INIKEPRI.COM – Langit Lebak, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang, sore itu berwarna tembaga. Di halaman pesantren asuhan KH. Ir. Abdul Kholiq, para santri dan warga berkumpul, berpakaian serba putih, wajah-wajah mereka memantulkan cahaya sore. Mereka bersiap memulai perjalanan panjang, bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin.
Setiap bulan Muharram, rombongan ini melakukan wisata religi. Mereka menziarahi makam-makam ulama, masjid bersejarah, dan rumah tokoh yang mereka hormati. Tahun ini, salah satu tujuan akhir adalah kediaman Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, di Jalan Kutai Utara No. 01, Sumber, Solo.
“Kami urunan untuk perjalanan ini,” tutur KH. Abdul Kholiq, sang pengasuh.
“Ziarah ini tradisi kami, dan malam ini kami membawa misi doa untuk Pak Jokowi.”
Bus melaju melewati jalan-jalan yang berliku, diselingi perbincangan hangat dan lantunan salawat. Rombongan berhenti di beberapa tempat suci, menyematkan doa di setiap persinggahan. Semakin malam, semakin dekat mereka dengan Solo.
Minggu (10/8) malam, halaman rumah Jokowi sudah disiapkan. Kursi-kursi berjajar di bawah cahaya lampu yang temaram. Ketika rombongan tiba, suasana menjadi teduh. Ayat-ayat suci Alquran mulai dilantunkan, salawat Asyghil mengalir dari bibir ke hati, memantul di udara malam yang lembut.
Jokowi keluar menyapa. Ia duduk di tengah-tengah mereka, tidak ada jarak, hanya tatapan hangat dan senyum yang menenangkan.
“Malam ini kami mendoakan kesehatan, kesejahteraan, dan kebaikan untuk keluarga Bapak Jokowi. Kenapa kok kami mendoakan Pak Jokowi? Ya karena Pak Jokowi itu presiden ketujuh yang dalam sejarah perjuangan Nahdlatul Ulama memiliki peran penting,” ujar KH. Abdul Kholiq.
Salah satu peran itu, lanjutnya, adalah menetapkan Hari Santri Nasional. “Pak Joko Widodo bersikeras bahwa Hari Santri Nasional itu lahir dari resolusi jihadnya Mbah Hasyim Asy’ari. Hadiah terindah dari Presiden yang ke-7 terhadap warga NU adalah menghadiahi Hari Santri Nasional.”
Doa malam itu diawali tawasul, lalu pembacaan enam surat Alquran: Al-Insyirah, Al-Qadr, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, dan Al-Fatihah. “Enam surat ini dibaca para masyair saat menghadapi kesulitan. Insya Allah, ketika dalam situasi sulit, orang yang membacanya akan dimudahkan oleh Allah. Ini juga sebagai benteng untuk melindungi Pak Jokowi,” kata KH. Abdul Kholiq.
Ia menutup dengan doa penuh harap:
“Biar terhindar dari fitnah, beliau selamat panjang umur, selalu diberikan kebaikan. Karena tidak ada balasan orang baik kecuali juga dengan kebaikan.”
Di malam itu, doa, sejarah, dan persaudaraan berpadu. Dari Lebak hingga Solo, mereka membawa pesan sederhana: bahwa pemimpin yang menghargai jasa pahlawan selalu layak diiringi doa.
Penulis : IZ

















