ADC Amsakar: Kisah Loyalitas Ridhian WR & Syahibul Aziz yang Tak Pernah Retak

- Admin

Rabu, 19 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di tengah hiruk-pikuk Monas pasca pelantikan kepala daerah se-Indonesia pada Februari lalu, Wali Kota Batam Amsakar Achmad merangkul dua sosok yang diam-diam memikul beban harian di belakang layar: Syahibul Aziz dan Ridhian WR. Sebuah jeda singkat setelah pelantikan, ketika perjalanan panjang mereka terasa sepadan. Foto: INIKEPRI.COM

Di tengah hiruk-pikuk Monas pasca pelantikan kepala daerah se-Indonesia pada Februari lalu, Wali Kota Batam Amsakar Achmad merangkul dua sosok yang diam-diam memikul beban harian di belakang layar: Syahibul Aziz dan Ridhian WR. Sebuah jeda singkat setelah pelantikan, ketika perjalanan panjang mereka terasa sepadan. Foto: INIKEPRI.COM

INIKEPRI.COM – Menjadi ADC (aide de camp) sering dianggap profesi yang berdiri di pinggir panggung. Padahal justru di pinggir panggung itulah denyut kekuasaan paling sunyi terdengar.

Sebagai seorang ADC, jabatan ini tak sekedar sebuah profesi, namun juga memyangkut sebuah kesetiaan. Jenis kesetiaan yang tidak dipamerkan, namun dirawat dalam diam.

Di Batam, dua nama telah lama berdiri di ruang senyap itu, Ridhian WR dan Syahibul Aziz, figur yang setengah langkah di belakang Amsakar Achmad, namun sepenuh langkah mengiringi perjalanan politiknya.

Mereka bukan sekadar ajudan. Mereka adalah saksi dan sekaligus bagian dari kisah panjang naik-turunnya seorang Amsakar Achmad yang kini menjadi Wali Kota Batam.

Dan seperti halnya kesetiaan, mereka tidak meminta tepuk tangan. Tapi jejak mereka jelas, meski jarang disebut.

ADC: Profesi Tanpa Sorotan, tapi dengan Kedekatan yang Tak Tergantikan

Dalam birokrasi Indonesia, posisi ADC (Ajudan) adalah paradoks: tidak memiliki struktur formal yang megah, namun menyimpan kedekatan yang tak bisa dipertukarkan. Mereka bukan juru bicara, bukan pejabat protokol, bukan pejabat eselon.

Tetapi mereka adalah penjaga ritme, pembaca situasi, sekaligus orang pertama yang menanggung beban ketika keadaan menjadi rumit.

ADC adalah mereka yang melihat pejabat dalam dua wajah: yang dilihat publik, dan yang tidak.

Contoh paling jelas terlihat pada semasa Joko Widodo menjabat sebagai Presiden RI. Publik mengenal dua sosok yang hampir tak pernah terpisah darinya, yaitu: Kompol Syarif Muhammad Fitriansyah dan Mayor Teddy Indra Wijaya. Publik pun menjuluki mereka “Upin dan Ipin”, bukan karena candaan, tetapi karena keduanya sedekat bayangan Jokowi.

Mereka hadir di saat Jokowi terbang dini hari, ketika mendadak harus berpindah kota, atau ketika protokol negara berubah dalam hitungan menit. Keduanya memberi gambaran bahwa kedekatan dengan kekuasaan bukan soal keistimewaan, melainkan soal kepercayaan yang dibangun dari kesetiaan tanpa banyak suara.

Dan pola itu pula yang terlihat di Batam, pada dua alumnus IPDN, se-letting 2017, yang melangkah bersama Amsakar Achmad.

