Pengalaman pertama diceritakan Ari Lasso. Penyanyi kawakan itu menceritakan pengalaman mistisnya tersebut melalui channel Youtube komika ternama, Raditya Dika. Dalam unggahan yang berjudul ‘Paranormal Experience: Digerayangi Kuntilanak (FT. Ari Lasso)’ itu, Ari Lasso menyampaikan beberapa kisah spiritualnya sejak masih kecil.
Di menit terakhir, pria berkacamata itu juga menceritakan pengalamannya saat manggung di salah satu kota terpencil pada 2005 lalu. Namun tidak disebutkan dengan jelas asal kota misterius tersebut. Ari sendiri meminta kepada Raditya Dika untuk menyensor kota yang ia sebutkan dalam percakapan tersebut.
Saat itu, Ari memang tengah melakukan tur dengan beberapa band ternama di Indonesia, termasuk Ada Band. Rombongan melakuka tur ke sekitar 30 kota di Indonesia.
Beberapa pengalaman pun dirasakan saat tiba di kota tersebut. “Baru nyampe. Manajer gua dipanggil dan di-briefing kita semua,” kata Ari.
Dalam briefing yang diberikan itu, ada beberapa hal yang tak boleh dilakukan. Di antaranya adalah larangan untuk mandi ataupun keramas. Padahal, mereka harus berada di kota tersebut selama tiga hari.
Bukan hanya itu. Saat itu seluruh para penghibur, termasuk Ari, juga diingatkan untuk tidak perlu memedulikan ketika menemukan adanya penonton yang melakukan gerakan atau bahkan tampak tak sama dengan para penonton umumnya.
Ari pun merasa tak keberatan dengan hal itu. Sebab, hal seperti masih dipercaya oleh masyarakat di Indonesia. Dia pun melakukan beberapa hal sebagaimana briefing yang disampaikan di awal.
“Ini beneran Dit, jadi ini pekerjaan profesional dan di-briefing seperti itu memang,” tambah pelantun Hampa itu.
Kejadian aneh kembali ia rasakan saat manggung selesai. Ketika itu, stadion tempatnya manggung hanya memiliki satu pintu masuk dan keluar. Memang sedikit berbeda dengan kebanyakan stadion di kota besar. Sehingga, dia dan rombongan pun keluar dari pintu yang sama dan memang harus membelah penonton yang saat itu ia perkirakan berada sekitar 12 ribu lebih.
Namun saat keluar, Ari malah melihat kondisi lapangan sepi. Saat itu dia coba berpikir realistis dan beranggapan penonton di sana memang tertib sehingga keluar dengan cepat meski saat itu kembang api dinyalakan untuk menghibur penonton di akhir konser.
“Oh, mungkin lagi pada di luar kali ya, pada nongkrong. Sampai di luar, sepi,” tambahnya.
Pengalaman berlanjut saat Ari bersama rombongan kembali ke hotel. Saat itu, salah satu kru yang merasa kegerahan memutuskan untuk mandi. Padahal, sejak awal sudah diingatkan agar seluruh kru dan entertaint tak mandi selama masih berada di kota tersebut.
Sesaat setelah salah satu kru mandi, di bagian lobi hotel terdengar ada seseorang yang meminta tolong. Dia ternyata kepala produksi yang tertabarak motor dan tangannya mengalami patah tulang. “Jadi, kesialan itu langsung ada. Ya nggak hati-hati aja dia nyebrangnya,” tambah Ari.

















