Heboh #BoikotTrans7, Inilah Profil Lengkap Pesantren Lirboyo yang Jadi Kebanggaan NU

- Publisher

Rabu, 15 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pesantren Lirboyo. Foto: Istimewa

Pesantren Lirboyo. Foto: Istimewa

INIKEPRI.COM – Nama Pondok Pesantren Lirboyo belakangan ini kembali mencuri perhatian publik.

Salah satu pesantren tertua dan terbesar di Indonesia ini mendadak viral usai tayangan di stasiun televisi nasional dianggap melecehkan tradisi santri dan kiai.

Namun, di balik kehebohan tersebut, ada sejarah panjang dan nilai luhur yang membuat Lirboyo begitu dihormati di dunia pesantren.

Sejarah Pondok Pesantren Lirboyo

Didirikan sekitar tahun 1910 Masehi oleh KH. Abdul Karim atau yang akrab disapa Mbah Manab, Pondok Pesantren Lirboyo berlokasi di Desa Lirboyo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur.

Pada masa itu, kawasan Lirboyo dikenal “angker” dan rawan kriminal. Mbah Manab kemudian mendirikan surau kecil sebagai tempat mengaji, yang berkembang menjadi pesantren besar tempat ribuan santri menimba ilmu agama.

Kini, Lirboyo dikenal sebagai pesantren salafiyah (tradisional) terbesar di Jawa Timur. Sistem pendidikannya fokus pada pengajaran kitab kuning, sorogan, bandongan, serta pendidikan akhlak dan adab terhadap guru (kiai).

BACA JUGA:  bjb WideScreen Expendables 4 di Gandaria City Jakarta Disambut Meriah Nasabah bank bjb

Pusat Pendidikan Islam Tradisional

Selama lebih dari satu abad, Pondok Pesantren Lirboyo konsisten mempertahankan tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah, yang juga menjadi basis kuat Nahdlatul Ulama (NU).

Selain pendidikan agama, Lirboyo memiliki banyak unit dan cabang seperti HM Al-Mahrusiyah, Al-Ihsan, dan Darussalam, dengan total santri mencapai puluhan ribu dari seluruh Indonesia.

Pesantren ini telah melahirkan banyak ulama dan tokoh bangsa, di antaranya KH. Mahrus Aly, KH. Idris Marzuqi, dan kini diasuh oleh KH. Muhammad Anwar Manshur.

Viral karena Tayangan Trans7

Lirboyo menjadi sorotan setelah muncul dalam program “Xpose Uncensored” yang tayang di Trans7 pada Senin (13/10/2025).

Dalam tayangan itu, beberapa adegan menggambarkan kehidupan santri dengan cara yang dianggap tidak proporsional dan menyudutkan pesantren, seperti cuplikan santri berjalan jongkok mendekati kiai dan narasi yang dinilai tendensius.

BACA JUGA:  Suami Tak di Rumah, Istri Sering Main Kuda-kudaan dengan Pria Idaman Lain

Tak butuh waktu lama, tagar #BoikotTrans7 pun menggema di media sosial X (Twitter), Instagram, dan TikTok. Ribuan warganet, alumni, serta pengasuh pesantren mengecam tayangan tersebut karena dianggap menyimpang dari nilai dan konteks budaya pesantren.

Respons Publik dan Permintaan Maaf Trans7

Gelombang protes dari masyarakat dan Himpunan Alumni Santri Lirboyo (HIMASAL) memaksa pihak Trans7 untuk mengeluarkan permintaan maaf resmi.

Mereka mengakui adanya “keteledoran” dalam proses penyuntingan dan berjanji akan lebih berhati-hati dalam menayangkan konten terkait lembaga keagamaan di masa depan.

Meski permintaan maaf sudah disampaikan, banyak pihak menilai kasus ini perlu menjadi pelajaran penting bagi media massa tentang sensitivitas budaya pesantren — di mana penghormatan terhadap guru (kiai) bukan bentuk penindasan, melainkan simbol adab dan akhlak mulia.

BACA JUGA:  Baru Buka, Sekolah ini Langsung Tutup Karena Guru Positif Corona

Lirboyo, Antara Tradisi dan Tantangan Zaman

Di tengah derasnya arus modernisasi, Pondok Pesantren Lirboyo tetap bertahan sebagai benteng moral dan pendidikan Islam klasik.

Tradisi khidmah (pengabdian santri kepada kiai) yang sering disalahpahami justru menjadi fondasi utama pembentukan karakter santri yang berakhlak dan tawadhu’.

Dari desa kecil yang dulu gelap, kini Lirboyo telah menjadi mercusuar keilmuan Islam yang memancarkan cahaya bagi ribuan santri di seluruh Nusantara.

Kesimpulan

Kontroversi tayangan Trans7 memang membuat Pondok Pesantren Lirboyo viral, namun pada sisi lain, peristiwa ini kembali mengingatkan publik tentang betapa pentingnya pesantren dalam menjaga warisan budaya, moral, dan spiritual bangsa.

Lirboyo bukan sekadar tempat belajar agama — ia adalah simbol ketulusan, adab, dan perjuangan yang telah hidup lebih dari satu abad di tanah Jawa.

Penulis : IZ

Berita Terkait

29 Mahasiswa Batam Kuliah di ITB Lewat Beasiswa Pemko, Firmansyah Terima Apresiasi
Natuna Siapkan Kolam Renang Rp11,8 Miliar untuk POPDA Kepri 2028
Menteri Pangan dan Kepala BP Batam Dorong Kompetensi Jurnalis, Ajak Pers Kawal Kemajuan Daerah dan Agenda Pembangunan Nasional
Bupati Cen Sui Lan Libatkan Kejari dalam Pembenahan Tata Kelola Aset Natuna
Li Claudia Tinjau Kesiapan 512 Titik PJU dan Serah Terima ROW 30 Melcem, BP Batam Perkuat Infrastruktur Jalan
Pansus DPRD Batam Mulai Bahas Revisi Perda Ketertiban Umum, Anwar Anas Buka Ruang Aspirasi Publik
Bupati Cen Sui Lan Sambut Pangdam XXV/SMR di Natuna, Kesiapan Batalyon Gardapati Jadi Perhatian
Dukung Kebutuhan Data Centre, Citramas Group Investasi Rp 600 Miliar Bangun SWRO Kabil

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 07:29 WIB

29 Mahasiswa Batam Kuliah di ITB Lewat Beasiswa Pemko, Firmansyah Terima Apresiasi

Jumat, 6 November 2026 - 07:07 WIB

Natuna Siapkan Kolam Renang Rp11,8 Miliar untuk POPDA Kepri 2028

Kamis, 5 November 2026 - 13:10 WIB

Bupati Cen Sui Lan Libatkan Kejari dalam Pembenahan Tata Kelola Aset Natuna

Kamis, 5 November 2026 - 12:44 WIB

Li Claudia Tinjau Kesiapan 512 Titik PJU dan Serah Terima ROW 30 Melcem, BP Batam Perkuat Infrastruktur Jalan

Kamis, 5 November 2026 - 12:22 WIB

Pansus DPRD Batam Mulai Bahas Revisi Perda Ketertiban Umum, Anwar Anas Buka Ruang Aspirasi Publik

Berita Terbaru