Ridhian WR (kiri) dan Syahibul Aziz (kanan) berfoto bersama Wali Kota Batam Amsakar Achmad. Keduanya merupakan ADC yang mendampingi Amsakar sejak menjabat Wakil Wali Kota, sebelum akhirnya dipercaya menempati jabatan baru di Pemko Batam. Foto: INIKEPRI.COM

Ridhian WR & Syahibul Aziz: Dua Nama dalam Lingkaran yang Tak Pernah Kosong

Untuk memahami loyalitas keduanya, perlu memahami satu hal: mereka bukan baru satu atau dua tahun mendampingi Amsakar. Mereka melewati fase paling rapuh dalam perjalanan politik Amsakar, yaitu masa ketika ia masih “hanya” Wakil Wali Kota, dan kemudian harus melewati kontestasi yang penuh tarik-menarik kekuatan.

Baca Juga :  Hadir Grand Opening Kantor Imago Interior, Amsakar: Dorong Pertumbuhan Bisnis dan Investasi di Kota Batam

Kala suasana politik mengabur, mereka tidak mundur. Ketika langkah menjadi berat, mereka tetap berjalan. Ketika ada hari-hari tanpa sorotan, mereka justru terlihat paling tenang.

Ridhian dan Aziz, dua pegawai muda birokrasi, mengambil peran yang tidak pernah ditawarkan di buku panduan ASN: menjadi sandaran kepercayaan bagi seorang pejabat.

Masyarakat Batam mengenal mereka bukan karena pidato atau panggung, tetapi karena kehadiran yang nyaris tak pernah absen.

Saat Air Mata Menjadi Bahasa yang Paling Jujur

Februari 2025 menjadi salah satu hari terpenting dalam perjalanan mereka. Hari itu, di Istana Negara, bersamaan dengan kepala daerah se-Indonesia lainnya, Amsakar Achmad dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai Wali Kota Batam.

Selepas pelantikan itu, dilanjutkan dengan sebuah parade di Monumen Nasional (Monas), disitu tangis keduanya pecah kala memeluk “Sang Bos” Amsakar Achmad. Momen itu sempat diabadikan, dan dua buah video berdurasi kurang dari se-menit itu viral di berbagai platform media sosial.

Bukan karena kehebohan, tapi karena ketulusan yang terpancar. Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya momen emosional. Tapi bagi keduanya, itu adalah puncak dari perjalanan panjang yang tak selalu terang.

Mereka menyaksikan hari-hari ketika Amsakar berdiri sendirian menghadapi ketidakpastian politik. Mereka menyaksikan kampanye, tekanan, kegagalan, kemenangan, dan segala yang tak pernah masuk ke dalam kamera wartawan.

Di tengah keramaian Monas, dua ajudan itu akhirnya melepaskan segala rasa yang tertahan. Ridhian WR dan Syahibul Aziz memeluk Amsakar Achmad, pemimpin yang mereka dampingi sejak masa-masa paling sunyi. Tangis yang pecah itu bukan sekadar haru, melainkan bahasa paling jujur dari perjalanan panjang yang telah mereka lalui bersama. Foto: INIKEPRI.COM

Dan pada hari pelantikan itu, air mata keduanya menjadi bukti bahwa ada sisi manusiawi dalam kekuasaan: loyalitas yang tidak dibuat-buat.

Seorang ASN muda yang menyaksikan video itu sempat menulis di media sosial: “Mereka menangis bukan karena jabatan Amsakar tinggi, tapi karena mereka ikut menjalani jalan panjang menuju hari itu.”

Begitulah kerja kesetiaan: diam, tapi terasa.

Profil Lengkap: Ridhian WR

Ridhian Wahyu Rizqy, lahir dan besar di Batam, adalah potret birokrat muda yang ditempa di lapangan. Tidak ada loncatan instan; semua ia jalani berjenjang.

Baca Juga :  Pendaftaran Seleksi PPIH 2025 Dibuka: Inilah Cara Daftar dan Persyaratannya

Sejak kecil, Ridhian tumbuh sebagai anak Batam yang ditempa oleh lingkungan sederhana namun penuh nilai kedisiplinan. Perjalanannya dimulai dari bangku TK, sebelum kemudian melanjutkan ke SDN 008 Sagulung, tempat ia pertama kali belajar tentang arti tanggung jawab dan kerja keras.

