Bukan nama yang dibangun dalam semalam. Jay tumbuh dari pengalaman, kompetisi, panggung dan malam-malam panjang di Batam.
INIKEPRI.COM — Sebelum nama seorang DJ bisa dengan mudah ditemukan di Instagram, sebelum potongan video penampilan beredar di TikTok, ada cara yang jauh lebih panjang untuk membangun nama di dunia hiburan malam: bermain dari malam ke malam, membaca selera pengunjung, lalu membuat mereka datang kembali.
Diaz Mandaya, yang lebih dikenal sebagai DJ Diaz Jay, menjalani masa itu.
Lahir di Jakarta pada 14 September 1985, DJ Diaz Jay memulai karier sebagai DJ pada 2002 di Step’s Cafe Batam. Dari tempat itulah perjalanan panjangnya dimulai. Dua puluh empat tahun kemudian, namanya masih dikenal di kalangan penikmat musik malam Batam.
Dalam keseharian, ia lebih akrab dipanggil Jay.
Sepanjang perjalanan itu, Jay melewati berbagai klub, pub, lounge dan hotel. Ia mengikuti kompetisi, meraih sejumlah gelar, menjadi bagian dari penampilan sejumlah musisi nasional, mempelajari produksi musik, mengajar calon DJ, menjadi juri, membangun studio hingga ikut mendirikan komunitas DJ.
Yang menarik dari perjalanan tersebut bukan semata panjangnya daftar tempat yang pernah menjadi bagian dari karier Jay. Ia tumbuh bersama perubahan dunia DJ itu sendiri: dari era turntable dan CD, masuk ke teknologi digital, hingga masa ketika media sosial ikut menjadi ruang bagi seorang DJ untuk membangun nama.
Namun, di balik semua perubahan itu, ada satu hal yang tetap ia kerjakan: berdiri di balik turntable dan membaca orang-orang di depannya.
2002: Dari Step’s Cafe, Nama Itu Mulai Dibangun
Tahun 2002 menjadi titik awal perjalanan Jay sebagai DJ.
Saat itu ia menjadi resident DJ di Step’s Cafe Batam. Belum ada Instagram yang bisa digunakan untuk membangun personal branding. Belum ada TikTok untuk menyebarkan potongan penampilan dalam hitungan jam.
Nama seorang DJ dibangun dari tempat ia bekerja dan dari pengalaman orang-orang yang datang mendengarkan permainannya.
Jay menjalani masa tersebut dengan banyak belajar. Hip hop, R&B, house, progressive, Dutch house, funky house hingga break beat menjadi bagian dari musik yang dipelajarinya.
Setiap genre membawa karakter berbeda. Memainkannya tidak cukup hanya dengan mengetahui lagu. Jay mulai memahami bagaimana sebuah lagu ditempatkan, bagaimana perpindahan musik dilakukan, dan bagaimana respons pengunjung menjadi bagian dari permainan seorang DJ.
Dari Step’s Cafe, jam terbang itu mulai terkumpul.
Malam demi malam menjadi pengalaman. Pengalaman kemudian menjadi modal untuk melangkah ke tempat-tempat berikutnya.
Dari Satu Klub ke Klub Lain
Setelah memulai dari Step’s Cafe, perjalanan karier Jay kemudian membawanya ke berbagai tempat hiburan di Batam.
Namanya tercatat dalam perjalanan sejumlah klub, pub, lounge dan hotel, di antaranya The Peak Pub Vista Hotel, Classi Lounge, Pacific Discotheque Pacific Palace Hotel, Egroove Pub Hotel 89, Jurassic Pub Avava Plaza, Fashion Club Ramayana, Lucky Club Discotheque, Sphinx Discotheque & KTV, Vdart Club Novotel Batam, Grand Dragon Batam City Hotel, The Exotic L-Hotel, Double X Pub, serta J&J Club and KTV Windsor Batam.
Setiap tempat membawa pengalaman yang berbeda.

