INIKEPRI.COM – Di tengah derasnya arus percakapan digital, istilah baru kerap lahir dan cepat menjadi bahasa bersama warganet. Salah satu yang belakangan ramai diperbincangkan adalah “kutukan platypus”. Meski terdengar seperti istilah ilmiah atau mitos seputar hewan eksotis, ungkapan ini sejatinya menyimpan makna sosial yang cukup dalam.
Kutukan platypus digunakan sebagai metafora untuk menggambarkan kondisi seseorang atau bahkan sebuah institusi yang memiliki banyak potensi, kemampuan, dan keunikan, namun justru tidak dianggap unggul atau menonjol dalam satu bidang tertentu. Akibatnya, potensi tersebut kerap tidak dimanfaatkan secara optimal, bahkan disalahpahami oleh lingkungan sekitar.
Istilah ini berakar dari karakter unik platypus, hewan endemik Australia yang sejak awal penemuannya membingungkan dunia ilmu pengetahuan. Platypus memiliki paruh seperti bebek, bertelur layaknya reptil, berbulu seperti mamalia, dan bahkan memiliki racun di tubuhnya. Kombinasi yang tidak lazim ini sempat membuat para ilmuwan Eropa pada abad ke-18 meragukan keasliannya dan mengira hewan tersebut hanyalah hasil rekayasa.
“Platypus adalah simbol makhluk yang sulit dikotakkan. Ia tidak sepenuhnya masuk ke satu kategori yang dikenal,” ujar seorang pengamat budaya populer. “Dari situ lahir analogi bahwa ketika sesuatu terlalu unik dan serba bisa, justru sering dianggap ‘aneh’ atau tidak jelas keunggulan utamanya.”
Dalam kehidupan sosial dan profesional, kutukan platypus kerap dilekatkan pada individu dengan kemampuan lintas bidang. Mereka bisa menguasai banyak hal sekaligus, namun sering dicap tidak fokus, kurang spesialis, atau tidak memenuhi standar konvensional yang mengedepankan satu keahlian dominan. Fenomena ini jamak dialami oleh pekerja generalis, kreator multidisipliner, hingga pelajar dengan minat yang beragam.
Namun, tidak sedikit pula yang memandang istilah ini dari sudut pandang berbeda. Meski disebut sebagai “kutukan”, platypus justru menjadi pengingat bahwa keunikan tidak selalu harus mengikuti pola lama. Di era yang menuntut fleksibilitas, kolaborasi, dan kemampuan beradaptasi, karakter serba bisa bisa menjadi keunggulan tersendiri.
“Kuncinya bukan pada menghilangkan keunikan, tetapi pada cara mengelolanya,” kata seorang konsultan pengembangan diri. “Ketika potensi lintas bidang diarahkan dengan strategi yang tepat, apa yang disebut kutukan platypus justru dapat berubah menjadi kekuatan platypus.”
Seiring meluasnya penggunaan istilah ini di media sosial, kutukan platypus kini tak lagi sekadar jargon internet. Ia menjelma menjadi refleksi tentang bagaimana masyarakat memandang identitas, keunikan, dan potensi manusia di dunia yang masih gemar mengotak-ngotakkan kemampuan.
Penulis : DI
Editor : IZ

















