INIKEPRI.COM – Trauma generasional merupakan luka emosional, psikologis, bahkan fisik yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Bentuknya sering kali tidak kasat mata, namun dampaknya dapat memengaruhi cara seseorang berpikir, berperilaku, hingga membangun hubungan dengan orang lain.
Fenomena ini bukan hanya muncul dari pengalaman pribadi, melainkan juga dari peristiwa besar, tekanan sosial, atau pola pengasuhan yang tidak sehat yang terjadi di masa lalu dan tidak pernah benar-benar terselesaikan.
Luka tersebut kemudian diturunkan kepada anak cucu melalui respons emosional, nilai-nilai keluarga, maupun pola interaksi sehari-hari.
Dalam banyak kasus, keluarga yang pernah mengalami konflik, kemiskinan ekstrem, kekerasan domestik, atau penindasan sosial, cenderung mewariskan rasa cemas, takut, atau ketidakpercayaan kepada generasi berikutnya.
Bahkan, kebiasaan menghindari masalah atau merasa tidak layak bahagia dapat menjadi bagian dari “warisan” tak tertulis yang dibawa turun-temurun.
Dikutip dari praktiqu.com, trauma yang tidak disembuhkan berpotensi membentuk pola perilaku berulang, seperti mudah tersinggung, sulit mempercayai orang lain, hingga kecenderungan memendam emosi.
Pola-pola tersebut sering muncul tanpa disadari karena sudah menjadi sistem yang mengakar dalam keluarga.
Lingkungan pengasuhan yang penuh tekanan emosional dapat membuat seorang anak membawa luka batin hingga dewasa, lalu secara tidak sengaja meneruskannya kepada anak mereka kelak. Inilah yang kemudian membentuk lingkaran trauma yang sulit diputus jika tidak disadari sejak dini.
Trauma generasional juga bisa terjadi dalam konteks sosial dan budaya. Masyarakat yang pernah mengalami penjajahan, konflik bersenjata, atau bencana sosial besar kerap memiliki trauma kolektif yang memengaruhi cara pandang mereka terhadap dunia. Sikap defensif, rasa takut kehilangan, hingga rasa rendah diri terhadap bangsa atau kelompok lain dapat menjadi jejak sejarah yang belum sepenuhnya pulih.
Seiring meningkatnya kesadaran terhadap kesehatan mental, fenomena trauma generasional semakin banyak dibicarakan. Memahaminya menjadi langkah awal untuk memutus rantai luka lama dan menciptakan generasi yang lebih sehat secara emosional.
Penulis : RBP
Editor : IZ

















