INIKEPRI.COM – Nama Pondok Pesantren Lirboyo belakangan ini kembali mencuri perhatian publik.
Salah satu pesantren tertua dan terbesar di Indonesia ini mendadak viral usai tayangan di stasiun televisi nasional dianggap melecehkan tradisi santri dan kiai.
Namun, di balik kehebohan tersebut, ada sejarah panjang dan nilai luhur yang membuat Lirboyo begitu dihormati di dunia pesantren.
Sejarah Pondok Pesantren Lirboyo
Didirikan sekitar tahun 1910 Masehi oleh KH. Abdul Karim atau yang akrab disapa Mbah Manab, Pondok Pesantren Lirboyo berlokasi di Desa Lirboyo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur.
Pada masa itu, kawasan Lirboyo dikenal “angker” dan rawan kriminal. Mbah Manab kemudian mendirikan surau kecil sebagai tempat mengaji, yang berkembang menjadi pesantren besar tempat ribuan santri menimba ilmu agama.
Kini, Lirboyo dikenal sebagai pesantren salafiyah (tradisional) terbesar di Jawa Timur. Sistem pendidikannya fokus pada pengajaran kitab kuning, sorogan, bandongan, serta pendidikan akhlak dan adab terhadap guru (kiai).
Pusat Pendidikan Islam Tradisional
Selama lebih dari satu abad, Pondok Pesantren Lirboyo konsisten mempertahankan tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah, yang juga menjadi basis kuat Nahdlatul Ulama (NU).
Selain pendidikan agama, Lirboyo memiliki banyak unit dan cabang seperti HM Al-Mahrusiyah, Al-Ihsan, dan Darussalam, dengan total santri mencapai puluhan ribu dari seluruh Indonesia.
Pesantren ini telah melahirkan banyak ulama dan tokoh bangsa, di antaranya KH. Mahrus Aly, KH. Idris Marzuqi, dan kini diasuh oleh KH. Muhammad Anwar Manshur.
Viral karena Tayangan Trans7
Lirboyo menjadi sorotan setelah muncul dalam program “Xpose Uncensored” yang tayang di Trans7 pada Senin (13/10/2025).
Dalam tayangan itu, beberapa adegan menggambarkan kehidupan santri dengan cara yang dianggap tidak proporsional dan menyudutkan pesantren, seperti cuplikan santri berjalan jongkok mendekati kiai dan narasi yang dinilai tendensius.
Tak butuh waktu lama, tagar #BoikotTrans7 pun menggema di media sosial X (Twitter), Instagram, dan TikTok. Ribuan warganet, alumni, serta pengasuh pesantren mengecam tayangan tersebut karena dianggap menyimpang dari nilai dan konteks budaya pesantren.
Respons Publik dan Permintaan Maaf Trans7
Gelombang protes dari masyarakat dan Himpunan Alumni Santri Lirboyo (HIMASAL) memaksa pihak Trans7 untuk mengeluarkan permintaan maaf resmi.
Mereka mengakui adanya “keteledoran” dalam proses penyuntingan dan berjanji akan lebih berhati-hati dalam menayangkan konten terkait lembaga keagamaan di masa depan.
Meski permintaan maaf sudah disampaikan, banyak pihak menilai kasus ini perlu menjadi pelajaran penting bagi media massa tentang sensitivitas budaya pesantren — di mana penghormatan terhadap guru (kiai) bukan bentuk penindasan, melainkan simbol adab dan akhlak mulia.
Lirboyo, Antara Tradisi dan Tantangan Zaman
Di tengah derasnya arus modernisasi, Pondok Pesantren Lirboyo tetap bertahan sebagai benteng moral dan pendidikan Islam klasik.
Tradisi khidmah (pengabdian santri kepada kiai) yang sering disalahpahami justru menjadi fondasi utama pembentukan karakter santri yang berakhlak dan tawadhu’.
Dari desa kecil yang dulu gelap, kini Lirboyo telah menjadi mercusuar keilmuan Islam yang memancarkan cahaya bagi ribuan santri di seluruh Nusantara.
Kesimpulan
Kontroversi tayangan Trans7 memang membuat Pondok Pesantren Lirboyo viral, namun pada sisi lain, peristiwa ini kembali mengingatkan publik tentang betapa pentingnya pesantren dalam menjaga warisan budaya, moral, dan spiritual bangsa.
Lirboyo bukan sekadar tempat belajar agama — ia adalah simbol ketulusan, adab, dan perjuangan yang telah hidup lebih dari satu abad di tanah Jawa.
Penulis : IZ

















