Kolom opini ini ditulis oleh Ibal Zulfianto — saksi diam dari siang yang hangat bersama seorang wali kota yang tak pernah lelah mencintai kotanya.
INIKEPRI.COM – Siang itu, Rabu, 28 Mei 2025. Saya melangkah pelan menaiki lift menuju lantai empat sebelum menapaki anak tangga ke lantai lima, ke ruang paling strategis dalam bangunan yang menatap kota Batam dari ketinggian: kantor Wali Kota Batam.
Tak ada janji formal, tak ada rencana birokratis. Hanya niat sederhana: menyapa sosok yang saya anggap sebagai orang tua yang kini memanggul dua amanah besar sekaligus—Wali Kota Batam dan Ex Officio Kepala BP Batam.
Namanya: Amsakar Achmad.
Ketika pintu itu perlahan terbuka, saya disambut oleh keheningan ruang yang pernah akrab—tempat yang telah lama tak saya jejaki.
Meski ruangannya telah berubah akan tetapi suasananya masih sama: tenang, hangat, namun penuh beban yang tersimpan rapi di balik map, trofi, dan berita-berita di atas meja.
Di antara semua itu, ada satu momen yang tak saya lupakan: Amsakar menyulut sebatang rokok, menarik dalam-dalam, lalu menunduk.
Saya tahu, ada yang akan menghakimi. Rokok? Di ruang kerja? Tapi bukan itu yang saya lihat. Yang saya lihat adalah seorang pemimpin yang tak ingin berpura-pura tak letih.
Ia tidak sedang mengiklankan kekuatan. Ia sedang jujur bahwa menjadi pemimpin bukanlah peran suci yang steril dari beban. Ia bukan dewa. Ia manusia.
Dan justru di situlah letak kekuatannya: Ia tidak berpura-pura.
Asap yang mengepul dari ujung rokoknya bukan bentuk “kenakalan”, tapi puisi dari dalam dada. Mungkin di setiap tarikan itu, ia sedang menimbang keputusan, sedang menghela kekecewaan, sedang menelan harapan rakyat yang tak pernah bisa habis dibicarakan dalam waktu sejam.
Tak ada kata-kata keluar saat itu, tapi justru di sanalah kata-kata paling keras terdengar: keheningan seorang pemimpin, di tengah badai tanggung jawab.
Saya mencermati wajahnya. Ada garis-garis baru di sekitar mata. Tapi sorotnya tak berubah: waspada, halus, menyala dalam diam.
Batam adalah kota keras, kompleks, penuh tarik-menarik kepentingan. Tapi Amsakar tidak pernah menanggapi keras dengan keras. Ia seperti batu karang yang menahan ombak dengan keteguhan, bukan gebrakan.
Ia tahu bahwa pemimpin hari ini bukan lagi mereka yang lantang di podium, tapi yang sanggup berdiri ketika semua ingin duduk, dan tetap mendengar ketika semua mulai berteriak.
Dan saya menyaksikan sendiri—ia adalah itu.
Pemimpin yang Tak Butuh Sorak
Di tengah iklim sosial yang semakin gemar menilai dari apa yang terlihat di permukaan—dari seberapa sering tampil di layar, atau seberapa lantang berbicara di mimbar—sosok seperti Amsakar Achmad menjadi pengecualian yang patut direnungkan.
Ia adalah jenis pemimpin yang tidak menjadikan panggung sebagai tujuan, melainkan kerja sebagai inti. Tidak banyak suara yang ditinggikannya, tidak pula upaya pencitraan yang dikejarnya. Tapi justru dalam senyap itulah jejaknya paling terasa. Amsakar bergerak bukan untuk dilihat, melainkan untuk memberi dampak.
Kota Batam, tempat ia mengabdi, bukan ruang yang mudah diatur. Batam adalah pertemuan pelik antara status otonomi daerah, kepentingan industri, serta tarik menarik antara pertumbuhan ekonomi dan dinamika sosial. Pembangunan sering kali berbenturan dengan realitas penggusuran, dan kesejahteraan masyarakat kerap tertahan oleh kompleksitas regulasi kawasan industri bebas.
Di tengah benang kusut inilah, Amsakar mengambil peran bukan semata sebagai pemimpin, tetapi sebagai penyeimbang. Ia meniti jalan sunyi yang penuh tantangan: memediasi kepentingan, menjaga stabilitas, dan tetap berpihak pada yang kecil tanpa perlu banyak sorak-sorai.
Ada keteladanan yang diam-diam tumbuh dari gaya kepemimpinan semacam ini—yang tidak menjadikan jabatan sebagai alat unjuk kuasa, tapi sebagai ruang pelayanan yang penuh tanggung jawab.
Dan mungkin, kita memang butuh lebih banyak pemimpin seperti itu. Pemimpin yang tidak sibuk mencari sorotan, tetapi sibuk menyerap masalah dan mencarikan jalan keluarnya. Pemimpin yang tak butuh sorak, karena ia tahu, hasil kerja nyatalah yang pada akhirnya akan bicara.
Rokok dan Refleksi
Ketika ia menarik kembali napas dari sebatang rokok, saya melihat itu bukan sekadar kebiasaan, tapi semacam ritual kontemplasi.
Asap yang naik pelan ke langit-langit ruangan itu seperti simbol dari beban yang menguap. Tapi kita tahu: beban tak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah bentuk, menjadi keputusan, menjadi ketegasan, menjadi penyangga kepercayaan publik.

Saya tidak datang membawa dokumen duniawi berisi rencana dan janji, dan kami tidak berdiskusi tentang menara ambisi yang ingin ditegakkan. Tapi di tengah perbincangan yang sederhana itu, saya rasakan hadirnya sesuatu yang lebih tinggi: harapan—yang mungkin kecil di mata manusia, tapi besar dalam pandangan Tuhan.
Harapan bahwa Batam masih bisa dipimpin oleh seseorang yang tidak silau, tidak keras kepala, tapi punya keteguhan sunyi dan keberanian manusiawi.
Kota Ini Butuh Kepemimpinan yang Tidak Lupa Menunduk
Hari ini, banyak pemimpin melupakan satu hal: bahwa di balik jabatan, mereka hanyalah manusia.
Dan pertemuan saya hari itu, justru mengingatkan bahwa Amsakar masih membawa sisi manusianya dalam kepemimpinan.
Ia tahu menunduk. Ia tahu diam. Ia tahu kapan harus berbicara, dan lebih penting: ia tahu kapan harus mendengar.
Ini bukan pujian kosong. Saya tidak menulis karena kedekatan. Saya menulis karena ada ruang publik yang pantas diisi dengan refleksi. Dan saya ingin orang tahu, bahwa di balik berita-berita tentang regulasi, pembangunan, dan kritik yang datang bergantian, ada seorang Amsakar yang duduk tenang di lantai lima—tetap bekerja, tetap berpikir, tetap merokok, tetap memimpin.
Dan saya percaya, pemimpin semacam ini layak mendapat sorotan.
Bukan karena retorika, tapi karena diamnya yang bekerja.
Penutup
Semoga Batam terus dituntun oleh tangan yang tak gemetar, oleh hati yang tidak membatu, dan oleh pemimpin yang tahu bahwa menjadi kuat tidak selalu berarti berteriak. Kadang, menjadi kuat adalah tahu kapan harus diam dan menghirup udara—meski lewat sebatang rokok.
Amsakar masih seperti dulu. Dan mungkin, di zaman seperti ini, itu adalah kabar baik yang perlu disampaikan.
Penulis : IZ

















