INIKEPRI.COM – Perjalanan ibadah haji yang dijalani Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, memasuki penghujung yang penuh haru. Setelah melaksanakan tawaf wada’ atau tawaf perpisahan di Masjidil Haram, Amsakar mengaku justru merasakan kerinduan yang semakin mendalam kepada Baitullah.
Dalam catatan pribadinya yang berjudul Perjalanan Cinta yang diunggah di Facebook pribadinya Sabtu (30/5/2026), Amsakar menggambarkan ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci, melainkan perjalanan cinta yang memperkuat spiritualitas dan hubungan antarsesama manusia.
“Dengan telah dilaksanakannya tawaf wada’ berarti rangkaian pelaksanaan ibadah haji yang saya lakukan telah sampai di penghujung,” tulis Amsakar.
Tawaf wada’ merupakan ibadah perpisahan sebelum jamaah meninggalkan Makkah. Namun bagi Amsakar dan sang istri, momen tersebut bukanlah akhir, melainkan awal dari kerinduan untuk kembali ke Tanah Suci.
Ia mengaku memohon agar seluruh ibadah yang dijalankan diterima Allah SWT dan diberikan kesempatan untuk kembali menginjakkan kaki di kota suci tersebut.
“Terus terang rongga hati saya masih menyisakan cinta dan getar kerinduan kepada Baitullah justru ketika tawaf wada’ baru saja terlaksana,” ungkapnya.
Menurut Amsakar, hakikat ibadah haji adalah perjalanan cinta. Cinta kepada Allah SWT, cinta kepada Baitullah, cinta kepada ajaran para nabi terdahulu, dan cinta kepada Rasulullah SAW.
Di hadapan Ka’bah, katanya, jutaan manusia datang membawa segala kelemahan dan dosa. Mereka menangis, memohon ampunan, serta menyadari betapa kecilnya diri manusia di hadapan Sang Pencipta.
“Sesungguhnya kita merasa bermakna di hadapan manusia, namun tidak ada apa-apanya di hadapan Yang Maha Kuasa,” tulisnya.
Namun di balik dimensi spiritual yang mendalam, ada kisah lain yang membuat perjalanan hajinya terasa sangat personal. Amsakar mengaku kehadiran sang istri menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut.
Selama ini, kesibukan sebagai kepala daerah membuat waktu kebersamaan bersama keluarga menjadi terbatas. Karena itu, saat berada di Tanah Suci, ia bertekad memanfaatkan setiap kesempatan untuk mendampingi istrinya yang masih harus menggunakan kursi roda.
Tekad itu diwujudkannya dalam setiap rangkaian ibadah. Mulai dari tawaf, sa’i, melempar jumrah, hingga tawaf ifadah dan tawaf wada’, Amsakar berusaha hadir mendampingi sang istri.
Ia bahkan mengaku sempat merasa cemas ketika mendapat kabar istrinya pergi seorang diri ke toilet karena khawatir tidak kuat menaiki tangga.
“Syukur alhamdulillah, apa yang terpatri di dalam hati dapat saya tunaikan,” tulisnya.
Dalam pelaksanaan tawaf dan sa’i, Amsakar bersama seorang pendamping bernama Muhammad bergantian membantu mendorong kursi roda sang istri. Hal yang sama juga dilakukannya saat melempar jumrah hingga rangkaian ibadah terakhir.
“Sungguh, saya merasa perjalanan haji sebagai cara Allah membuka ruang maaf saya kepada istri tercinta,” ungkapnya.
Momen mengharukan kembali terjadi menjelang akhir perjalanan. Seorang pendamping bernama Zen yang selama ini membantu menyediakan kursi roda justru memberikan kursi roda tersebut sebagai hadiah.
Menurut Amsakar, Zen menyampaikan bahwa kursi roda itu diberikan dengan ikhlas sebagai hadiah haji bagi mereka.
Peristiwa sederhana itu meninggalkan kesan mendalam bagi dirinya dan keluarga. Di tengah jutaan jamaah dari berbagai negara, ia merasakan begitu banyak kemudahan dan kebaikan yang datang dari orang-orang yang bahkan sebelumnya tidak dikenal.
“Sungguh nikmat demi nikmat kami rasakan selama perjalanan di Tanah Suci ini,” tulisnya.
Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinannya terhadap filosofi hidup yang selama ini diyakini.
“Mudahkanlah urusan orang, niscaya sampai waktunya Allah akan mudahkan urusan kita,” pungkas Amsakar dalam catatannya dari Makkah, 13 Zulhijjah 1447 Hijriah.
Penulis : IZ

















