INIKEPRI.COM — Kabar duka datang dari Air Tawak, Kelurahan Ranai Darat, Kecamatan Bunguran Timur, Kabupaten Natuna. Rendi Apriyanto, 30 tahun, dikabarkan meninggal dunia saat berada di Rusia dan disebut keluarga terlibat sebagai tenaga logistik militer dalam konflik Rusia-Ukraina.
Kabar tersebut sebelumnya beredar di kalangan masyarakat dan alumni SMA Negeri 1 Bunguran Timur. Seorang teman sekolah Rendi, Yumiga, membenarkan bahwa informasi mengenai kematian Rendi memang telah diterima dari sesama alumni.
Namun, saat informasi awal beredar, pemerintah daerah Natuna belum memperoleh kepastian mengenai kabar tersebut.
Bupati Natuna Cen Sui Lan ketika dikonfirmasi pada Senin (28/9/2026) mengaku belum mendapatkan perkembangan terbaru.
“Belum update,” katanya.
Hal serupa disampaikan Sekretaris Daerah Kabupaten Natuna Boy Wijanarko Varianto. Ia mengatakan pihaknya masih melakukan pengecekan untuk memastikan informasi tersebut, termasuk melalui pihak TNI.
“Baru tahu pula, kroscek yang buat ini. Mau ditanya ke intel TNI dulu,” ujar Boy.
Dari Teknisi Listrik hingga ke Rusia
Kepastian mengenai kabar duka tersebut kemudian disampaikan orang tua Rendi, Ruskamal dan Eniyanti, saat ditemui di kediaman mereka di Air Tawak, Ranai Darat.
Menurut keluarga, perjalanan Rendi menuju Rusia bermula dari pekerjaannya di bidang teknis.
Rendi sebelumnya bekerja di perusahaan telekomunikasi Indosat di Natuna. Pada 2022, ia dipindahkan ke Batam. Setelah mengundurkan diri dari pekerjaannya, Rendi kemudian pergi ke Jawa sebelum mendapat pekerjaan sebagai tenaga ahli instalasi listrik di Filipina.
“Sejak 2022, Rendi memang tidak pernah pulang ke Natuna,” ujar Eniyanti.
Ruskamal mengatakan putranya sempat kembali ke Indonesia dan singgah di Jakarta. Namun, tidak lama kemudian Rendi kembali mendapat kontrak kerja ke Filipina bersama sejumlah rekannya.
Hingga kemudian, pada awal Februari 2026, Rendi menghubungi keluarganya dan menyampaikan bahwa dirinya sudah berada di Rusia bersama sejumlah warga Indonesia lainnya.
Kepada keluarga, Rendi disebut mengatakan bahwa dirinya direkrut untuk pekerjaan di bagian logistik, bukan sebagai pasukan yang bertempur langsung di garis depan.
“Kami kaget. Tapi Rendi menenangkan kami. Katanya mereka hanya direkrut untuk logistik, bukan untuk berperang,” kata Ruskamal.
Kontrak Enam Bulan
Menurut keterangan orang tua Rendi, mereka mengetahui keberangkatan putranya ke Rusia dan bahkan diminta memberikan persetujuan.
Keluarga juga menyebut Rendi memperoleh kontrak selama enam bulan dengan nilai sekitar Rp600 juta.
Saat kabar duka datang, Rendi disebut sedang menjalani periode kedua kontraknya. Ia bahkan sempat merencanakan pulang ke Indonesia pada awal April 2027.
Namun rencana tersebut tidak pernah terwujud.
Pada 18 September 2026, Rendi masih berkomunikasi dengan keluarganya. Dalam komunikasi tersebut, ia menyampaikan bahwa dirinya akan dikirim ke wilayah garis depan sehingga untuk sementara waktu tidak dapat dihubungi.
Beberapa hari kemudian, kabar duka datang dari rekan Rendi.
Keluarga menyebut seorang rekan yang selamat mengabarkan bahwa sejumlah orang dari rombongan mereka menjadi korban serangan drone di medan perang.
Rendi disebut termasuk dalam rombongan yang meninggal dunia.
“Kami mendapat kabar duka ini dari kawan Rendi. Ada delapan orang dari Filipina yang mendaftar sebagai tentara bayaran di Rusia secara bersamaan,” terang Ruskamal.
Keluarga mengatakan rekan Rendi yang selamat mengalami luka dan mendapatkan perawatan medis di Rusia.
Keluarga Berharap Jenazah Dipulangkan
Di tengah kabar duka tersebut, keluarga kini menghadapi persoalan lain: bagaimana membawa pulang jenazah Rendi ke Natuna.
Menurut keluarga, kondisi di lokasi konflik masih berbahaya sehingga proses evakuasi belum dapat dilakukan.
Keluarga bahkan mendapat informasi bahwa masih terdapat korban lain yang belum berhasil dievakuasi dari wilayah konflik.
“Tidak bisa, Pak. Karena di lokasi masih gawat dengan perang. Sekarang masih ada tulang-belulang yang belum dievakuasi,” ujar Ruskamal, mengulang percakapannya dengan rekan Rendi.
Keluarga berharap pemerintah Indonesia, pemerintah daerah Natuna maupun pihak terkait dapat membantu proses evakuasi dan pemulangan Rendi ke kampung halamannya.
Bagi keluarga, perjalanan Rendi yang bermula dari Natuna, kemudian bekerja di Batam dan Filipina hingga akhirnya berada di Rusia, kini menyisakan duka sekaligus harapan agar anak mereka dapat kembali ke tanah kelahirannya.
Sementara itu, status dan rincian keterlibatan Rendi dalam konflik Rusia-Ukraina masih berdasarkan keterangan keluarga dan sumber-sumber yang dikutip. Konfirmasi resmi mengenai posisi Rendi, proses perekrutan, serta kondisi dan lokasi jenazahnya masih diperlukan dari pihak berwenang.
Penulis : RP
Editor : IZ

















