“Karena yang bersangkutan ini sebagai pimpinan pondok pesantren sehingga ada rasa takut korban,” jelas AKBP Agung.
Tragisnya, bukan satu atau dua orang yang jadi korban, melainkan belasan orang. Diperkirakan, setidaknya 15 orang sudah yang menjadi korban.
Sejauh ini, korban yang melapor sudah enam orang, namun besar kemungkinan korbannya masih banyak yang belum melapor.
Menurut Agung Setyo Nugroho, korban rata-rata berusia 16 dan 17 tahun.

Menurut salah satu santriwati yang jadi korban, SB kerap memaksa korban untuk melakukan seks oral dengan dalih agar ilmu yang diterima korban menjadi berkah di kemudian hari.
Bukan sekali dua kali, SB melakukan perbuatannya itu kepada santriwati tersebut sebanyak lebih dari tiga kali.
Yang mengejutkan lagi, salah satu korban merupakan pacar dari anak kandung SB.
Karena tak kuat menanggung siksaan kiai bejat tersebut, santriwati malang asal Jogoroto itu pun kemudian memilih kabur dari pondok pesantren tersebut.
“Bukan asal Jombang saja, ada juga korban yang dari Jawa Tengah, dari luar daerah. Kemungkinan ada lagi, nanti kita kembangkan lagi,” terang Agung.
Dalam mencabuli santriwatinya, SB juga bukan sembarang pilih. Ia memilih santriwatinya yang berparas cantik untuk melampiaskan hawa nafsunya.
“Semua santri sudah dipulangkan semua sampai masalah ini diproses,” kata Agung
Buntut dari kasus ini, warga sekitar pondok pesantren tersebut mendesak pemerintah dan polisi untuk menutup ponpes tersebut.
Saat ditangkap polisi, SB dengan entengnya mengaku kalau dirinya khilaf. (RWH/Indozone)
Halaman : 1 2

