Ada pengunjung yang datang dengan selera musik tertentu. Ada yang sudah mengenal DJ tertentu. Ada pula yang datang tanpa mengetahui siapa yang akan berada di balik booth malam itu.
Dalam situasi seperti itu, kemampuan beradaptasi menjadi bagian penting dari pekerjaan.
Jay menjalaninya dari satu tempat ke tempat lain. Dari sana, jam terbangnya terus bertambah.
Kariernya tidak hanya bertumpu pada kemampuan memainkan lagu, tetapi juga pada kemampuannya memahami suasana ruangan. Hal seperti itu sulit dibangun hanya dari teori. Pengalaman di lapangan menjadi bagian penting dalam membentuk seorang DJ.
Ketika Kompetisi Ikut Membentuk Nama
Selain bermain di klub, Jay juga membawa kemampuannya ke arena kompetisi.
Kompetisi menjadi ruang lain untuk menguji kemampuan sekaligus mempertemukan para DJ dengan standar permainan yang berbeda.
Pada 2004, Jay meraih juara pertama DJ Competition Batam.
Setahun kemudian, ia menempati posisi kedua dalam DMC World DJ Championship Batam 2005.
Prestasi berikutnya datang pada Indonesian Open Funky Mix 2006 dengan posisi juara ketiga. Pada 2007, ia kembali mencatatkan prestasi dengan meraih posisi ketiga dalam All Indonesian DJ Championship di Jakarta.
Pada Pioneer Digital DJ Battle ASEAN Final 2008 di Jakarta, Jay masuk dalam jajaran Top 10.
Tahun berikutnya, ia meraih posisi ketiga dalam The Spirit of DJ Fever 2009.
Dua tahun kemudian, Jay kembali menjadi juara. Ia meraih posisi pertama dalam DJ Championship 7Heavent Batam 2011.
Pada 2012, gelar juara kembali diraihnya melalui Meximo DJ Competition Megamix Batam.
Deretan kompetisi tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan Jay. Ia tidak hanya mendapatkan pengalaman tampil di hadapan peserta dan juri, tetapi juga berhadapan dengan berbagai karakter permainan DJ.
Dari sana, kemampuan yang dibangun selama bertahun-tahun di klub mendapatkan ruang untuk diuji dalam suasana kompetisi.

Dari Belajar Musik hingga Produksi
Ketika kariernya mulai berjalan, Jay tidak berhenti pada kemampuan memainkan musik.
Sekitar 2004, ia mulai mempelajari produksi musik menggunakan komputer.
Perkembangan teknologi saat itu membuka kemungkinan baru bagi seorang DJ. Musik tidak lagi hanya soal memainkan materi yang sudah tersedia, tetapi juga mulai masuk ke wilayah produksi dan pengolahan suara.
Dalam perjalanan tersebut, Jay menggunakan berbagai perangkat yang menjadi bagian dari aktivitasnya sebagai DJ, di antaranya Technics 1210 M5G/MK5, Pioneer DJM series, Pioneer CDJ series, monitor speaker hingga Rane Serato ScratchLIVE.
Peralihan teknologi itu kemudian menjadi bagian dari perjalanan panjangnya sebagai DJ: dari perangkat analog dan CD menuju sistem digital yang semakin berkembang.
Dari Klub Batam ke Panggung Musisi Nasional
Pengalaman yang dikumpulkan Jay di berbagai tempat juga membawanya ke panggung yang lebih besar.
Ia tercatat menjadi bagian dari penampilan sejumlah musisi nasional, di antaranya The Titans, The Rock Indonesia, Netral, Tofu, Krisdayanti dan Firman Indonesian Idol.
Bagi seorang DJ, berada dalam satu rangkaian acara dengan musisi yang sudah memiliki nama sendiri memberikan pengalaman berbeda.
Suasana panggung, karakter penonton dan kebutuhan musik dalam sebuah pertunjukan tidak selalu sama dengan malam reguler di klub.
Jay menjalaninya sebagai bagian dari perjalanan kariernya.
