Bagaimana Pendidikan Menyelesaikan Semua Masalah Bangsa

- Admin

Kamis, 28 Desember 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mohammad Raziq Fakhrullah, B.Eng. Foto: Istimewa

Mohammad Raziq Fakhrullah, B.Eng. Foto: Istimewa

Oleh: Mohammad Raziq Fakhrullah, B.Eng

INIKEPRI.COM – Tahukah kalian bahwa esensi dari pendidikan dapat dianalogikan dengan pentingnnya informasi ketika seseorang berwisata?. Karena saat seseorang berwisata pasti ia memiliki tujuan. Seseorang tidak bisa mencapai tujuan itu jika tidak tahu mana jalan yang harus ditempuh, mana bus yang harus dinaiki, dan dimana Lorong yang harus dimasuki. Ketidaktahuan akan menyebabkan ketidakpastian, kesesatan, keterlambatan, dan ketertinggalan. Begitu juga dengan hidup ini. Manusia membutuhkan pengetahuan agar kehidupan diiringi dengan panduan sehingga manusia akan lebih memahami situasi yang ia hadapi. Dengan pengetahuan cara pandang manusia akan lebih luas dan berfikir jauh ke depan.

Pemahaman ini harus disadari oleh semua umat manusia termasuk masyarakat Indonesia. Namun tampaknya masyarakat Indonesia cukup lalai dengan pemahaman ini. Hal ini dibuktikan oleh angka-angka yang dirilis oleh lembaga seperti OECD (Organization For Economic Cooperation and Development) yang mengidentifikasi anak-anak berumur 15 tahun terkait kemampuan membaca, matematika, dan sains mereka. Hasil riset yang dinamakan score PISA ini menyebutkan bahwa pada tahun 2022, anak-anak Indonesia masih berada pada urutan ke 69 dari 81 negara. Tak sebanding dengan negara-negara tetanngga seperti Vietnam berada pada urutan ke 34 dan Singapura pada urutan pertama. Apakah ini menjadi masalah?, tentu saja iya. Karena jika kemampuan pelajar indonesia dalam menguasai tiga bidang tersebut rendah, maka kemampuan riset STEM (Science, engineering, technology, and Mathematics) di Indonesia juga akan rendah. Padahal kemajuan teknologi di sebuah negara perlu ditopang dengan SDM yang memumpuni di bidang tersebut. Kita tidak mungkin selamanya menjadi konsumen dari produk-produk teknologi, suatu saat kita harus menjadi produsen. Tidak mungkin kita selalu dilihat sebagai negara yang hanya bertumpu pada sektor barang mentah. Bayangkan jika semua produk tambang dan minyak di Indonesia diolah sendiri di dalam negeri, bagaimana jika semua petani di Indonesia memiliki traktor penggarap lahan yang canggih, dan bagaimana jika nelayan-nelayan di daerah kepulauan memiliki pabrik pengolahan produk perikanannya sendiri. Tentu pendapatan pekerja di Indonesia akan meningkat drastis.

Baca Juga :  Haruskah Menderita Atas Nama Indonesia?!

Namun hal ini mustahil jika riset teknologi masih rendah. Kenyataannya kondisi ini paralel dengan angka GDP per-kapita yang sangat rendah. Menurut World Bank pada tahun 2022, GDP per kapita Indonesia hanya berkisar pada 4,788 USD. Sedangkan Singapura berkisar pada 82,807 USD. Ironinya hal ini dapat diartikan pendapatan 1 orang di Singapura sama dengan pendapatan 17 orang di Indonesia.

Baca Juga :  Menerobos Rutinitas Birokrasi dengan Adab dan Etika

Sekali lagi apakah ini menjadi masalah?, tentu iya. Karena status perekonomian dan pendidikan masyarakat yang rendah akan berdampak pada sektor sosial dan politik disebuah negara. Karena di negara demokrasi yang baik, partisipasi aktif dan sifat kritis masyarakat sangat diperlukan. Jika tidak, maka tidak ada check and balance antara Masyarakat dan penguasa. Disisi lain, perekonomian yang buruk menyebabkan maraknya politik uang di dalam negri karena politisi akan lebih mudah membeli suara Ketika pemilu. Hal ini menyebabkan dua hal, yang pertama ongkos politik akan sangat tinggi karena persaingan politik didasari oleh siapa yang paling banyak membagikan uang, yang kedua hilangnya system meritokrasi dimana kursi pemerintahan diisi oleh pihak yang memiliki kepentingan bukan kompetensi.

Berita Terkait

Green Sukuk Semakin Populer, Tapi Kenapa Lingkungan Kita Masih Rusak?
Asap, Asa dan Amsakar Achmad
Refleksi Kartini: Emansipasi, Iman, dan Tantangan Perempuan Muslim Hari Ini
Strategi Delegitimasi Aktor Kebijakan dalam Pemerintahan Prabowo – Studi Kasus Tuduhan terhadap Sufmi Dasco Ahmad
Menerobos Rutinitas Birokrasi dengan Adab dan Etika
Kemerosotan Otak dan Pembatasan Media Sosial pada Anak
Haruskah Menderita Atas Nama Indonesia?!
1 Desember, Ditjen Imigrasi Terapkan Penerbitan E-Paspor 100 Persen

Berita Terkait

Sabtu, 5 Juli 2025 - 10:52 WIB

Green Sukuk Semakin Populer, Tapi Kenapa Lingkungan Kita Masih Rusak?

Kamis, 29 Mei 2025 - 10:28 WIB

Asap, Asa dan Amsakar Achmad

Senin, 21 April 2025 - 11:02 WIB

Refleksi Kartini: Emansipasi, Iman, dan Tantangan Perempuan Muslim Hari Ini

Selasa, 8 April 2025 - 15:25 WIB

Strategi Delegitimasi Aktor Kebijakan dalam Pemerintahan Prabowo – Studi Kasus Tuduhan terhadap Sufmi Dasco Ahmad

Selasa, 11 Maret 2025 - 02:08 WIB

Menerobos Rutinitas Birokrasi dengan Adab dan Etika

Berita Terbaru

TNI berhasil menyelesaikan pembangunan dua jembatan Bailey di kawasan Jamur Ujung, Kabupaten Bener Meriah, yang berada pada ruas jalan strategis Bireuen – Bener Meriah – Takengon. Foto: TNI AD

Daerah

TNI AD Rampungkan Dua Jembatan Bailey di Bener Meriah

Selasa, 13 Jan 2026 - 14:14 WIB