Hari menerangkan bahwa begitu besar biaya yang harus ditanggung para peternak babi jika babi milik mereka terdampak wabah. Dan umumnya, kata dia, para peternak babi merupakan rakyat miskin, sehingga jika ada kematian pada satu ekor babi saja yang di mana nilai per ekornya bisa mencapai Rp 5-7 juta, nilai itu menjadi nilai yang sangat besar bagi mereka.
“Berapa besar biaya yang harus ditanggung oleh masyarakat ternak kita kalau dia terdampak wabah. Hampir semua wilayah yang peternak babi itu dominan adalah rakyat kecil. Bisa dibayangin gak jika kemudian satu ekor babi mereka hilang, yang nilainya bisa Rp 5-7 juta per ekor, kalau mereka rakyat kecil melihara.. anggap saja 10 ekor, berarti mereka menanggung kerugian hampir Rp 100 juta. Ukuran orang miskin, itu nilai yang sangat besar,” terangnya.
Menurutnya, pemerintah masih abai di dalam upaya mereka untuk mengantisipasi penyebaran wabah yang sudah masuk ke Indonesia.
BACA JUGA :
Nilai Ekspor Babi dari Pulau Bulan Capai Rp785 M
“Yang jadi ketakutan saya, ini nanti masuk juga ke Irian Jaya (Papua), ini tambah kacau lagi, karena Sulawesi sudah, Kalimantan sudah, ya tinggal Irian Jaya saja yang masih selamat,” tutur dia.
“Bagaimana kemudian upaya pemerintah daerah ini untuk mengelola penyebaran wabah ini, maka peran penting dari pemerintah pusat untuk konsentrasi dan serius. Jangan kemudian berpikiran, babi ini diciptakan oleh Tuhan tapi diharamkan di bumi ini. Ini kan kacau urusannya. Babi ini gak ada yang ngurusin. Jujur saja, khusus babi ini kami merasa seperti di-anak-tirikan di negeri ini. Seakan-akan gak ada yang memperhatikan kami,” ujarnya.
Hari memberi contoh kematian massal babi yang terjadi di daerah Bali pada beberapa tahun lalu, dia menyebut tidak ada satu pun dari pemerintahan yang menolong para peternak babi.
“Rakyat menangis, gak ada satupun kemudian yang bisa menolong kami sampai hari ini, termasuk pemerintah daerah kami sendiri. Saya mencoba meminta agar diberikan bantuan berupa bantuan bibit misalnya, sampai hari ini anggaran itu gak ada yang keluar. Cukup miris kita,” kata Hari.
Sedangkan, lanjut dia, penggerak ekonomi dari setiap wilayah yang beternak babi adalah mereka para peternak babi. “Suka gak suka, diakui tidak diakui, di Kalimantan juga mereka sebagai penggerak ekonomi, di Sulawesi juga, termasuk Sumatera, NTT, dan Bali. Walaupun Bali sangat kencang dengan pariwisata, tetapi babi di Bali bukan saja produk ekonomi bagi masyarakat Bali, tetapi juga merupakan produk budaya,” ujarnya.
Untuk itu, para peternak babi meminta kepada pemerintah, bagaimana caranya agar kemudian wilayah yang belum terdampak oleh virus demam babi Afrika ini bisa diselamatkan. Misalnya, Manado yang masih belum terkena virus, tetapi mulai didekati oleh virus mematikan ini.
“Nah bagaimana upaya mereka, belajar lah dari Bali, harusnya begitu. Karena hanya Bali yang bisa memulihkan kondisinya secara cepat, dalam hitungan 1 tahun Bali sudah pulih lagi beternak. Yang notabene virus itu gak ada obat, gak ada vaksinnya, mortalitas 100%, daya bunuhnya 100%, kecepatan sebarannya juga 100%. Begitu hebatnya kita bisa memulihkan kondisi masyarakat kita dalam hitungan 1 tahun, kita sudah bisa beternak lagi,” tutur dia.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya

















