INIKEPRI.COM – Nama Simpang Frangki mungkin terdengar seperti nama orang, bahkan sering dieja “Frengky” atau “Franky”. Namun, siapa sangka, nama yang kini begitu akrab di telinga warga Batam itu ternyata berawal dari tumpukan tiang pancang proyek rumah sakit yang tak pernah rampung.
Penamaan ini bukan berasal dari nama tokoh atau keputusan resmi pemerintah, melainkan muncul secara spontan dari masyarakat sekitar sejak awal 1990-an.
Awal Mula dari “Frengky Pile”
Mengutip informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, pada tahun 1994, kawasan yang kini dikenal sebagai Simpang Frangki pernah menjadi lokasi tumpukan besar tiang pancang untuk proyek pembangunan rumah sakit. Tiang-tiang tersebut dikirim oleh sebuah perusahaan konstruksi bernama Frengky Pile.
Namun, proyek pembangunan itu tidak berlanjut. Tidak diketahui pasti apa penyebabnya—apakah karena persoalan perizinan, pembiayaan, atau kebijakan lain. Yang jelas, meskipun proyeknya gagal, tumpukan tiang pancangnya terlanjur menjadi pemandangan mencolok di sudut persimpangan jalan.
Warga pun mulai menyebut lokasi itu sebagai “Simpang Frengky”, mengacu pada nama yang tertulis pada tiang pancang tersebut.
Nama Bertahan Meski Tiang Hilang
Seiring waktu, tumpukan tiang pancang itu akhirnya hilang dari lokasi, tetapi nama “Simpang Frangki” justru semakin mengakar di kalangan warga. Hingga kini, nama itu masih dipakai secara luas, meskipun tidak pernah tercatat secara resmi di peta jalan atau dokumen pemerintahan.
Fenomena ini bukan hal yang aneh di Batam. Sebelumnya, warga juga mengenal Simpang Jam yang dinamai karena keberadaan jam besar yang dulu berdiri di tengah-tengah persimpangan. Bahkan setelah jam itu dibongkar, namanya tetap melekat dalam ingatan kolektif masyarakat.
Penamaan Ala Warga: Ciri Unik Lokal
Menurut pengamat sejarah lokal, penamaan persimpangan seperti Simpang Frangki merupakan bagian dari tradisi lisan warga Batam. Nama-nama lokasi sering kali muncul berdasarkan objek atau bangunan yang menonjol di sekitarnya, bukan dari tokoh sejarah atau peristiwa nasional.
“Sebelum ada standardisasi nama jalan oleh pemerintah, warga Batam memang sudah terbiasa memberi nama tempat berdasarkan hal-hal yang mereka lihat dan alami sehari-hari,” ujar seorang tokoh masyarakat di kawasan Batam Kota.
Belakangan, Pemerintah Kota Batam memang mulai melakukan penertiban dan standardisasi nama-nama simpang dan jalan. Namun dalam praktiknya, nama-nama informal seperti “Simpang Frangki” tetap digunakan oleh masyarakat karena sudah terlanjur dikenal luas.
Tetap Jadi Penanda Arah
Hingga kini, Simpang Frangki tetap menjadi salah satu titik lalu lintas penting di Batam, khususnya sebagai penanda arah menuju kawasan Batam Center, Teluk Tering, dan sekitarnya. Banyak ojek online, supir taksi, hingga warga luar daerah mengandalkan nama ini sebagai acuan arah.
Meski nama “Frangki” lahir dari proyek yang gagal, tapi justru dari kegagalan itulah muncul identitas yang tak tergantikan bagi kawasan ini.
Penulis : RBP
Editor : IZ

















