Kenali Sistem Pilpres AS Electoral College, Penentu Kemenangan Bukan Suara Terbanyak

- Admin

Kamis, 5 November 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(BBC)

(BBC)

Jakarta, inikepri.com – Sistem pemilihan presiden di Amerika Serikat (Pilpres AS) yang saat ini tengah memasuki masa perhitungan poin suara, tentunya sedikit berbeda dengan sistem pemilu di negara lainnya, termasuk Indonesia. 

Bila di beberapa negara kemenangan presiden ditentukan dari suara terbanyak atau terpopuler, namun pilpres Amerika Serikat menggunakan sistem electoral college atau electoral votes, dimana yang dipilih bukan kandidat capres, melainkan ‘pejabat’ yang akan memilih kandidat.

Dikutip dari Indozone di diskusi virtual ‘American Presidential Election’, pemilihan presiden AS tidak ditentukan oleh jumlah suara yang diperoleh secara keseluruhan. Ini justru ditentukan oleh apakah Anda mendapatkan lebih banyak suara di negara bagian yang tepat. Kandidat mana pun yang akhirnya memenangkan kontes yang menghasilkan 270 suara elektoral adalah pemenangnya.

Dalam artian, pemilu presiden di Amerika bukanlah pemilihan langsung seperti di Indonesia, melainkan pemilihan secara tidak langsung. Meski di kertas suara terdapat foto dan nama kandidat, namun sejatinya yang dipilih oleh rakyat Amerika adalah pejabat atau lembaga electoral college di masing-masing negara bagian. 

Baca Juga :  Serupa Pilpres Jokowi Vs Prabowo, Begitu Kata Warga Asing Sebut Pemilu AS 2020

Jumlah anggota electoral college adalah 538 sejak pemilihan umum 1964. Setiap negara bagian diberi jatah elector sebanding dengan jumlah penduduknya. Yang paling banyak adalah California (55), diikuti oleh Texas (34) dan New York (31). 

Seorang kandidat presiden harus mendapat suara (lembaga pemilih) mayoritas untuk menjadi presiden yang saat ini berjumlah 270. Bila tidak ada yang memperoleh mayoritas, pemilihan umum ditentukan oleh kongres. 

Sistem ini membuat para kandidat berlomba-lomba mendapatkan suara mayoritas di negara bagian tersebut. Mereka tidak lagi menfokuskan kampanye ke negara bagian yang sudah pasti diketahui pemenangnya, dalam artian negara bagian besar yang sudah pasti jadi basis kedua partai Demokrat atau Partai Republik

Di negara-negara bagian tersebut, hasil pemungutan suara biasanya sudah dapat diketahui, dan hampir pasti. Misalnya California, New York, dan Maryland, basis Partai Demokrat. Sementara North Carolina, Indiana, dan sebagian negara bagian di selatan dianggap sebagai negara bagian basis Partai Republik.

Baca Juga :  Biden Larang WNA 30 Negara Masuk Amerika Serikat, Ini Daftarnya

Sehingga para kandidat tak perlu lagi mencari suara di lokasi-lokasi tersebut. Yang mereka fokuskan adalah 11 negara bagian kecil yang justru menjadi penentu kemenangan buat masing-masing kandidat. 11 negara bagian itulah yang biasanya disebut swing states.

Swing states sangat berpengaruh pada Electoral College dan bisa menjadi penentu kalah menangnya seorang calon presiden. Beberapa negara bagian yang dianggap swing states dalam pilpres AS adalah adalah Colorado, Florida, Iowa, Michigan, Nevada, New Hampshire, Pennsylvania, Ohio, Wisconsin dan Virginia.

Sistem electoral college juga bisa dapat menghanguskan electoral college lainnya di setiap negara bagian. Contohnya, bila di satu negara bagian terdapat enam electoral college, dan pemilih lebih banyak memenangkan empat electoral yang akan memilih kandidat A, maka dua electoral lain yang tak terpilih akan hangus dan diambil electoral yang menang dengan poin enam. 

Baca Juga :  Usai Menikah dengan 2 Istri, Pasangan Threesome Ini Akui Kehidupan Seks Lebih Bergairah

Hal ini juga membuktikkan bahwa, suara yang paling populer atau jajak pendapat belum tentu bisa memenangkan pemilu kali ini. Sebagai contoh, pada 2016, Hillary Clinton sangat populer dan banyak dipilih dalam jajak pendapat justri kalah, atau Al Gore pada 2000 silam yang lebih populer dari Bush, namun kalah dalam pilpres. 

Hillary diperkirakan memiliki 257 Electoral College dari negara-negara bagian biru, dan hanya membutuhkan 13 Electoral College lagi untuk menjadi Presiden AS. Namun, dia gagal mengamankan suara di Wisconsin, Pennsylvania, dan Michigan yang dimenangi Trump.

Untuk pilpres kali ini antara Joe Biden dan Donald Trump, hasil electoral college kali ini masih dipimpin Biden dengan 264 dan butuh enam electoral lagi dari Nevada. Namun semuanya bisa berbalik, mengingat Trump masih memegang kuncian di Pensylvania, Georgia, dan Nort Carolina untuk mengejar 54 suara. (RWH/Indozone)

Berita Terkait

Tonggak Diplomasi: Indonesia Jadi Presiden Dewan HAM PBB Tahun 2026
Kemlu Pulangkan Sembilan WNI dari Kamboja
Natal Perdana Paus Leo XIV, Serukan Perdamaian untuk Gaza
Banjir Terjang Enam Negara Bagian Malaysia, Lebih dari 9.000 Warga Mengungsi
Badai Musim Dingin Rendam Tenda Pengungsi Gaza, Ribuan Keluarga Terancam
Australia Larang Media Sosial untuk Remaja di Bawah 16 Tahun, Lebih dari Satu Juta Akun Ditutup
Ini Negara dengan Paspor Terkuat di ASEAN, Indonesia Urutan ke Berapa?
Banjir Bandang Melanda Malaysia, Lebih dari 18 Ribu Warga Dievakuasi dari Tujuh Negara Bagian

Berita Terkait

Jumat, 9 Januari 2026 - 07:54 WIB

Tonggak Diplomasi: Indonesia Jadi Presiden Dewan HAM PBB Tahun 2026

Senin, 29 Desember 2025 - 10:32 WIB

Kemlu Pulangkan Sembilan WNI dari Kamboja

Jumat, 26 Desember 2025 - 09:09 WIB

Natal Perdana Paus Leo XIV, Serukan Perdamaian untuk Gaza

Jumat, 19 Desember 2025 - 17:07 WIB

Banjir Terjang Enam Negara Bagian Malaysia, Lebih dari 9.000 Warga Mengungsi

Sabtu, 13 Desember 2025 - 06:46 WIB

Badai Musim Dingin Rendam Tenda Pengungsi Gaza, Ribuan Keluarga Terancam

Berita Terbaru

TNI berhasil menyelesaikan pembangunan dua jembatan Bailey di kawasan Jamur Ujung, Kabupaten Bener Meriah, yang berada pada ruas jalan strategis Bireuen – Bener Meriah – Takengon. Foto: TNI AD

Daerah

TNI AD Rampungkan Dua Jembatan Bailey di Bener Meriah

Selasa, 13 Jan 2026 - 14:14 WIB