Sebelum Instagram, Nama Dibangun dari Mulut ke Mulut
Ada satu bagian dari perjalanan Jay yang mungkin sulit dibayangkan oleh generasi DJ sekarang.
Ketika ia memulai karier pada 2002, media sosial belum menjadi bagian dari pekerjaan seorang DJ.
Tidak ada Instagram untuk mengumumkan jadwal bermain. Tidak ada TikTok untuk memperlihatkan potongan permainan. Tidak ada algoritma yang membuat seseorang bisa dikenal hanya dari satu video.
Nama dibangun dengan cara yang lebih sederhana.
Orang datang ke sebuah tempat, mendengar permainan seorang DJ, lalu membicarakannya kepada teman. Mereka datang lagi. Teman mereka ikut datang. Dari situlah nama perlahan menyebar.
Dalam dunia hiburan malam, pengalaman langsung menjadi cara penting untuk mempertahankan nama.
Jay melewati masa tersebut cukup panjang.

Bahkan ketika teknologi dan cara orang menikmati musik berubah, ia tetap berada di dalam ekosistem yang sama: bertemu pengunjung, memainkan musik dan membangun hubungan dengan orang-orang yang datang ke tempatnya bekerja.
Pada periode 2020–2023, Jay menjadi resident DJ di M2 Executive Club Batam.
Periode tersebut menjadi salah satu bagian dari perjalanan panjangnya sebelum kemudian kembali mengisi berbagai tempat hiburan malam di Batam.
Dari Booth ke Ruang Belajar
Pengalaman yang dikumpulkan selama bertahun-tahun akhirnya tidak hanya digunakan untuk dirinya sendiri.
Jay kemudian masuk ke dunia pendidikan DJ.
Ia menjadi instructor di 383 DJ Studio, A2R DJ Studio dan Nobel DJ Studio.
Di ruang belajar, posisinya berubah. Jika sebelumnya ia berhadapan dengan pengunjung yang datang untuk menikmati musik, kali ini ia berhadapan dengan orang-orang yang ingin belajar bagaimana menjadi DJ.
Pengalaman di balik booth menjadi bahan untuk dibagikan kepada mereka yang baru memulai.
Hal-hal yang tidak selalu ditemukan dalam teori: mulai dari teknik, pemilihan musik hingga membaca suasana, menjadi bagian dari pengalaman yang bisa ditularkan.
Dari Peserta, Kemudian Menjadi Juri
Perjalanan Jay juga mempertemukannya kembali dengan dunia kompetisi, tetapi kali ini dari sisi yang berbeda.
Pada 2015, ia menjadi juri Kepri Open DJ Championship di Mega Mall Batam.
Kemudian pada 2022, ia kembali dipercaya menjadi juri dalam The Best DJ of the Years yang digelar Batam DJ Centre.
Ada perubahan posisi yang menarik dalam perjalanan tersebut.
Dulu Jay berada di hadapan juri untuk membuktikan kemampuannya. Bertahun-tahun kemudian, ia duduk di sisi lain untuk menilai permainan DJ generasi berikutnya.
Pengalaman mengikuti kompetisi tentu menjadi bekal tersendiri ketika ia harus melihat permainan peserta dari perspektif seorang juri.
Membangun Ruang untuk DJ Batam
Perjalanan panjang di dunia DJ kemudian berkembang ke sisi lain: membangun ruang bagi para DJ dan calon DJ.
Jay menjadi salah satu pendiri Batam DJ Centre.
Ia juga mendirikan dan menjadi CEO Mastamix DJ Studio & Management.
Bersama DJ Hen Q, Jay turut mendirikan DanceMix DJ Studio.
Aktivitas tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan seorang DJ tidak selalu berhenti ketika musik berhenti dimainkan.
Ada ruang untuk mengajar, mengelola studio, membangun komunitas dan membuka jalan bagi orang lain yang ingin masuk ke dunia yang sama.
