INIKEPRI.COM – Nama besar Raja Ali Haji kembali mendapat pengakuan di tingkat internasional. Pahlawan Nasional asal Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau itu kini diabadikan dalam bentuk patung perunggu di Kompleks Budaya Magtymguly Pyragy Park, Kota Ashgabat, Turkmenistan.
Keberadaan patung Raja Ali Haji menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Kepulauan Riau. Sebab, tokoh sastra, sejarawan, dan ulama Melayu tersebut ditempatkan sejajar dengan para pemikir dan sastrawan ternama dunia seperti William Shakespeare dari Inggris, Johann Wolfgang von Goethe dari Jerman, Dante Alighieri dari Italia, Honoré de Balzac dari Prancis, hingga Rabindranath Tagore dari India.
Patung Raja Ali Haji berdiri di antara 24 patung tokoh literatur dunia yang menghiasi Magtymguly Pyragy Cultural Park Complex, sebuah taman budaya seluas 41 hektare yang berada di kaki Pegunungan Kopetdag, Ashgabat. Kompleks tersebut diresmikan Presiden Turkmenistan Serdar Berdimuhamedov pada 17 Mei 2024 untuk memperingati 300 tahun kelahiran penyair nasional Turkmenistan, Magtymguly Pyragy.
Patung Raja Ali Haji dibuat dari perunggu murni setinggi 3,5 meter dan ditempatkan di atas pedestal marmer putih. Pada bagian bawah patung tercantum keterangan mengenai kontribusinya sebagai sejarawan, teolog, ahli tata bahasa, dan tokoh penting dalam perkembangan bahasa Melayu yang menjadi cikal bakal Bahasa Indonesia.
Pemilihan Raja Ali Haji sebagai salah satu tokoh yang diabadikan di taman budaya tersebut bukan tanpa alasan. Pemerintah Turkmenistan menilai kontribusinya sangat besar dalam pengembangan tata bahasa Melayu melalui karya-karya monumental seperti Gurindam Dua Belas dan berbagai karya kebahasaan lainnya yang berpengaruh dalam perkembangan bahasa di kawasan Nusantara.
Pengakuan internasional ini sekaligus mempertegas posisi Raja Ali Haji sebagai tokoh penting dalam sejarah bahasa dan sastra Melayu yang pengaruhnya melampaui batas-batas geografis Indonesia.

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau juga tengah menyiapkan pembangunan Monumen Tugu Bahasa Nasional dan Museum Bahasa di Pulau Penyengat. Proyek tersebut digagas untuk memperkuat identitas Pulau Penyengat sebagai salah satu pusat perkembangan bahasa Melayu yang kemudian menjadi fondasi Bahasa Indonesia.
Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, sebelumnya menegaskan pembangunan Tugu Bahasa bertujuan mengukuhkan Pulau Penyengat sebagai bagian penting dalam sejarah lahirnya Bahasa Indonesia sekaligus menjadi pusat edukasi dan wisata budaya bertaraf nasional maupun internasional.

Dengan pengakuan yang datang dari luar negeri dan pembangunan Tugu Bahasa di tanah kelahirannya, warisan Raja Ali Haji diharapkan terus hidup serta menjadi inspirasi bagi generasi mendatang dalam menjaga dan mengembangkan bahasa serta kebudayaan Melayu.
Penulis : DI
Editor : IZ

















