INIKEPRI.COM – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau mencatat perekonomian Kepulauan Riau (Kepri) pada 2025 tumbuh sebesar 6,94 persen secara cumulative-to-cumulative (ctc). Angka tersebut melampaui pertumbuhan nasional yang berada di kisaran lima persen dan menjadi yang tertinggi di Sumatera.
Kepala Kantor Perwakilan BI Kepri, Rony Widijarto, mengatakan capaian tersebut merupakan pertumbuhan tertinggi Kepri dalam satu dekade terakhir.
“Pertumbuhan ekonomi Kepri 2025 mampu bertumbuh sebesar 6,94 persen dan ini merupakan yang tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Capaian ini jauh di atas nasional dan menjadi yang tertinggi se-Sumatera,” ujar Rony di Batam, Selasa.
Industri Pengolahan Jadi Motor Utama
Dari sisi lapangan usaha, sektor industri pengolahan masih menjadi kontributor utama terhadap struktur ekonomi daerah. Pada 2025, sektor ini memiliki porsi 41,57 persen terhadap struktur ekonomi Kepri dan memberikan andil sebesar 3,14 persen terhadap total pertumbuhan ekonomi.
“Industri pengolahan tetap menjadi kontributor utama seperti di tahun 2024. Di 2025 porsi 41,57 persen terhadap struktur ekonomi Kepri dan memberikan andil sebesar 3,14 persen terhadap pertumbuhan ekonomi 2025,” jelasnya.
Selain industri pengolahan, sektor pertambangan juga mencatatkan kinerja signifikan. Lonjakan pertumbuhan ditopang beroperasinya sejumlah proyek minyak dan gas (migas) baru, khususnya di wilayah Natuna dan Anambas.
Tak hanya itu, sektor konstruksi dan perdagangan turut memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian daerah. Sektor konstruksi, misalnya, memiliki porsi 19,87 persen dalam struktur ekonomi Kepri pada 2025.
Konsumsi Rumah Tangga Perlu Didorong
Meski pertumbuhan ekonomi terbilang tinggi, BI Kepri mencatat konsumsi rumah tangga belum sepenuhnya mengimbangi laju ekspansi ekonomi daerah.
Rony menjelaskan, berbeda dengan pola nasional yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi dan konsumsi masyarakat cenderung bergerak sejalan, di Kepri masih terdapat ruang untuk memperkuat daya beli masyarakat.
“Karakteristik masyarakat Indonesia sebenarnya memiliki kecenderungan konsumsi yang tinggi. Ke depan, ini menjadi ruang yang bisa kita optimalkan agar pertumbuhan tidak hanya tinggi, tetapi juga lebih inklusif,” katanya.
Proyeksi 2026 dan Tantangan Inklusivitas
BI Kepri memproyeksikan pertumbuhan ekonomi daerah pada 2026 berada di kisaran 6,38 hingga 7,18 persen. Untuk menjaga momentum tersebut, diperlukan strategi yang mampu memastikan pertumbuhan tidak hanya tinggi, tetapi juga merata.
“Ekonomi yang kuat tidak hanya memerlukan pertumbuhan tinggi, tetapi juga pertumbuhan yang inklusif dan merata. Dengan demikian, konsumsi masyarakat juga akan terdorong dan manfaat pertumbuhan dapat dirasakan lebih luas,” ujar Rony.
Capaian pertumbuhan 2025 tersebut menjadi sinyal positif bagi perekonomian Kepri, sekaligus tantangan untuk memastikan manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat di seluruh wilayah provinsi.
Penulis : DI
Editor : IZ

















