Masyhur menyatakan sejumlah kemungkinan lokasi Saranjana, namun memang memerlukan penelitian lanjutan.
Versi pertama, letak Saranjana berada di Kotabaru, Kalimantan Selatan, ini berdasarkan penelitiannya.
Lantas versi kedua, Saranjana berada di Teluk Tamiang, Pulau Laut, masih ada versi ketiga yang lebih lengkap.
Versi ketiga, Saranjana ada di sebuah bukit kecil yang berada di Desa Oka-Oka, Kecamatan Pulau Laut Kelautan, Kalimantan Selatan.
Bukit yang berhadapan langsung dengan laut ini memiliki pemandangan indah dan bisa dijadikan destinasi wisata.
Tetapi, Masyhur menyatakan kalau lokasi ini memang dianggap angker oleh masyarakat sekitarnya.
Melacak Saranjana Dari Sejarah Lisan
Cara mencari tahu keberadaan Saranjana berdasarkan sumber lisan, biasanya masyarakat lokal di Indonesia punya tradisi lisan yang kuat.
Salah satu hipotesa dari Masyhur adalah Saranjana merupakan wilayah kekuasaan dari Suku Dayak yang tinggal di Pulau Laut.
Suku Dayak yang dimaksud adalah Dayak Samihim, sub-etnis yang tinggal di Kalimantan Selatan bagian timur laut.
Berdasarkan penelitian antropolog Noerid Haloei Radam, Dayak Samihim diperkirakan masuk rumpun Maanyan.
Dayak Samihim menyebar hingga ke Pulau Laut saat adanya pembentukan kerajaan Negara Dipa.
Hal ini bisa didapatkan dari sumber lisan lewat nyanyian Orang Maanyan bahwa kerajaan mereka yaitu Nan Sarunai dihancurkan pasukan dari Jawa, Majapahit.
Orang Maanyan terusir dan mengungsi ke sejumlah tempat di Kalimantan, termasuk orang Dayak Samihim yang tinggal di beberapa tempat di antaranya Pulau Laut.
Sumber lainnya dari buku Sejarah Kotabaru yang terbit pada 2008, pada masa sebelum masuknya agama Islam.
Suku Dayak yang mendiami Kotabaru masih menganut kepercayaan animisme, mereka hidup berkelompok.
Masyhur memperkirakan keberadaan Saranjana diperkirakan wilayah dari suku Dayak Samihim, sebelum 1660.
Tahun 1660 ini diambil berdasarkan catatan sejarawan Goh Yoon Fong yang menyatakan Pulau Laut menjadi hadiah atau tanah apanage.
Hadiah ini diberikan oleh Kesultanan Banjar kepada Pangeran Purabaya sebagai penghormatan dan imbalan perdamaian.
Sebelumnya, bangsawan Banjar telah mengangkat Raden Bagus menjadi Sultan Banjar yang memerintah dari 1660 hingga 1663.
Masyhur menjelaskan lagi, secara terminologi, jika dibandingkan dengan kosa kata India yaitu saranjana berarti tanah yang diberikan.
Kisah Mistis Saranjana

















