INIKEPRI.COM – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan. Pada perdagangan Kamis (4/6/2026), mata uang Garuda menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), sekaligus mencatatkan posisi terlemah sepanjang sejarah.
Berdasarkan data pasar, kurs dolar AS pada Kamis pagi berada di level Rp18.015 atau menguat sekitar 0,28 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Dalam pergerakan harian, dolar AS bergerak pada kisaran Rp17.937 hingga Rp18.024.
Pencapaian level tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena untuk pertama kalinya rupiah menembus ambang Rp18.000 per dolar AS. Dalam beberapa pekan terakhir, nilai tukar rupiah memang terus melemah dan bergerak mendekati batas psikologis tersebut.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah menguatnya dolar AS di pasar global. Sentimen ketidakpastian ekonomi dunia serta meningkatnya minat investor terhadap aset-aset safe haven turut mendorong penguatan mata uang Negeri Paman Sam.
Sejumlah analis menilai tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh meningkatnya kehati-hatian investor terhadap aset berisiko di negara berkembang. Kondisi tersebut membuat aliran modal cenderung bergerak ke instrumen yang dianggap lebih aman.
Bank Indonesia sebelumnya menegaskan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai instrumen kebijakan moneter serta koordinasi dengan pemerintah. Otoritas moneter juga tetap melakukan pemantauan terhadap dinamika pasar valuta asing domestik.
Tidak hanya terhadap dolar AS, rupiah juga mencatat pelemahan signifikan terhadap dolar Singapura. Untuk pertama kalinya, mata uang Indonesia menyentuh level Rp14.000 per dolar Singapura.
Pada perdagangan 3 Juni 2026, rupiah ditutup di posisi Rp14.001 per dolar Singapura atau melemah sekitar 0,3 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Sepanjang tahun berjalan, rupiah tercatat telah kehilangan sekitar 8,6 persen nilainya terhadap mata uang Negeri Singa tersebut.
Di sisi lain, tekanan juga terjadi di pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok hingga 5,2 persen sebelum akhirnya ditutup melemah 4,1 persen. Sepanjang tahun 2026, IHSG telah terkoreksi sekitar 32 persen.
Pelemahan pasar keuangan nasional dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari kenaikan harga minyak dunia, menyusutnya surplus perdagangan, meningkatnya inflasi, hingga kekhawatiran investor terhadap prospek fiskal dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Data menunjukkan investor asing telah menarik dana lebih dari US$3,2 miliar dari pasar saham Indonesia sepanjang tahun ini. Kondisi tersebut semakin menambah tekanan terhadap pasar keuangan domestik yang saat ini tengah menghadapi tantangan berat dari berbagai faktor global maupun domestik.
Penulis : RP
Editor : IZ

















