Serat Centhini, Kamasutra Jawa. Tidak Kalah Sensual

- Admin

Rabu, 24 Juni 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Batam, inikepri.com – Dari dahulu kala, hingga kini, hubungan seksualitas menjadi bahasan yang menarik untuk dikupas. Dalam urusan bercinta, kitab Kamasutra yang berasal dari India banyak dipakai sebagai acuan. Tapi tahukah Anda, jika di Indonesia punya kitab yang secara detail mengupas tentang teknik bercinta. Namanya Serat Centhini.

Serat centhini merupakan karya sastra Jawa Kuno yang dibuat oleh Yasadipura II, Ranggasutrasna, dan R. Ng. Sastradipura yang terdiri atas 722 dalam bentuk tembang macapat, dan penulisannya dikelompokkan menurut jenis lagunya. Antara lain memang bicara soal seks dan seksualitas.

Ketika itu Pangeran Adipati Anom, seorang putra Susuhunan Pakubuwana IV, menginginkan pengetahuan lahir dan batin masyarakat Jawa dikumpulkan. Termasuk dalam kayakinan dan penghayatan tentang agama. Maka tiga pujangga keraton ditunjuk membuatnya. Pada 1814 mulai dibuatnya, hingga rampung pada 1823.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hasilnya tercipta karya setebal 4.000 halaman, yang terbagi 12 jilid. Beberapa jilid di antaranya memuat ajaran erotika yang dibalut dengan mistisisme Islam dan Jawa. Awalnya karya itu diberi nama Suluk Tembangraras. Namun, belakangan karya itu malah populer dengan sebutan Serat Centhini.

Baca Juga :  Antivirus Corona Asal Indonesia Dipatenkan, Seberapa Ampuh?

Serat Chentini dianggap karya terbesar dan terindah dalam kesusastraan Jawa. Karya ini diibaratkan seperti ensiklopedia Jawa yang lengkap. Di dalamnya terdapat ilmu tentang agama, bermacam-macam ilmu kebatinan, kekebalan, keris, arsitektur, pertanian, kasenian, kesusastraan, karawitan dan tari.

Karya ini juga mengungkapkan primbon, ramuan jampi-jampi, bermacam-macam masakan dan juga adat-istiadat. Selain itu terdapat juga pemaparan ilmu tentang firasat, watak manusia dan cerita yang ada sangkut pautnya dengan karya sastra kuno.

Yang menarik, Serat Centhini juga menyinggung tema seksualitas, keragaman dan berbagai eksplorasinya yang diungkap secara verbal tanpa tedeng aling-aling. Penuh adegan persanggamaan dan pelepasan hasrat seksual. Tak hanya hubungan seksual yang dilakukan suami dan istri, namun juga hubungan seksual yang dilakukan di luar pernikahan.

Salah satu bagian bercerita tentang Cebolang, laki-laki muda dengan paras elok rupawan yang lari dari rumah orangtuanya karena menilai dirinya berdosa besar. Cebolang dikenal sebagai pemuda yang tidak baik pekertinya. Ia pergi meninggalkan Padepokan Sokayasa dengan membawa 4 orang santri yang bernama Saloka, Kartipala, Palakarti, dan Nurwitri.

Baca Juga :  Terawan Klaim Vaksin Nusantara yang akan Akhiri Pandemi COVID-19

Dalam pelariannya, dia selalu melakukan hubungan seksual dengan orang yang berbeda, tak peduli laki atau perempuan. Ketika sampai di Mataram (Yogyakarta), Cebolang, bersama kawan lelakinya, Nurwitri, menyetubuhi dua perempuan secara bergantian.

Tapi kisah Cebolang tak melulu soal seks. Disela-sela cerita juga diselipkan beragam pengetahuan dan nasihat agama yang didapatkan oleh Cebolang dari para kyai dan kaum pinisepuh (orang yang dituakan dan dihormati) di sepanjang perjalanannya.

Begitu dahsyatnya kisah Serat Centhini, seorang kontributor sebuah surat kabar Prancis, Elizabeth D. Inandiak, misalnya, telah menerjemahkannya ke dalam bahasa Prancis dengan judul Les Chants de I’ile a dormir debout le Livre de Centhini (2002).

“Saya tak pernah membayangkan sama sekali bahwa seks bisa bergabung dengan mistik,” katanya dalam kuliah umum “Erotika Nusantara: Serat Centhini” di Teater Salihara, Jakarta, 10 Maret 2012, silam.

Buku aslinya saat ini masih ada di Sanapustaka di kraton Surakarta. Ada beberapa salinannya di Reksapustaka Mangkunegaran, Paheman Radya-Pustaka Sriwedari, Museum Sana Budaya di Yogyakarta dan Museum Gajah di Jakarta dan mungkin juga di tempat-tempat lain.

Hops.id

Berita Terkait

Vaksin tidak Meruntuhkan Kekebalan Tubuh
Cara Pertolongan Pertama Kaki Melepuh saat Ibadah Haji
Bayi Baru Lahir Tidak Boleh Diberi Makanan Lain Selain ASI
PIN Polio Kembali Dilaksanakan di 33 Provinsi, Termasuk di Kepri
Asap Rokok Berdampak Buruk pada Ibu Hamil dan Anak
Kasus Varian COVID-19 di Singapura, Belum Ada Urgensi Pembatasan Perjalanan
Kesadaran Masyarakat Pentingnya Imunisasi Rutin Lengkap Harus Ditingkatkan
Upaya Pencegahan Hipertensi dengan PATUH dan CERDAS
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 11 Juni 2024 - 07:15 WIB

Vaksin tidak Meruntuhkan Kekebalan Tubuh

Sabtu, 8 Juni 2024 - 08:16 WIB

Cara Pertolongan Pertama Kaki Melepuh saat Ibadah Haji

Senin, 3 Juni 2024 - 07:34 WIB

Bayi Baru Lahir Tidak Boleh Diberi Makanan Lain Selain ASI

Jumat, 31 Mei 2024 - 07:17 WIB

PIN Polio Kembali Dilaksanakan di 33 Provinsi, Termasuk di Kepri

Kamis, 30 Mei 2024 - 07:18 WIB

Asap Rokok Berdampak Buruk pada Ibu Hamil dan Anak

Kamis, 23 Mei 2024 - 07:54 WIB

Kasus Varian COVID-19 di Singapura, Belum Ada Urgensi Pembatasan Perjalanan

Selasa, 21 Mei 2024 - 08:31 WIB

Kesadaran Masyarakat Pentingnya Imunisasi Rutin Lengkap Harus Ditingkatkan

Senin, 20 Mei 2024 - 06:12 WIB

Upaya Pencegahan Hipertensi dengan PATUH dan CERDAS

Berita Terbaru