INIKEPRI.COM – Kamis siang, 19 Juni 2025, di bawah langit Tanjung Uncang yang menggantung awan, suara klakson bersahutan seperti biasa. Tak ada yang menyangka, siang itu, sebuah momen kecil akan menggugah kesadaran banyak orang tentang arti kehadiran seorang pemimpin.
Di simpang lampu merah Tunas Regency, seorang pria paruh baya bernama Awod—pengendara motor sekaligus pengangkut air galon keliling—terlibat kecelakaan. Tubuhnya terjatuh di sisi jalan, berdarah di bagian wajah. Spion besi diduga menghantam pelipisnya cukup keras. Galon-galon tumpah, helm terlempar, dan kerumunan mulai terbentuk. Orang-orang mulai panik. Beberapa mencoba menolong, tapi tak tahu harus berbuat apa.
Lalu dari kejauhan, sebuah mobil dinas berplat merah melambat. Di dalamnya, Wali Kota Batam sekaligus Ex Officio Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, baru saja pulang dari rumah duka di Sagulung. Ia baru saja melayat seorang anak 12 tahun, Muhammad Alif, yang meninggal dunia karena sakit. Dalam kondisi emosional itu, takdir membawanya tepat di hadapan duka lain—yang tak bisa ia abaikan.
Tanpa pikir panjang, Amsakar memberi instruksi: berhenti.
Ia turun. Tidak dengan kerumitan protokol. Tidak dengan ajudan yang membentangkan jalan. Ia turun dengan cepat, berjalan menembus kerumunan warga. Kemeja putihnya berkibar ditiup angin, tangan kirinya terulur, dan pandangannya lurus tertuju pada korban yang terduduk lemas di atas motor.
Tanpa banyak kata, ia mendekat. Menyentuh punggung korban. Mendengarkan dengan seksama suara warga yang menjelaskan kronologi. Bahkan dalam foto yang tersebar luas di media sosial, tampak ia benar-benar membungkuk, merendahkan tubuhnya di hadapan luka yang nyata.
Tak ada podium. Tak ada pidato. Hanya seorang pemimpin yang—di tengah segala tugas kenegaraan dan jadwal yang padat—memilih untuk hadir di saat paling dibutuhkan.
Amsakar segera menghubungi aparat. Ia meminta evakuasi korban dilakukan secepat mungkin. Awod dibawa ke RSUD Embung Fatimah dan mendapat penanganan di ruang ICU. Aksi sigap itu disaksikan langsung warga sekitar, yang nyaris tak percaya: seorang wali kota datang, bukan untuk meresmikan, tapi untuk menyelamatkan.
Ia datang bukan karena sorotan, melainkan karena suara nurani yang memanggil. Tak ada juru bicara yang lebih dulu tiba, tak ada kamera siaga menunggu momen. Yang ada hanyalah langkah cepat seorang pemimpin yang melihat rakyatnya jatuh—dan memilih untuk berhenti.
Bagi Amsakar, kehadiran bukanlah bagian dari agenda. Tapi kewajiban yang lahir dari rasa kemanusiaan.
Ia tak butuh disambut. Ia tak butuh dianggap “pahlawan”. Ia hanya butuh memastikan satu hal: Bahwa tak seorang pun dibiarkan sendiri saat terluka.
Dalam filosofi kepemimpinan yang agung, pemimpin bukanlah mereka yang hanya duduk di atas, tapi mereka yang bersedia membungkuk—bukan untuk menunjukkan kuasa, tapi untuk mengulurkan tangan.
Amsakar hari itu, bukan hanya seorang wali kota. Ia adalah wajah dari harapan bahwa kekuasaan masih bisa bersifat welas asih. Dan bahwa, terkadang, membungkuk jauh lebih mulia daripada berdiri tegak.
Peristiwa ini mungkin hanya detik-detik singkat dalam hidup Amsakar. Tapi bagi Awod, dan bagi masyarakat yang menyaksikan, itu adalah detik yang menyelamatkan. Dan untuk kota yang tumbuh pesat seperti Batam, kepemimpinan seperti itu menjadi semacam pengingat: bahwa pemimpin terbaik bukan yang berdiri di atas rakyatnya, tapi yang berani merunduk di tengah luka mereka.
Kemeja putih Amsakar mungkin tak bernoda hari itu, tapi ia telah menyentuh tanah—tanpa takut kotor. Dan itu adalah simbol: bahwa dalam dirinya, jabatan tidak menghalangi empati, dan kuasa tidak membunuh nurani.
