RI–AS Sepakat Bangun Pabrik Semikonduktor Rp82 Triliun di Batam

- Publisher

Jumat, 20 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi. Foto: Istimewa

Ilustrasi. Foto: Istimewa

INIKEPRI.COM – Indonesia menjalin kerja sama strategis dengan perusahaan Amerika Serikat untuk mengembangkan industri semikonduktor di Batam, Kepulauan Riau, dengan nilai investasi awal mencapai US$4,9 miliar atau sekitar Rp82 triliun.

Kesepakatan tersebut merupakan bagian dari pengembangan Proyek Strategis Nasional (PSN) Wiraraja Green Renewable Energy & Smart Eco-Industrial Park (GESEIP) yang berlokasi di kawasan Galang.

Penandatanganan kerja sama disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dalam agenda yang berlangsung di kantor US Chamber of Commerce pada 18 Februari 2026.

Perjanjian Joint Development Agreement diteken antara PT Galang Bumi Industri selaku pengelola kawasan dengan sejumlah mitra strategis asal Amerika Serikat, termasuk Essence Global Group dan Tynergy Technology Corporation.

Hilirisasi Silika hingga Produksi Chip

Direktur Utama PT Galang Bumi Industri, Ahmad Maruf Maulana, mengatakan proyek ini menjadi langkah konkret Indonesia dalam memperkuat hilirisasi berbasis energi hijau dan teknologi tinggi.

BACA JUGA:  Indonesia-Malaysia Tegaskan Komitmen Jaga Stabilitas Kawasan lewat Musyawarah

Menurutnya, ekosistem industri yang dibangun mencakup pengolahan kuarsa silika menjadi produk bernilai tambah, mulai dari pemurnian bahan baku kaca hingga produksi polysilicon yang menjadi komponen utama semikonduktor dan panel surya.

“Kami tidak hanya membangun pabrik, tetapi membentuk rantai industri dari hulu ke hilir agar Indonesia memiliki kemandirian teknologi sekaligus nilai tambah ekonomi,” ujarnya.

Melalui jaringan Tynergy Group, pengembangan akan dilakukan melalui entitas industri di Indonesia yang fokus pada pemurnian silika serta produksi bahan baku chip.

Investasi Bertahap hingga US$26,7 Miliar

Pada tahap awal, investasi yang digelontorkan sebesar US$4,9 miliar.

Jika fase pertama berjalan sesuai target, proyek akan dilanjutkan dengan tambahan investasi hingga US$26,7 miliar.

Tahapan lanjutan meliputi:

  • Produksi ingot wafer
  • Wafer slicing
  • Fasilitas fabrikasi semikonduktor
  • Penguatan rantai pasok industri elektronik dan energi terbarukan
BACA JUGA:  Kepercayaan Investor Masih Kuat

Dengan skema tersebut, Indonesia ditargetkan memiliki rantai produksi semikonduktor yang terintegrasi di dalam negeri.

Serap 2.500 Tenaga Kerja Terampil

Tynergy Technology Corporation menargetkan investasi awal sekitar US$250 juta untuk pembangunan fasilitas manufaktur di Galang, dengan proyeksi penciptaan ±2.500 lapangan kerja terampil.

Selain sektor manufaktur, kerja sama juga mencakup:

  • Pembangunan infrastruktur kawasan industri
  • Pengembangan energi terbarukan
  • Program pelatihan dan peningkatan kapasitas SDM
  • Riset dan pengembangan teknologi mutakhir

Untuk mendukung kebutuhan energi kawasan, akan dibangun fasilitas penyimpanan energi berbasis sodium-ion berkapasitas hingga 150 MW melalui perusahaan energi yang dibentuk khusus di Indonesia.

Kolaborasi Teknologi Lintas Negara

Dalam aspek transfer teknologi, Tynergy juga menjalin kolaborasi antara kawasan industri di Galang dan Phoenix, Amerika Serikat, guna mempercepat pengembangan inovasi dan integrasi rantai pasok global.

BACA JUGA:  Menteri ESDM Minta Petunjuk Presiden soal Pengelolaan Tambang oleh Pesantren

Kemitraan ini ditegaskan melalui pakta kerja sama antar-zona ekonomi bebas yang diharapkan membuka akses teknologi, investasi, serta pasar internasional.

Perkuat Posisi Indonesia di Rantai Pasok Global

Pemerintah menilai investasi ini menjadi tonggak penting dalam mendorong Indonesia masuk ke ekosistem global industri semikonduktor—sektor yang selama ini didominasi negara-negara maju.

Selain meningkatkan daya saing industri nasional, proyek tersebut diharapkan:

  • Mempercepat hilirisasi sumber daya mineral
  • Mendorong transisi energi berkelanjutan
  • Mendukung pengembangan pusat data dan teknologi kecerdasan artifisial (AI)
  • Menggerakkan pertumbuhan ekonomi kawasan Batam dan sekitarnya

Presiden menyambut baik kerja sama tersebut sebagai wujud penguatan diplomasi ekonomi Indonesia dengan Amerika Serikat sekaligus langkah strategis menuju industrialisasi berbasis teknologi tinggi.

Penulis : DI

Editor : IZ

Berita Terkait

Volume Peti Kemas Tumbuh, Jumlah Penumpang Melonjak, BP Batam Buka 2026 dengan Kinerja Optimis
Penggunaan QRIS di Kepulauan Riau Terus Tumbuh, Transaksi Digital Makin Meluas
AS Jadi Pasar Terbesar, Ekspor Batam Tumbuh Signifikan di Awal 2026
BP Batam – Pengusaha Kompak Rumuskan Akselerasi Ekonomi 2026
Isu Kenaikan BBM Dibantah, Pemerintah Pastikan Harga Tetap
Menkeu: Perekonomian Indonesia tidak Suram
Kabar Baik! Batas Lapor SPT Diperpanjang hingga 30 April 2026
Ekspor Listrik Bersih ke Singapura, Batam–Bintan–Karimun Jadi Basis Industri

Berita Terkait

Jumat, 17 April 2026 - 13:13 WIB

Volume Peti Kemas Tumbuh, Jumlah Penumpang Melonjak, BP Batam Buka 2026 dengan Kinerja Optimis

Kamis, 16 April 2026 - 07:24 WIB

Penggunaan QRIS di Kepulauan Riau Terus Tumbuh, Transaksi Digital Makin Meluas

Rabu, 8 April 2026 - 16:10 WIB

AS Jadi Pasar Terbesar, Ekspor Batam Tumbuh Signifikan di Awal 2026

Kamis, 2 April 2026 - 20:40 WIB

BP Batam – Pengusaha Kompak Rumuskan Akselerasi Ekonomi 2026

Selasa, 31 Maret 2026 - 12:23 WIB

Isu Kenaikan BBM Dibantah, Pemerintah Pastikan Harga Tetap

Berita Terbaru