Inflasi yang terjadi saat ini, kata Menkeu, merupakan terburuk yang dialami sejumlah negara. Kondisi itu terjadi di Amerika, Eropa, dan Jepang yang selama berdekade-dekade berjuang dengan deflasi. “Suddenly, mereka punya inflasi. Itu adalah di satu sisi tadinya para policy maker di negara-negara maju itu mikir, oh ini inflasi sementara karena tadi demandnya lari duluan (sementara) supply-nya telat di belakang,” jelas Menkeu.
Data yang dihimpun Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menunjukkan tren inflasi yang meningkat. Hal itu menyebabkan negara-negara maju tersebut menaikkan suku bunga dengan tajam. Kalau bisanya bank sentral menaikkan suku bunga 25 basis poin atau 0,25 persen, saat ini bank sentral bisa menaikkan 50 basis sampai 75 basis sekali naik.
Langkah bank sentral seperti itu, tentu bukanlah sesuatu yang bisa dianggap sepele. Kenaikan suku bunga secara serentak di seluruh dunia, di negara maju ini akan menimbulkan dampak dan memang itu yang diinginkan, yaitu dampak untuk melemahkan demand supaya supply-nya bisa kerja dulu. Tujuan utamanya adalah agar inflasi turun.
Masalahnya, kenaikan suku bunga tersebut menyebabkan dan menciptakan potensi terjadinya pelemahan demand. Hal seperti itu, kata Menkeu, layak dicermati. Alasannya, bila hal itu berlangsung terus, kondisi itu dapat menyebabkan resesi.
“Kalau resesinya datang lebih dulu tapi inflasinya belum turun, maka yang terjadi ekonominya adalah resesi tambah inflasi. Namanya stagflasi. Itu yang tidak diinginkan,” pungkas Menkeu.
Apa Itu Stagflasi?
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya

















