional.

Berita Terkait

Green Sukuk Semakin Populer, Tapi Kenapa Lingkungan Kita Masih Rusak?
Asap, Asa dan Amsakar Achmad
Refleksi Kartini: Emansipasi, Iman, dan Tantangan Perempuan Muslim Hari Ini
Strategi Delegitimasi Aktor Kebijakan dalam Pemerintahan Prabowo – Studi Kasus Tuduhan terhadap Sufmi Dasco Ahmad
Menerobos Rutinitas Birokrasi dengan Adab dan Etika
Kemerosotan Otak dan Pembatasan Media Sosial pada Anak
Haruskah Menderita Atas Nama Indonesia?!
1 Desember, Ditjen Imigrasi Terapkan Penerbitan E-Paspor 100 Persen

Berita Terkait

Sabtu, 5 Juli 2025 - 10:52 WIB

Green Sukuk Semakin Populer, Tapi Kenapa Lingkungan Kita Masih Rusak?

Kamis, 29 Mei 2025 - 10:28 WIB

Asap, Asa dan Amsakar Achmad

Senin, 21 April 2025 - 11:02 WIB

Refleksi Kartini: Emansipasi, Iman, dan Tantangan Perempuan Muslim Hari Ini

Selasa, 8 April 2025 - 15:25 WIB

Strategi Delegitimasi Aktor Kebijakan dalam Pemerintahan Prabowo – Studi Kasus Tuduhan terhadap Sufmi Dasco Ahmad

Selasa, 11 Maret 2025 - 02:08 WIB

Menerobos Rutinitas Birokrasi dengan Adab dan Etika

Berita Terbaru