INIKEPRI.COM — Jarak sering kali menjadi alasan mengapa sebuah kesempatan terasa jauh. Namun, bagi Devi Julianti, jarak justru menjadi tantangan yang ingin ia buktikan bisa dilewati.
Dari Kabupaten Kepulauan Anambas, wilayah kepulauan yang berada di kawasan terluar Indonesia dan dekat dengan Natuna, siswi SMAN 1 Siantan Utara itu mengikuti Gen Halal Championship 2026 secara daring.
Ia duduk di depan layar dari tanah kelahirannya, berhadapan dengan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Tak ada panggung besar yang harus ia datangi. Tak ada perjalanan panjang menuju kota tempat kompetisi digelar. Teknologi mempertemukannya dengan peserta lain dalam satu ruang kompetisi nasional.
Namun, mengikuti kompetisi dari daerah kepulauan bukan tanpa tantangan.
Devi mengaku sempat merasa minder ketika melihat peserta lain yang berasal dari sekolah-sekolah besar di kota.
“Di awal saya sempat merasa minder dan kurang percaya diri saat melihat peserta lain yang berasal dari sekolah-sekolah besar di kota-kota. Apalagi saya mengikuti lomba ini secara online langsung dari Anambas, yang tentu memiliki tantangan tersendiri,” ujar Devi.
Tantangannya bukan hanya soal materi kompetisi yang menurutnya cukup sulit.
Koneksi internet dan keterbatasan jarak dalam melakukan koordinasi juga menjadi bagian dari pengalaman yang harus dihadapinya.
Tetapi Devi memilih tidak menjadikan keterbatasan itu sebagai alasan untuk mundur.
Justru dari sana muncul dorongan untuk memberikan kemampuan terbaik.
“Saya merasa bangga bisa membawa nama sekolah saya dan Anambas di tingkat nasional ini. Ini membuktikan bahwa keterbatasan geografis bukanlah penghalang bagi anak-anak daerah kepulauan untuk terus berkarya dan bersaing secara positif,” katanya.
Berawal dari Guru
Perjalanan Devi mengikuti kompetisi tersebut bermula dari informasi yang diterimanya dari guru di sekolah.
Ia kemudian dipilih untuk menjadi salah satu peserta Gen Halal Championship 2026. Sejak proses pendaftaran hingga pelaksanaan kompetisi, sang guru turut memberikan pendampingan.
Informasi mengenai lomba juga disampaikan melalui grup komunikasi peserta.
Dukungan tersebut menjadi bagian penting bagi Devi untuk mengikuti seluruh tahapan kompetisi.
Di balik pengalaman itu, ada sesuatu yang lebih besar yang ia dapatkan. Ia melihat sendiri bagaimana teknologi dapat membuka pintu yang sebelumnya terasa sulit dijangkau oleh pelajar di daerah kepulauan.
Kompetisi nasional yang dahulu identik dengan perjalanan menuju kota besar kini bisa diikuti dari daerah sendiri.
Anambas pun tidak lagi sekadar menjadi titik yang jauh di peta.
Melalui layar, pelajarnya dapat terhubung dengan Indonesia.
Membawa Edukasi Halal hingga Pelosok
Jangkauan Gen Halal Championship 2026 hingga Anambas menjadi bagian dari upaya menghadirkan edukasi halal kepada generasi muda di berbagai wilayah.
Ketua Pelaksana Gen Halal Championship 2026 sekaligus Corporate Communication LPPOM, Muhamad Zulkifly, S.Si, mengatakan edukasi mengenai halal perlu dapat diakses secara luas, termasuk oleh generasi muda yang tinggal di wilayah kepulauan dan daerah yang jauh dari pusat kota.
“Pendidikan itu sangat penting, apalagi edukasi mengenai halal. Kami akan terus mengupayakan agar pendidikan tentang halal dapat diakses secara menyeluruh, termasuk oleh generasi muda yang berada di pelosok desa, kepulauan terpencil, hingga wilayah yang berbatasan dengan negara tetangga. Kami ingin semua memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan tentang halal dan Gen Halal Championship,” jelas Zulkifly.
Menurutnya, perkembangan teknologi memberikan peluang untuk memperkecil kesenjangan akses antara pusat dan daerah.
Semangat tersebut terlihat dari keikutsertaan peserta yang datang dari wilayah dengan tantangan geografis, salah satunya Kabupaten Kepulauan Anambas.
Dari wilayah yang berada jauh dari pusat pendidikan dan perkotaan, pelajar tetap bisa masuk ke ruang kompetisi yang sama dengan peserta dari berbagai penjuru Indonesia.
Dari Anambas, Menatap Indonesia
Bagi Devi, pengalaman mengikuti Gen Halal Championship 2026 bukan semata tentang menang atau kalah.
Ada kebanggaan tersendiri ketika nama sekolah dan Anambas bisa dibawa ke tingkat nasional.
Pengalaman itu sekaligus memberinya keyakinan bahwa kesempatan untuk berkembang tidak seharusnya ditentukan oleh tempat seseorang dilahirkan atau tinggal.
Ia berharap kompetisi serupa semakin terbuka dan inklusif bagi anak-anak muda dari berbagai daerah.
“Semoga cara ini terus sukses, makin inklusif bagi seluruh anak muda dari berbagai pelosok Indonesia, dan terus melahirkan generasi yang hebat,” pesannya.
Kisah Devi dari SMAN 1 Siantan Utara menjadi gambaran sederhana bahwa prestasi tidak selalu harus berangkat dari kota besar.
Dari sebuah wilayah kepulauan di Anambas, seorang pelajar dapat terhubung dengan panggung nasional hanya melalui layar.
Jarak memang masih ada.
Tetapi ketika kesempatan datang dan teknologi menjadi jembatan, jarak tidak lagi harus menjadi batas.
Dari Anambas, Devi menunjukkan satu hal: anak daerah pun berhak bermimpi besar, belajar lebih jauh, dan berdiri sejajar di panggung Indonesia.
Penulis : RBP
Editor : IZ

















