INIKEPRI.COM – Kinerja intermediasi perbankan di Provinsi Kepulauan Riau terus menunjukkan tren yang menggembirakan. Hingga April 2026, penyaluran kredit di Kepri tercatat mencapai Rp105,42 triliun atau tumbuh 23,86 persen secara tahunan (year on year/yoy), jauh melampaui rata-rata pertumbuhan kredit nasional yang berada di angka 9,74 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Rony Widijarto, mengatakan capaian tersebut mencerminkan masih kuatnya aktivitas ekonomi di daerah sekaligus meningkatnya kepercayaan pelaku usaha untuk mengembangkan bisnisnya.
“Pertumbuhan kredit yang tetap tinggi menunjukkan fungsi intermediasi perbankan berjalan dengan baik. Ini menjadi indikasi bahwa sektor perbankan masih mampu mendukung kebutuhan pembiayaan dunia usaha maupun masyarakat sehingga roda perekonomian Kepri terus bergerak positif,” ujar Rony, Kamis (25/6/2026).
Ia menjelaskan, pertumbuhan kredit terutama didorong oleh sektor korporasi yang hingga April 2026 mencapai Rp62,07 triliun atau meningkat 37,15 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Menurut Rony, pembiayaan korporasi masih didominasi sektor-sektor produktif yang menjadi penopang utama ekonomi Kepulauan Riau. Sektor transportasi, pergudangan, dan komunikasi menjadi penerima kredit terbesar dengan pangsa 12,65 persen, disusul industri pengolahan sebesar 12,60 persen, serta sektor listrik, gas, dan air sebesar 10,13 persen.
“Komposisi penyaluran kredit ini menunjukkan aktivitas investasi dan ekspansi usaha di sektor-sektor produktif masih berlangsung dengan baik. Kondisi tersebut tentu menjadi sinyal positif bagi pertumbuhan ekonomi daerah,” katanya.
Selain korporasi, penyaluran kredit kepada rumah tangga juga tetap mengalami peningkatan. Hingga April 2026, kredit rumah tangga mencapai Rp29,10 triliun atau tumbuh 7,93 persen secara tahunan, terutama ditopang oleh peningkatan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan kredit multiguna.
Di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), perbankan di Kepri menyalurkan kredit sebesar Rp17,07 triliun atau tumbuh 8,37 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka tersebut tercatat lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit UMKM secara nasional yang cenderung stagnan.
Tak hanya mencatat pertumbuhan yang kuat, kualitas kredit di Kepri juga tetap terjaga. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) berada di level 1,14 persen, dengan rincian NPL korporasi sebesar 1,29 persen, rumah tangga 1,91 persen, dan UMKM sebesar 2,62 persen.
“Pertumbuhan kredit yang tinggi disertai kualitas pembiayaan yang tetap sehat menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi Kepri. Kondisi ini menunjukkan sektor perbankan masih memiliki ruang yang kuat untuk terus mendukung aktivitas ekonomi daerah,” tutur Rony.
Bank Indonesia menilai, kombinasi antara pertumbuhan pembiayaan yang tinggi dan risiko kredit yang tetap terkendali menjadi modal penting bagi Kepulauan Riau untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, meski tantangan ekonomi global dan dinamika perdagangan internasional masih terus berlangsung.
Penulis : RP
Editor : IZ

















