INIKEPRI.COM – Kosakata baru terus bermunculan di ruang digital, dan dalam beberapa tahun terakhir salah satu yang paling sering terdengar adalah istilah “yapping”.
Kata ini begitu cepat populer di kalangan pengguna media sosial, khususnya generasi muda di TikTok, Instagram, hingga platform X (Twitter).
Merujuk penjelasan yang dimuat Gramedia Literasi (sumber: gramedia.com/literasi/apa-itu-yapping), yapping digunakan untuk menggambarkan seseorang yang terlalu banyak berbicara, tetapi isi pembicaraannya dinilai tidak penting, berlebihan, atau tidak berkaitan dengan konteks.
Istilah ini berasal dari bahasa Inggris informal, di mana “to yap” menggambarkan suara anjing kecil yang menggonggong terus-menerus. Dalam percakapan daring, kata ini kemudian berubah menjadi sindiran halus bagi seseorang yang dianggap “kebablasan ngomong”.
Tren ini tidak lepas dari meningkatnya interaksi di ruang digital. Banyak warganet yang memberi komentar spontan pada berbagai topik, termasuk yang tidak mereka pahami sepenuhnya.
Akibatnya, istilah “yapping” sering muncul sebagai respons cepat untuk menghentikan pembicaraan yang dianggap tidak substansial, baik sebagai candaan maupun kritik ringan.
Para pengamat komunikasi memandang fenomena ini sebagai bagian dari perubahan gaya percakapan generasi muda. Mereka lebih ekspresif, responsif, dan memanfaatkan bahasa gaul internet untuk membangun identitas serta kedekatan dengan komunitas digitalnya.
Meski begitu, para ahli tetap mengingatkan pentingnya bijak menggunakan istilah seperti “yapping” agar tidak berkembang menjadi bentuk perundungan atau meremehkan pendapat orang lain.
Fenomena “yapping” juga menegaskan cepatnya dinamika komunikasi di dunia maya. Di tengah derasnya opini dan komentar, pengguna internet dituntut semakin selektif dalam berbicara dan menyaring informasi.
Memahami istilah-istilah baru seperti ini membantu masyarakat beradaptasi dan tetap relevan dengan budaya digital yang terus bergerak.
Penulis : RBP
Editor : IZ

















