“Mulai dari pakaian, mainan, perhiasan sampai kalau perlu pembantunya atau pengawalnya. Ini contohnya masa dinasti ada ‘teman’ untuk menemani tuan atau kaisar,” jelas Agni.
Dengan konsep kematian seperti itu, maka tak heran makam orang Tionghoa khususnya yang zaman dulu berukuran besar.
Pada makam China juga terdapat altar atau meja persembahan. Menurut Agni ini juga terkait dengan konsep kematian dan pemujaan leluhur dalam kebudayaan masyarakat China tradisional.
“Bahwa orang meninggal masih memerlukan uang, TV, rumah, dan lainnya di alam sana. Maka dalam upacara kematian akan dibakar rumah-rumahan kertas, mobil-mobilan kertas, disajikan makanan kesukaan di altar depan bongpai (nisan) setiap upacara kematian dan perayaan Cengbeng (hari bersih-bersih kuburan),” jelas Agni.
BACA JUGA :
Terharu! Ustaz Ebit Lew Bagikan Hadiah untuk Komunitas Tionghoa Menjelang Imlek
Ciri lain dari makam Tionghoa selain ukuran dan terdapat altar adalah gundukan tanah di kubur, nisan dengan tulisan, dan altar dewa bumi penjaga di sebelah kiri makam.
Seiring perkembangan zaman, tidak semua makam Tionghoa memiliki ciri tersebut. Banyak orang Tionghoa yang menganut agama lain dan menyesuaikan makam dengan bentuk makam agama yang dianut. (DI/KOMPAS)
Halaman : 1 2

















