Merasa gaji PNS tak cukup untuk membiayai kehidupan di Batam, Amsakar akhirnya mengontrak rumah di Belakang Padang. Setelah dua bulan diangkat sebagai PNS, Amsakar mengikuti Latihan Pra Jabatan (LPJ) di Pekanbaru. Seiring dengan selesainya pelaksanaan LPJ tersebut, Amsakar nekad memboyong istri dan dua orang anaknya untuk dibawa berangkat ke Belakang Padang dengan terlebih dahulu menjual satu buah kendaraan roda dua (Astrea Star) dan TV Samsung yang diperoleh selama melaksanakan penelitian di PPIP UNRI dengan sedikit tambahan bantuan dari mertua.
Amsakar memberanikan diri memulai penataan hidup yang sesungguhnya. Hasil penjualan Astrea Star dan TV tersebut, digunakan untuk membayar kontrakan setengah tahun. Hari-hari tinggal di Belakang Padang mesti diisi dengan kebiasaan mengangkat air selepas pulang kerja. Dan dari dua tahun tinggal di Belakang Padang, selama 1 tahun rumah sewa tersebut tak memiliki TV. Rasa malu sebagai seorang lelaki senantiasa mengusik hari-harinya oleh karena ketidakmampuan untuk memenuhi harapan anak bini.
Tapi, karena Allah Maha Pemurah, istri yang dicintai juga dengan segala sabar dan maklum, senantiasa memberi motivasi. Akhirnya dengan tungkus lumus mengais rezeki, Amsakar pun dapat membeli 1 buah TV second dengan harga segunung (saat itu Indonesia sedang dihantam krisis moneter) demi memenuhi hobi istri dan anak yang ketika itu harus sering menonton telenovela Rosalinda di rumah tetangga. Begitulah hidup, siapa yang sanggup melawan tantangan, pasti akan memanen hasil yang mengesankan. Siapa yang tak mudah menyerah, pasti akan memanen berkah. Pada akhirnya sadarlah kita, bahwa manusia hanya punya rencana, tetapi Tuhan lah yang memutuskan.
Setelah dua tahun menetap di Kampung Jawa Belakang Padang, Kantor Walikota Batam selanjutnya pindah ke Batam Centre. Sejak saat itu Amsakar dan keluarga juga harus pindah ke Batam karena jarak kantor semakin jauh sehingga tidak mungkin lagi jika setiap hari harus berulang naik boat pancung dari Belakang Padang ke Batam. Kembali lagi, Amsakar harus menyewa rumah di Batu Aji.
Perjalanan karir lelaki inipun tergolong cemerlang dan mengesankan. Setelah pindah dari Mawil Hansip, 21 Juni 2000 sampai 3 September 2001, Amsakar dipercaya sebagai Kasubag TU Pimpinan dan Keuangan Setdako Batam, dari 4 September 2001 sampai 27 Januari 2002 dipercaya sebagai Kasubag Perlengkapan, kemudian dari 28 Januari 2002 sampai 6 Februari 2004 diangkat sebagai Kasubag Perundang-Undangan Bagian Hukum, selanjutnya dari 7 Februari 2004 sampai 31 September 2005 dipercaya sebagai Kasubag Rumah Tangga Bagian Umum, dan dari 1 Oktober 2005 diberi amanah untuk menjadi Kepala Bagian Umum. Selanjutnya menjadi Kepala Dinas UKM hingga Kepala Disperindag ESDM dan berkakhir untuk mendampingi Muhammad Rudi di percaturan politik Batam sebagai Wakil Wali Kota Batam.

















