“Iya, bu. Lusa saya bayar,” ujarku menenangkannya.
Setelah mendengar teguran itu, aku pasrah untuk berusaha tetap tinggal di sini.
‘Lantas, aku harus ke mana?’ Pertanyaan itu selalu terpikirkan olehku. Masalahnya, aku masih baru masuk semestet empat, yang mana dua tahun terakhir habis hanya untuk belajar.
Aku sampai lupa harus mencari tambahan uang untuk bayar sewa indekos.
Waktu penagihan uang sewa pun datang. Bu Yani masuk ke kamarku dengan wajah yang ingin aku segera pergi.
“Mana? Sudah ada uangnya? Kalau tidak, kamu pergi sekarang tanpa barang-barang yang ada. Jadi, ini saya sita agar kamu bisa melunasi utang,” kata Bu Yani.
“Iya bu. Ini saya ada setengah dari harga sewa. Semoga ibu bisa terima dan mengizinkan saya tinggal beberapa waktu lagi sampai uang sewanya terkumpul,” sahutku lirih.
“Saya pasrah saja bu. Ibu mau lakuin apa saja kepada saya, tetapi harapannya untuk tidak keluar sekarang, bu,” pintaku.
“Yah, mau bagaimana lagi, ya. Kamu harus menuruti permintaan saya sampai uang sewanya dibayarkan,” kata Bu Yani.
“Baik, bu. Saya akan turuti mau Ibu, gimana pun caranya,” balasku.
Entah mengapa, saat bilang seperti itu, aku khawatir ada yang tidak beres akan terjadi.
Namun, aku telah berjanji dan tidak akan ingkar meski permintaan Bu Yani ada yang aneh.
“Kalau begitu, setelah pulang kuliah, kamu harus datang ke kamar saya, ya, mas,” kata Bu Yani.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya

