“Kita tidak memilih pemimpin untuk memimpin dari balik meja. Kita memilih mereka agar tak berpaling saat rakyatnya terluka.” — Seorang warga di lokasi kejadian
Kini Awod Telah Tiada, Tapi Kisahnya Tetap Hidup
Diperbarui pada Minggu (22/6), 17:14 WIB
Kini, Awod telah tiada. Ia telah kembali ke pangkuan Ilahi setelah perjuangan sunyi melawan luka yang tak hanya menggores tubuh, tapi juga mengguncang hati banyak orang. Perih yang terlalu dalam untuk disuarakan itu kini telah usai. Namun jejak langkahnya—di atas aspal panas, di balik beban galon air yang ia pikul saban hari demi menghidupi keluarganya—akan terus membekas di ingatan kita.
Ia mungkin hanya satu dari ribuan rakyat kecil yang setiap hari bertaruh nyawa di jalanan demi sesuap nasi. Tapi pada hari itu, takdir mempertemukannya dengan sosok yang tak hanya menjabat sebagai Wali Kota Batam, tetapi juga hadir sebagai manusia yang mendengar panggilan nurani: Amsakar Achmad.
Di simpang Tunas Regency yang riuh, Amsakar memilih berhenti. Ia turun dari kendaraan, menembus kerumunan, dan membungkuk di hadapan luka yang belum dikenalnya. Ia tidak datang untuk meresmikan, tidak juga untuk memberi pidato. Ia datang untuk merengkuh sesama manusia yang tengah jatuh. Sebab bagi Amsakar, kepemimpinan bukan soal jabatan, melainkan soal keberanian untuk hadir saat orang lain mungkin memilih untuk melintas.
Setelah dievakuasi dengan sigap ke RSUD Embung Fatimah, Awod langsung mendapat penanganan intensif di Unit Gawat Darurat. Ia mengalami luka berat di bagian kepala dan mata. Tim medis sempat merencanakan operasi pada Jumat (20/6), namun takdir berkata lain. Kondisinya terus menurun, hingga pada Sabtu dini hari (21/6), ia mengembuskan napas terakhir dalam keheningan yang menyesakkan.
“Uwak saya dimakamkan besok,” ujar Ananda, keponakan korban, singkat namun sarat duka.
Pihak RSUD pun membenarkan kabar itu. Humas rumah sakit, Elin, menyampaikan bahwa Awod datang dalam kondisi tidak sadar dan langsung dirawat intensif, namun luka yang terlalu dalam membuat tubuhnya tak lagi mampu bertahan.
Kabar kepergian Awod sontak mengguncang warga. Terutama mereka yang sempat menyaksikan langsung kepedulian seorang wali kota yang turun tangan tanpa keraguan, di tengah lalu lintas yang ramai dan hiruk pikuk kota.
Tak ketinggalan, Amsakar Achmad sendiri menyampaikan duka yang mendalam atas kepergian Awod.
“Saya sungguh berduka. Saat itu saya melihat langsung beliau terluka dan kami semua berharap bisa menyelamatkan. Ternyata Allah berkehendak lain,” ujarnya kepada INIKEPRI.COM
“Beliau adalah pejuang kehidupan. Dalam diamnya, beliau mengajarkan kita tentang arti kerja keras dan ketabahan. Semoga Allah SWT memberi tempat terbaik untuk beliau dan menguatkan hati keluarga yang ditinggalkan.”
Ia mengaku, peristiwa ini meninggalkan jejak emosional yang kuat dalam dirinya. Bayangan wajah Awod yang masih sempat membuka mata, meski penuh luka dan lemah, masih terpatri dalam benaknya.
“Saya tidak akan pernah lupa momen itu. Di antara deru kendaraan yang melintas cepat, saya melihat seorang rakyat yang sedang berjuang. Dan saya tahu, saat itulah seorang pemimpin diuji: bukan untuk berdiri tinggi, tapi untuk membungkuk dan mengulurkan tangan,” lanjut Amsakar.
Kini, simpang Tunas Regency tak hanya menjadi tempat lalu lintas kendaraan, tapi juga titik lahirnya pelajaran besar tentang kepedulian dan makna kepemimpinan. Bahwa pemimpin sejati bukan yang selalu berdiri di podium, tetapi yang berani menjejak tanah, merunduk, dan hadir untuk rakyatnya.
Langit Tanjung Uncang masih menggantung awan. Jalan itu masih dilalui ratusan kendaraan setiap hari. Tapi satu simpang kini menyimpan cerita tentang luka, kehadiran, dan empati yang tak akan pudar oleh waktu.
Selamat jalan, Awod. Langkahmu mungkin telah berhenti—Tapi maknanya akan terus berjalan bersama kami.
Penulis : IZ

















