Pekajang: Jejak Sejarah Pulau di Bawah Naungan Riau-Lingga

- Publisher

Jumat, 20 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pulau Pekajang. Foto: Istimewa

Pulau Pekajang. Foto: Istimewa

INIKEPRI.COM – Pekajang, sebuah pulau kecil yang terletak di bawah Pulau Singkep, menyimpan jejak sejarah panjang yang sering luput dari perhatian publik. Pulau ini bukan sekadar gugusan daratan di lautan luas, melainkan saksi bisu dari masa kejayaan Kesultanan Riau-Lingga dan interaksinya dengan kekuatan kolonial Belanda.

Dalam rentang waktu antara tahun 1748 hingga awal abad ke-20, Pulau Pekajang tercatat secara resmi dalam sejumlah perjanjian antara pihak VOC/Hindia Belanda dan Kesultanan Riau. Hal ini dipertegas dalam peta-peta kolonial, seperti Peta Riaow (Rijau) en Lingga Archipel dan Residentie Riouw En Onderhoorigheden Blad: 1 Tahun 1922, Afdelling Toedjoh. Peta-peta ini tidak hanya menggambarkan posisi geografis Pekajang, tetapi juga mencerminkan pengakuan administratif Belanda terhadap wilayah kekuasaan kerajaan Melayu tersebut.

Menurut Dedi Arman, peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Pulau Pekajang merupakan bagian dari wilayah Kerajaan Lingga Riau dan masuk dalam struktur pemerintahan tradisional sejak masa itu. Bukti-bukti sejarah yang kuat menunjukkan kesinambungan identitas Pekajang sebagai bagian dari Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau saat ini.

BACA JUGA:  Kepala Kemenag Lingga Lepas Jamaah Umrah

Asal Usul Nama dan Jejak Budaya

Nama Pekajang berasal dari kata “kajang”, yaitu tikar dari daun nipah yang dianyam, digunakan sebagai pelindung atau atap perahu. Dalam perjalanan panjang antara Daik (ibukota Kesultanan Lingga) dan Pekajang, penduduk lokal sering menggunakan kajang untuk melindungi diri dari hujan dan panas selama berlayar berhari-hari. Aktivitas “berkajang” inilah yang melahirkan nama Pekajang, yakni tempat atau pulau tujuan dari pelayaran tersebut.

Pulau ini juga dikenal dengan nama lain: Cebia. Nama ini diyakini berasal dari sebuah kapal Belanda bernama Cebia yang pernah kandas di wilayah tersebut. Namun dalam dokumen-dokumen peta kolonial, Belanda lebih suka menyebutnya sebagai bagian dari Pulau Tujuh, merujuk pada gugusan tujuh pulau kecil yang mengelilingi Pekajang.

BACA JUGA:  Cen Sui Lan Sosialisasikan Program BSPS hingga Beasiswa PIP di Lingga

Pemerintahan Tradisional dan Pusaka Sultan

Pada masa kejayaan Kesultanan Riau-Lingga, Pekajang diperintah oleh seorang kepala suku bernama Encek Diah. Sebagai bentuk pengakuan atas kepemimpinannya, Sultan menghadiahkan pusaka berupa pedang berkepala naga dan sepasang tombak berambu. Kedua senjata pusaka ini hingga kini masih dijaga oleh keturunan Encek Diah, menjadi simbol legitimasi dan warisan adat yang tak ternilai.

Dalam struktur pemerintahan awal kemerdekaan Republik Indonesia, Pekajang berstatus sebagai desa definitif di bawah Kecamatan Lingga. Desa ini masih menganut sistem kebatinan, yaitu kepemimpinan desa oleh seorang tokoh adat yang disebut Batin. Tradisi ini mencerminkan keberlanjutan sistem sosial budaya Melayu yang mengakar kuat di wilayah pesisir.

Beberapa nama pemimpin adat dan kepala desa Pekajang yang tercatat dalam sejarah antara lain:

  • Batin Encik Idris (1945 – 1 Desember 1953)
  • Batin Dul Ali (1 Desember 1953 – 1 November 1964)
  • Batin Dul Said (1 November 1964 – 16 Juni 1975)
  • Kepala Desa Bujang Ayub (16 Juni 1975 – 25 Februari 1999)
  • Pjs Amin Komeng (25 Februari 1999 – 11 Juli 2003)
  • Kepala Desa Kamis (11 Juli 2003 – 1 Desember 2003)
  • Pjs Siman dan Abdul Sadar (setelah 2003)
BACA JUGA:  Personel Polsek Daik Lingga Amankan Kelenteng Cetya Loka Santi, Kelenteng Yen Tian Santi dan Kelenteng Cetia Beringin Saat Perayaan Imlek 2025

Warisan yang Perlu Dijaga

Seiring waktu, modernisasi dan perubahan administratif mungkin telah mengaburkan sebagian besar memori kolektif masyarakat terhadap peran penting Pekajang dalam sejarah Riau-Lingga. Namun jejak sejarah ini tetap hidup dalam bentuk cerita rakyat, pusaka leluhur, dan catatan peta kolonial.

Mengangkat kembali kisah Pekajang bukan hanya soal nostalgia masa lalu, tetapi juga soal penghargaan terhadap identitas lokal dan kontribusinya terhadap mozaik sejarah nasional.

Penulis : RBP

Editor : IZ

Berita Terkait

Dari Daik ke OMI Provinsi, Empat Siswa MTs Aqidatunnajin Bawa Harapan Madrasah
Unik! Dua Pasang Pengantin Akad Nikah di Atas Perahu LANTERA di Lingga
Toreh Prestasi di OMI 2026, Empat Siswa MTs Aqidatunnajin Wakili Lingga ke Tingkat Provinsi
Karhutla Lingga Meluas 12 Hektare, Lahan Gambut dan Angin Kencang Jadi Kendala
Dari Matematika hingga IPS, 9 Murid MTsN Lingga Unjuk Kemampuan di OMI 2026
10 Siswa MTs Aqidatunnajin Daik Terima Beasiswa BAZNAS Lingga
Semarak HUT ke-81 RI, MTsN Lingga Gelar E-Sport Football Cup Antar Kelas
Cek Kesehatan hingga Vaksin HPV, MIN Lingga Gelar BIAS Bersama Puskesmas Dabo Lama
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 06:45 WIB

Dari Daik ke OMI Provinsi, Empat Siswa MTs Aqidatunnajin Bawa Harapan Madrasah

Kamis, 17 September 2026 - 11:10 WIB

Unik! Dua Pasang Pengantin Akad Nikah di Atas Perahu LANTERA di Lingga

Senin, 14 September 2026 - 08:58 WIB

Toreh Prestasi di OMI 2026, Empat Siswa MTs Aqidatunnajin Wakili Lingga ke Tingkat Provinsi

Minggu, 13 September 2026 - 15:36 WIB

Karhutla Lingga Meluas 12 Hektare, Lahan Gambut dan Angin Kencang Jadi Kendala

Rabu, 9 September 2026 - 06:17 WIB

Dari Matematika hingga IPS, 9 Murid MTsN Lingga Unjuk Kemampuan di OMI 2026

Berita Terbaru