Survei: Perokok Berisiko Lebih Rendah Tertular Corona

- Publisher

Senin, 18 Januari 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi (ist)

Ilustrasi (ist)

Makalah itu juga mengutip dua penelitian dari Prancis dan laporan serupa dari Italia, New York dan China, yang juga melaporkan tingkat infeksi yang lebih rendah di antara para perokok. 

Sengupta lebih lanjut mengatakan, perokok cenderung lebih rentan terhadap COVID-19 karena merokok meningkatkan kemungkinan penularan virus dari tangan ke mulut, dan memperingatkan bahwa penggunaan produk tembakau dapat meningkatkan keparahan infeksi saluran pernapasan dan membuat orang rentan terhadap virus ini. 

BACA JUGA:  BPOM Terbitkan Peraturan Baru Batas Cemaran dalam Kosmetik

Dalam dokumen ‘Pandemi COVID-19 dan Penggunaan Tembakau di India’, Sangupta mengatakan para ahli telah mengonfirmasi bahwa perokok lebih mungkin mengembangkan gejala parah atau meninggal karena COVID-19, karena penyakit itu terutama menyerang paru-paru dan memperingatkan agar tidak menggunakan produk apapun semacamnya. 

Perokok, diperingatkan, kemungkinan besar lebih rentan terhadap COVID-19 karena tindakan merokok berarti jari (dan mungkin rokok yang terkontaminasi) bersentuhan dengan bibir yang meningkatkan kemungkinan penularan virus dari tangan ke mulut.

BACA JUGA:  Kabar Baik, Remdesivir Harapan Baru Sembuhkan Corona

“Kehadiran antibodi semacam itu merupakan penanda infeksi dan pemulihan yang andal. Namun, beberapa orang yang terinfeksi mungkin tidak mengembangkan antibodi,” kata Anurag Agrawal, direktur IGIB, dan salah satu rekan penulis makalah tersebut.

“Penggunaan transportasi pribadi, pekerjaan dengan eksposur rendah, merokok, vegetarian dan golongan darah ‘A’ atau ‘O’ tampaknya melindungi, menggunakan seropositif sebagai pengganti infeksi,” tambah dia. 

BACA JUGA:  Mendagri Dukung Perda Covid-19 Dengan Sanksi Denda Dibanding Penjara

Sengupta mengungkap, ini untuk pertama kalinya sebuah penelitian dilakukan di India di mana individu telah dipantau selama tiga bulan (35 individu) hingga enam bulan (346 individu) untuk antibodi, termasuk mereka yang memiliki kemungkinan aktivitas penetral. 

“Ini adalah survei kohort pertama. Kami melakukan tes antibodi normal dan tes anti-tubuh netralisasi untuk memahami prevalensi dan durasi antibodi,” tutur Shantanu Sengupta. (RM/Viva)

Berita Terkait

Catat! Ini 5 Jenis Operasi yang Tidak Ditanggung BPJS Kesehatan
Waspada Virus Hanta, Dokter Ungkap Gejala Awal hingga Cara Pencegahannya
Batam Siaga Hantavirus, RSUD Embung Fatimah Disiapkan sebagai Rumah Sakit Rujukan
Kasus Muncul di Beberapa Negara, Benarkah Hantavirus Jadi Covid-19 Berikutnya?
Hanya 20–30 Menit Sehari, Jalan Kaki Bantu Tingkatkan Kualitas Hidup
Strategi Sehat Menjalani Diet Selama Ramadan Tanpa Mengganggu Energi
Tanpa Disadari, Ini Kebiasaan Tidak Sehat yang Sering Terjadi Saat Puasa
Sering Pusing saat Puasa? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 6 Juni 2026 - 12:35 WIB

Catat! Ini 5 Jenis Operasi yang Tidak Ditanggung BPJS Kesehatan

Kamis, 14 Mei 2026 - 10:54 WIB

Waspada Virus Hanta, Dokter Ungkap Gejala Awal hingga Cara Pencegahannya

Selasa, 12 Mei 2026 - 09:12 WIB

Batam Siaga Hantavirus, RSUD Embung Fatimah Disiapkan sebagai Rumah Sakit Rujukan

Sabtu, 9 Mei 2026 - 09:07 WIB

Kasus Muncul di Beberapa Negara, Benarkah Hantavirus Jadi Covid-19 Berikutnya?

Kamis, 5 Maret 2026 - 08:05 WIB

Hanya 20–30 Menit Sehari, Jalan Kaki Bantu Tingkatkan Kualitas Hidup

Berita Terbaru