Di Planet 2 Newton, Nama Jay Makin Berkibar
Setelah melewati berbagai fase dalam kariernya, Jay kemudian menjadi resident DJ di Planet 2 Newton, tempat hiburan malam di Batam yang dikenal dengan warna musik fungkot—funky kota.
Di sinilah salah satu karakter permainan Jay mendapatkan ruang yang kuat.
Pengalaman panjangnya membuat ia tidak sekadar memilih lagu. Ia memahami bagaimana menjaga alur, membaca suasana, mengatur tempo dan tahu kapan energi ruangan perlu dinaikkan.
Jay memiliki kemampuan itu.
Di balik turntable, ia mampu membawa pengunjung “terbang”, istilah yang akrab di kalangan penikmat dugem untuk menggambarkan ketika seseorang sudah begitu larut dalam musik dan suasana.
Ketika musik, permainan DJ dan respons pengunjung bertemu pada titik yang tepat, suasana ruangan pun ikut berubah.
Di Planet 2 Newton, kepiawaian Jay memainkan fungkot membuat namanya semakin berkibar.
Orang datang untuk mendengarkan permainannya. Mereka mengenali karakter musiknya dan tahu apa yang mereka cari ketika Jay berada di balik turntable.
Pengalaman panjang yang telah dikumpulkannya menemukan tempat yang pas di sana, berhadapan dengan penonton yang memang datang untuk menikmati warna musik tersebut.

Ketika Jay Pindah ke Warrior
Dari Planet 2 Newton, Jay kemudian pindah ke Warrior Cafe, di Kompleks Sagulung Mas Indah, kawasan Batu Aji, Sagulung.
Perpindahan itu ternyata tidak membuat orang-orang yang sudah mengenal permainannya berhenti datang.
Mereka tetap mengikuti.
Sebagian “para penumpang” rela menempuh perjalanan hingga Sagulung demi mengobati rasa kangen terhadap sentuhan Jay di balik turntable.
Bagi mereka, tempat boleh berbeda, tetapi DJ yang ingin didengar tetap sama.
Di Warrior, Jay hanya sekitar satu bulan.
Setelah itu, Jay selanjutnya akan bekerja di salah satu klub di kawasan Sagulung. Nama klub tersebut belum disebutkan.
Perpindahan itu menjadi bagian lain dari perjalanan karier yang sudah dimulainya sejak 2002.
Dua Puluh Empat Tahun, Nama yang Terus Bergerak
Dua puluh empat tahun adalah waktu yang panjang untuk sebuah karier di dunia hiburan malam.
Jay memulainya ketika dunia DJ masih sangat berbeda dengan sekarang.
Ia melewati masa ketika nama dibangun dari mulut ke mulut, masa ketika turntable dan CD menjadi bagian penting dari pekerjaan seorang DJ, hingga era digital ketika teknologi ikut mengubah cara musik diproduksi dan dimainkan.
Ia juga melewati berbagai tempat.
Dari Step’s Cafe, klub, pub, lounge dan hotel, arena kompetisi, panggung musisi nasional, studio DJ hingga komunitas.
Ada masa ketika ia menjadi peserta kompetisi. Ada masa ketika ia berdiri sebagai juri. Ada pula masa ketika ia mengajar orang lain yang ingin mengikuti jejak yang sama.
Semua itu menjadi bagian dari perjalanan seorang DJ yang memilih bertahan cukup lama di satu dunia yang terus berubah.
Nama profesionalnya adalah DJ Diaz Jay.
Namun bagi mereka yang sudah lama mengenalnya, ia tetap Jay.
Di belakang nama itu ada perjalanan selama 24 tahun, ratusan malam, berbagai tempat dan orang-orang yang datang lalu kembali lagi.
Dan perjalanan itu belum selesai.
Bagi Jay, tempat kerja boleh berganti. Tetapi bagi “para penumpang”, yang mereka tunggu tetap sama: sentuhan DJ Diaz Jay di balik turntable.
Penulis : IZ

