Memasuki usia remaja, dunia Ridhian melebar ketika ia menempuh pendidikan di MTs PPMI Assalaam, Sukoharjo. Jauh dari rumah, ia belajar mandiri dan mengenal ritme pendidikan pesantren yang ketat. Sepulang dari Jawa, ia kembali ke Batam dan menyelesaikan sekolah menengah di SMAN 1 Kota Batam, sekolah yang membentuk kecerdasan sosialnya sekaligus mengasah mental kepemimpinannya.

Jalur pendidikannya mencapai puncak ketika ia diterima di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) dan lulus pada 2017. Di sinilah karakter birokrat muda itu terbentuk: disiplin, terstruktur, dan paham betul makna pengabdian.

Pendidikan:

  • TK
  • SDN 008 Sagulung
  • MTs PPMI Assalaam, Sukoharjo
  • SMAN 1 Kota Batam
  • IPDN, Lulus 2017

Karier: 

  • CPNS Kecamatan Sungai Beduk (2017–2018)
  • PNS Pemkab Kepulauan Meranti (2018–2021)
  • Staf BKD
  • Pj. Kades Permai, Rangsang Barat
  • Staf Disdukcapil
  • Staf Kecamatan Batu Aji (2021)
  • Kasi Trantib Kelurahan Temoyong, Bulang (2021–2025)
  • Kasubbid Penagihan & Pemeriksaan Pajak Daerah II, Bapenda Batam (2025–sekarang)

Setelah Amsakar dilantik sebagai wali kota, karier Ridhian melesat, bukan karena kedekatan semata, tetapi karena integritas yang sudah lama ia perlihatkan.

Namun yang menarik, meski sudah menjabat posisi strategis, ia tetap dipercaya sebagai ADC. Sebuah hubungan yang lebih menyerupai keluarga daripada sekadar fungsi birokrasi.

Profil Lengkap: Syahibul Aziz

Syahibul Aziz menempuh masa kecilnya dengan ritme yang lebih sunyi, namun justru di sanalah kekuatannya terbangun. Ia memulai pendidikan dari TK Tunas Bangsa di Lubuk Baja, lalu tumbuh dalam suasana sekolah dasar di SDN 010 Lubuk Baja, lingkungan yang membentuk kebiasaannya bekerja tenang tanpa banyak bicara.

Masa SMP-nya di SMPN 3 Batam menjadi ruang di mana ia semakin mengenal dirinya: bukan pencari keramaian, tetapi penyelesai masalah yang diam. Ketika berlanjut ke SMAN 4 Batam, sikapnya yang stabil membuatnya dikenal sebagai sosok yang dapat diandalkan.

Keputusan menempuh pendidikan di IPDN membawanya pada latar disiplin yang sama dengan Ridhian. Ia lulus pada 2017, meninggalkan jejak sebagai kadet yang mungkin tidak berisik namun selalu konsisten. Berjalannya waktu, Aziz kembali menambah kapasitas diri dengan meraih gelar Magister Manajemen di Universitas Riau Kepulauan pada 2025, sebuah langkah yang mencerminkan kedewasaan profesional dan ambisinya yang senyap.

Baca Juga :  Mimpi Besar dari Batam: Sejarah dan Transformasi Bandara Hang Nadim

Pendidikan: 

  • TK Tunas Bangsa, Lubuk Baja
  • SDN 010 Lubuk Baja
  • SMPN 3 Kota Batam
  • SMAN 4 Kota Batam
  • IPDN, Lulus 2017
    Magister Manajemen – Universitas Riau Kepulauan (2025)

Karier: 

  • Honor Satpol PP Kota Batam (2012)
  • CPNS Kecamatan Lubuk Baja (2017–2018)
  • PNS Kementerian Dalam Negeri – Pengasuh IPDN Jatinangor (2018–2021)
  • Staf Kecamatan Batam Kota (2021)
    ADC + Kasi Trantib Kelurahan Bulang Lintang (2021–2025)
  • Kepala Bidang Mutasi & Promosi BKPSDM Batam (2025–sekarang)

Aziz adalah tipe yang tidak mencari panggung, tetapi justru menjadi figur yang dicari ketika keadaan membutuhkan ketenangan. Ia bukan suara yang keras, melainkan daya tahan yang diam.

