INIKEPRI.COM – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Republik Indonesia, Amalia Adininggar Widyasanti, menegaskan bahwa Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) kini menjadi salah satu kekuatan ekonomi regional yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Dalam pertemuannya bersama Gubernur Kepulauan Riau, H. Ansar Ahmad, Jumat (25/5), ia menyebutkan bahwa posisi geografis Kepri yang strategis telah dikonversi secara nyata dalam indikator ekonomi utama, terutama Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita.
“Kepri secara PDRB per kapita berada di atas rata-rata nasional. Jika Indonesia saat ini mencatat sekitar USD 5.000 per kapita, maka Kepri telah menyentuh angka USD 10.174. Ini pencapaian yang luar biasa,” ungkap Amalia.
Setara Brasil, Lampaui Thailand dan Makin Dekat ke Malaysia
Untuk memberi perspektif global, Amalia membandingkan angka tersebut dengan negara-negara lain. PDRB per kapita Kepri saat ini:
• Brasil: USD 10.214
• Thailand: USD 7.234
• Indonesia (nasional): USD 5.000
• Vietnam: USD 4.670
• Malaysia: USD 11.575

Dengan demikian, Kepri bukan hanya melampaui Thailand—salah satu raksasa ekonomi di Asia Tenggara—tetapi telah menyamai kekuatan ekonomi seperti Brasil. Bahkan, hanya terpaut sekitar USD 1.400 dari Malaysia, tetangga terdekat sekaligus salah satu mitra dagang utama Kepri.
“Dengan struktur ekonomi yang produktif dan didominasi oleh industri pengolahan serta ekspor, Kepri memiliki peluang sangat besar untuk naik kelas secara ekonomi,” ujar Amalia.
Tumbuh Lebih Cepat dari Nasional
Pada triwulan I 2025, pertumbuhan ekonomi Kepri tercatat sebesar 5,16% (year-on-year), meningkat dari 5,00% di periode yang sama tahun sebelumnya. Ini menempatkan Kepri di posisi ke-13 dari 38 provinsi di Indonesia.
Namun angka ini bukan batas akhir. Amalia optimistis Kepri bisa tumbuh jauh lebih tinggi, bahkan secara konsisten di atas 5%, jika strategi pembangunan diarahkan pada sektor-sektor strategis.
Contohnya adalah Kabupaten Bintan, yang mencatat pertumbuhan mencapai 8,9% pada triwulan I tahun ini, berkat kontribusi besar dari sektor industri pengolahan.
Ekonomi yang Produktif dan Berorientasi Ekspor
Berbeda dengan perekonomian nasional yang banyak ditopang oleh konsumsi rumah tangga, struktur ekonomi Kepri lebih berorientasi pada pengolahan, ekspor, dan investasi langsung.
“Ekonomi Kepri jauh lebih produktif karena ditopang oleh sektor-sektor yang menghasilkan. Ini menjadikan Kepri sebagai provinsi yang lebih resilien dan berdaya saing global,” jelas Amalia.
Kontribusi sektor industri terhadap pertumbuhan ekonomi Kepri mencapai 3,69%, jauh lebih tinggi dibandingkan kontribusi sektor yang sama di tingkat nasional yang hanya 0,93%.
Demikian juga dengan sektor perdagangan yang menyumbang 0,66% secara nasional, sementara di Kepri jauh lebih dominan.
Sinergi Data dan Kebijakan: Menyasar Titik-Titik Strategis
Dalam pertemuan tersebut, Amalia juga menekankan pentingnya kerja sama antara BPS dan Pemerintah Provinsi Kepri tidak hanya dalam hal penyediaan data statistik, tetapi juga dalam pencatatan aktivitas ekonomi secara real time dan presisi tinggi.
“Pemetaan aktivitas ekonomi secara akurat akan membantu pemerintah daerah membuat kebijakan yang benar-benar berdampak,” ujarnya.
BPS pun siap menjadi mitra strategis Gubernur dalam merumuskan kebijakan yang mampu mengintervensi sektor-sektor strategis, sejalan dengan target pembangunan nasional di bawah Presiden Prabowo Subianto dan dokumen perencanaan pembangunan jangka menengah (RPJMN dan RPJMD).
Potensi Masih Terbuka Lebar
Dengan berbagai indikator yang mengarah positif, Kepri kini berdiri di garis depan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Infrastruktur pelabuhan yang semakin maju, investasi asing yang terus mengalir, serta kapasitas SDM yang semakin terlatih, menjadi kombinasi kuat untuk mendorong Kepri naik kelas.
“Jika digarap dengan baik, Kepri bisa menjadi salah satu provinsi penyumbang terbesar terhadap PDB nasional dalam beberapa tahun ke depan,” pungkas Amalia.
Penulis : RP
Editor : IZ

















