INIKEPRI.COM – Ada kisah menarik sekaligus mengundang senyum dari perjalanan ibadah haji Wali Kota Batam sekaligus Ex Officio Kepala BP Batam, Amsakar Achmad. Di tengah kekhusyukan menjalani rangkaian ibadah di Tanah Suci, Amsakar ternyata menyimpan cerita unik tentang momen tahallul atau potong rambut usai melempar jumrah.
Bukan sekadar potong rambut biasa, keputusan untuk mencukur habis rambutnya ternyata melalui pergulatan batin yang cukup panjang.
Dalam catatan pribadinya bertajuk Catatan Pelepas Penat, Amsakar mengaku sempat dilanda kebingungan. Ia mempertimbangkan banyak pilihan, mulai dari sekadar memotong rambut sebagai syarat, memendekkannya, atau langsung botak total.
“Setelah melempar jumroh, cukup lama berdiskusi dalam hati terkait tahallul. Apakah hanya potong syarat saja, potong pendek, atau sekalian botak,” tulis Amsakar.
Suasana yang serius itu pun berubah cair dengan candaan khas dirinya. Ia bahkan sempat berseloroh bahwa keputusan tersebut sulit dibahas karena “tidak ada pimpinan DPRD untuk dibawa ke paripurna.”
Di tengah kebimbangannya, dukungan justru datang dari keluarga. Sang istri dan anak-anak disebut terus menggoda dan bertanya kapan dirinya akan botak.
“Papa kapan botaknya?” begitu pertanyaan yang terus ia dengar.
Akhirnya, dengan “mengerahkan segala kekuatan batin”, Amsakar memutuskan mencukur habis rambutnya di Tanah Suci.
Namun drama ternyata belum selesai sampai di situ.
Sesaat setelah melihat pantulan dirinya di cermin, Amsakar mengaku seperti melihat sosok yang berbeda. Penampilan barunya membuat dirinya sendiri sempat tidak percaya.
“Saat di kaca, saya seperti menemukan orang yang berbeda,” ungkapnya.
Meski begitu, Amsakar tetap menikmati momen tersebut sebagai bagian dari perjalanan spiritual yang mendalam selama berhaji. Ia bahkan berseloroh berharap rambutnya segera tumbuh kembali saat pulang ke Batam nanti.
Di balik cerita botak yang mengundang tawa itu, Amsakar juga membagikan banyak pengalaman spiritual lain selama berada di Tanah Suci. Ia merasa segala urusannya dipermudah, mulai dari ada rekan yang menyiapkan kopi, membantu mengambil makanan, hingga kemudahan mendapatkan transportasi menuju Masjidil Haram.
Menurutnya, pengalaman itu semakin menguatkan keyakinannya terhadap filosofi hidup yang selama ini ia pegang.
“Mudahkanlah urusan orang lain, niscaya Allah akan mudahkan urusan kita,” tulisnya.
Tak hanya soal tahallul, Amsakar juga sempat menceritakan pengalaman lucu lainnya selama di Makkah. Salah satunya saat dirinya panik mencari handuk ke seluruh sudut kamar hotel, padahal handuk tersebut ternyata sedang dipakai di pinggang karena terlalu lama mengenakan kain ihram.
Selain itu, ia juga pernah meninggalkan telepon genggam di ruang kecil tempat merokok hotel. Beruntung, saat kembali dicek, ponselnya masih aman di tempat semula.
“Kalau memang hak kita, tak akan ke mana-mana,” tulisnya lagi.
Idul Adha tahun ini memang terasa berbeda bagi Amsakar dan keluarga. Di saat masyarakat Batam merayakan hari raya kurban di kampung halaman, ia justru sedang menjalani puncak ibadah haji di Padang Arafah bersama jutaan umat muslim dunia.
Namun dari Tanah Suci, Amsakar tetap menyampaikan salam dan doa terbaik untuk masyarakat Batam.
“Catatan spiritual yang lain? Tunggu saja saat pulang nanti,” tutupnya.
Penulis : IZ

















