INIKEPRI.COM – Derap kaki menghentak bumi. Genta berbunyi menembus langit malam. Di tengah udara yang hangat dan lampu-lampu temaram, kesenian kuda lumping tiba-tiba menggetarkan tanah Batam bumi Melayu. Sebuah awal yang agung dibuka di fasilitas umum Perumahan Villa Pesona Asri, Batam Center, Kota Batam, pada Selasa malam, 13 Mei 2025.
Adalah Gentayu Langgeng Sastro Budoyo yang membawa cahaya ini dalam sebuah Gebyakan—penampilan perdana yang lebih dari sekadar tontonan. Ia adalah pernyataan, bahwa warisan budaya masih hidup, masih bernyawa, dan masih menunggu untuk didengarkan.
“Gebyakan ini adalah merupakan upacara kelahiran. Dalam setiap hentakan kaki para penari dan dalam setiap helaan nafas para bopo, mengalir darah para leluhur yang seolah kembali menari bersama mereka. Gentayu Langgeng Sastro Budoyo berhasil menghadirkan kesenian asli dari Jawa Timur di jantung Kota Batam, Kepulauan Riau, di mana merupakan tanah rantau bagi para pengurus dan anggotanya,” kata Indrawati Sugiatiningsih S, M.M, M.Pd, selaku pembina.
Sementara itu, Riyanto, ketua paguyuban ini, menyebut tujuan utama pagelaran ini adalah memperkenalkan kehadiran Paguyuban Seni Kuda Lumping dan Jaranan Gentayu Langgeng Sastro Budoyo dan sekaligus nguri-uri budaya.
“Agar tidak punah dan anak cucu di perantauan tetap tau kesenian dari daerah asal orang tua dan leluhur mereka. Serta memperkenalkan dan menanamkan kembali warisan budaya kepada masyarakat, agar tak tercerabut dari akarnya,” kata dia, didampingi Mugi Prianto selaku pembina.
Acara ini semakin terasa istimewa dengan prosesi potong tumpeng yang dilakukan oleh Kasubdit 1 Ditintelkam Polda Kepri, Kompol Drs. Joko Priyanto, S.Sos. Beliau tak sekadar memotong nasi kerucut itu, tetapi ikut meresmikan harapan—bahwa budaya bisa dijaga bersama, oleh masyarakat dan negara.

Suara penonton menjadi saksi keagungan malam itu
“Saya merinding,” ujar Lestari (37), seorang ibu rumah tangga yang hadir bersama dua anaknya. “Anak-anak saya belum pernah lihat kuda lumping sebelumnya, dan mereka sangat terkesima. Ini luar biasa. Semoga tidak berhenti di sini.”
Junaidi (45), guru seni di sebuah sekolah negeri, berkata lirih, “Yang membuat saya terharu bukan hanya pertunjukannya, tapi semangat para penarinya yang sebagian besar masih muda. Mereka menjiwai. Ini bukan sekadar hiburan, ini adalah pendidikan karakter dan nilai.”
Rahmad (28), yang datang dari Sagulung sampai merinding dan meneteskan air mata melihat penampilan perdana GENTAYU, dia menuturkan bahwa selama di Batam belum pernah melihat dan menyaksikan penampilan seatraktif ini. Hentakan kaki penari dan pukulan kendang luar biasa sampai terasa ke hati, ujarnya.
Penulis : IZ

















