INIKEPRI.COM – Perekonomian Provinsi Kepulauan Riau pada triwulan I 2026 kembali mencatatkan performa impresif. Di tengah perlambatan global dan tantangan rantai pasok, ekonomi Kepri tetap tumbuh tinggi dan menjadi yang tertinggi di wilayah Sumatera.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau mencatat pertumbuhan ekonomi Kepri mencapai 7,04 persen secara tahunan (year on year/yoy). Meski sedikit melambat dibanding triwulan IV 2025 yang mencapai 7,89 persen, capaian tersebut masih jauh di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi Sumatera yang berada di angka 5,13 persen.
Kepala KPw BI Kepri, Rony Widijarto, mengatakan pertumbuhan ekonomi daerah terutama ditopang sektor industri pengolahan serta pertambangan dan penggalian yang menunjukkan performa sangat kuat.
“Sektor industri pengolahan tumbuh 5,79 persen secara tahunan dan memberikan andil sebesar 2,50 persen terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Sementara sektor pertambangan dan penggalian tumbuh sangat tinggi mencapai 23,19 persen dengan kontribusi 2,14 persen,” ujar Rony, Kamis (7/5/2026).
Menurutnya, lonjakan pertumbuhan sektor pertambangan tidak lepas dari mulai beroperasinya sejumlah lapangan minyak dan gas baru sejak Mei 2025.
“Lapangan usaha pertambangan tumbuh tinggi dan terakselerasi sejalan dengan lapangan migas yang mulai on-stream sejak Mei tahun lalu,” katanya.
Selain industri dan pertambangan, sektor perdagangan juga menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 9,03 persen dengan kontribusi 0,76 persen terhadap ekonomi daerah. Sementara sektor konstruksi tumbuh 3,06 persen dengan andil sebesar 0,59 persen.
Rony menjelaskan, sektor industri pengolahan masih mampu tumbuh tinggi meski menghadapi berbagai tantangan seperti gangguan rantai pasok, kenaikan harga bahan baku, hingga biaya logistik yang meningkat.
“Perdagangan tumbuh positif didorong momentum Ramadan dan Idulfitri. Sedangkan sektor konstruksi masih bertumbuh meskipun mulai mengalami normalisasi di awal tahun,” jelasnya.
Dari sisi pengeluaran, investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tercatat tumbuh 7,47 persen dengan kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi, yakni mencapai 3,02 persen.
Kinerja investasi dinilai tetap solid berkat iklim investasi yang semakin kondusif, baik untuk Penanaman Modal Asing maupun Penanaman Modal Dalam Negeri. Kemudahan perizinan melalui PP Nomor 25 Tahun 2025 dan PP Nomor 28 Tahun 2025 juga disebut menjadi salah satu faktor pendorong.
Sementara itu, konsumsi rumah tangga tumbuh 4,62 persen dengan kontribusi sebesar 1,80 persen. Tingginya optimisme masyarakat tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang mencapai 132,22 pada triwulan I 2026.
Di sisi lain, ekspor neto masih tumbuh sebesar 9,95 persen, meski mulai melambat akibat tekanan biaya produksi dan perlambatan industri pengolahan.
Meski pertumbuhan ekonomi tetap tinggi, inflasi Kepri pada April 2026 masih berada dalam kondisi terkendali. BI mencatat inflasi tahunan sebesar 3,06 persen, masih dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen.
Inflasi bulanan pada April tercatat 0,43 persen, dipicu kenaikan harga angkutan udara, nasi dengan lauk, telepon seluler, angkutan laut, dan bensin.
Ke depan, Bank Indonesia memperkirakan ekonomi Kepri tetap tumbuh positif, meskipun tantangan mempertahankan laju pertumbuhan tinggi mulai muncul seiring normalisasi efek basis rendah di sektor pertambangan.
“Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran guna menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah,” tutup Rony.
Penulis : DI
Editor : IZ

