Pasca Amsakar Dilantik: Karier Keduanya Melesat

Ada ironi yang indah di sini: dua orang yang selalu berjalan setengah langkah di belakang, justru kini melangkah lebih jauh dari banyak orang seusianya.

Ridhian dilantik lebih dulu, Agustus 2025, sebagai Kasubbid Penagihan & Pemeriksaan Pajak Daerah II Bapenda Batam.

Aziz menyusul Oktober 2025, menjadi Kepala Bidang Mutasi dan Promosi BKPSDM Batam.

Namun menariknya, meski mereka sudah berada di jabatan struktural, Amsakar tetap mempertahankan keduanya sebagai ADC.

Ini bukan keputusan administratif. Ini keputusan emosional. Keputusan seorang pemimpin yang tahu siapa yang bersamanya sejak awal, bukan saat sorotan kamera datang.

Dua Nama yang Berdiri di Ruang Senyap Kekuasaan

Ridhian WR dan Syahibul Aziz mungkin bukan nama yang sering masuk berita. Mereka tidak berceramah, tidak tampil di podium, tidak mencari pengakuan publik.

Namun justru di ruang sunyi itulah mereka membangun kesetiaan.

ADC bukan profesi pencitraan. Ia profesi yang memastikan seorang pemimpin tetap berjalan di saat paling rapuh. Dan di Kota Batam, kesetiaan itu hidup melalui dua nama: Ridhian WR dan Syahibul Aziz.

Mereka mungkin hanya berjalan setengah langkah di belakang. Tapi di sanalah kekuatan sebuah perjalanan sering disembunyikan.

Penulis : IZ

Berita Terkait

25 Tahun DPRD Batam: Kamaluddin Tegaskan, Jalan Pengabdian Tak Pernah Berujung
Tumbuh dalam Doa, Memimpin dengan Hati: Sebuah Refleksi 48 Tahun Mas Kamal
Pertemuan yang Menghangatkan Hati: Raja Mustakim dan Sang Mentor, Datok Rida K Liamsi
Mimpi Besar dari Batam: Sejarah dan Transformasi Bandara Hang Nadim
Kepemimpinan yang Membungkuk di Tengah Luka: Amsakar dan Satu Detik yang Menyelamatkan
Pelukan, Air Mata, dan Doa: Momen Haru Kepulangan Jemaah Haji Kloter 08 di Batam
Laut Jadi Saksi, Langit Mengamini: Perjalanan Cinta dalam Tugas Mulia Kepala KUA Singkep Barat
1 Desember, Ditjen Imigrasi Terapkan Penerbitan E-Paspor 100 Persen

Berita Terkait

Rabu, 19 November 2025 - 21:42 WIB

ADC Amsakar: Kisah Loyalitas Ridhian WR & Syahibul Aziz yang Tak Pernah Retak

Sabtu, 1 November 2025 - 10:48 WIB

25 Tahun DPRD Batam: Kamaluddin Tegaskan, Jalan Pengabdian Tak Pernah Berujung

Senin, 27 Oktober 2025 - 15:33 WIB

Tumbuh dalam Doa, Memimpin dengan Hati: Sebuah Refleksi 48 Tahun Mas Kamal

Kamis, 28 Agustus 2025 - 13:29 WIB

Pertemuan yang Menghangatkan Hati: Raja Mustakim dan Sang Mentor, Datok Rida K Liamsi

Kamis, 10 Juli 2025 - 06:02 WIB

Mimpi Besar dari Batam: Sejarah dan Transformasi Bandara Hang Nadim

Berita Terbaru

TNI berhasil menyelesaikan pembangunan dua jembatan Bailey di kawasan Jamur Ujung, Kabupaten Bener Meriah, yang berada pada ruas jalan strategis Bireuen – Bener Meriah – Takengon. Foto: TNI AD

Daerah

TNI AD Rampungkan Dua Jembatan Bailey di Bener Meriah

Selasa, 13 Jan 2026 - 14:14 WIB