INIKEPRI.COM – Ada pertemuan yang datang dengan amarah, tetapi berakhir dengan air mata yang berbeda.
Jumat (11/9/2026), sepasang suami istri datang ke Kantor Urusan Agama (KUA) Bintan Timur dengan hati yang sedang dipenuhi luka dan niat untuk mengakhiri rumah tangga.
Namun, ruang sederhana di KUA Bintan Timur hari itu justru menjadi tempat keduanya kembali melihat persoalan dari sisi yang berbeda.
Pendampingan yang dilakukan staf KUA Bintan Timur, Farida, perlahan membuka ruang komunikasi di antara pasangan tersebut. Bukan sekadar memberikan nasihat, Farida mengajak keduanya memahami kembali arti komunikasi, kesabaran, tanggung jawab, dan kehidupan rumah tangga sebagai sebuah amanah.
Farida memberikan panduan mengenai komunikasi yang efektif agar kesalahpahaman dan konflik dalam rumah tangga dapat dikelola dengan cara yang lebih sehat.
Ia mengingatkan bahwa pernikahan bukan hanya sebuah ikatan administratif, tetapi juga amanah yang membutuhkan kesabaran, keikhlasan, dan kemauan untuk saling memahami.
Dalam pendampingannya, Farida juga mengajak pasangan tersebut melihat kembali pernikahan dari sisi keagamaan.
Pernikahan merupakan bagian dari ibadah. Di dalamnya terdapat hak dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh suami maupun istri.
Pesan itu menjadi salah satu pintu bagi keduanya untuk kembali membuka komunikasi yang sempat tertutup oleh persoalan rumah tangga.
Ketika Anak Menjadi Pertimbangan
Dalam proses pendampingan tersebut, Farida turut mengingatkan pasangan itu untuk mempertimbangkan dampak perpisahan terhadap anak.
Menurutnya, persoalan rumah tangga tidak hanya menyangkut dua orang dewasa. Ada anak yang juga dapat merasakan perubahan besar ketika orang tuanya berpisah.
Anak membutuhkan rasa aman, kasih sayang, dan perhatian dari kedua orang tuanya. Karena itu, keputusan besar dalam rumah tangga perlu dipertimbangkan secara matang, termasuk dampaknya terhadap kehidupan dan perkembangan anak.
Nasihat tersebut kemudian menyentuh sisi emosional pasangan itu.
Air mata pun tak terbendung.
Di tengah suasana haru, keduanya saling membuka hati, memaafkan, dan kembali merajut komunikasi yang sempat renggang.
Niat untuk berpisah perlahan berubah menjadi tekad untuk mempertahankan rumah tangga.
Bukan berarti seluruh persoalan selesai dalam satu pertemuan. Namun, hari itu keduanya memilih satu langkah penting: memberi kesempatan kembali bagi keluarga mereka untuk memperbaiki hubungan.
KUA Bukan Sekadar Urusan Administrasi
Kisah tersebut memperlihatkan sisi lain dari keberadaan KUA di tengah masyarakat.
KUA tidak hanya berkaitan dengan pencatatan pernikahan dan urusan administrasi keagamaan. Di dalamnya juga terdapat ruang pembinaan dan pendampingan keluarga ketika pasangan menghadapi persoalan rumah tangga.
Bagi Farida, komunikasi yang baik, kesabaran, serta penguatan nilai-nilai keagamaan dapat menjadi fondasi penting dalam menjaga keutuhan keluarga.
Peristiwa di KUA Bintan Timur itu akhirnya meninggalkan pesan sederhana: ketika emosi sedang berada di puncak, terkadang yang dibutuhkan bukan keputusan yang tergesa-gesa, melainkan ruang untuk berhenti, mendengar, saling memahami, dan membuka kembali pintu maaf.
Sebab rumah tangga yang sedang retak belum tentu kehilangan seluruh harapan. Ada kalanya, sebuah percakapan yang jujur menjadi awal untuk kembali menemukan jalan pulang.
Penulis : RP
Editor : IZ

















