Malam itu, Sabtu (10/4/2021), Riyandi dan pamannya pamit pergi ke laut mencari ikan. Dengan kapal kayu bermesin tempel, Riyandi dan Abdul Rahman bergabung bersama nelayan asal Tanjunguma, Batam lainnya.
Belasan nelayan sudah berada di tengah laut. Kedua paman dan anak itu rupanya sudah terlambat. Saat mereka baru merentangkan jaring, nelayan Tanjunguma lain sudah bersiap untuk berkemas pulang.
Bertekad untuk mencari nafkah bagi anak dan istri, kelamnya malam tidak menjadi hambatan. Gusti Riyandi dan Abdul Rahman tetap melanjutkan kegiatannya.
Namun, ia tidak sadar telah pergi jauh dari perairan Indonesia. Kapal milik Abul Rahman dengan tenang memasuki wilayah perairan Malaysia.
Lampu terang di kapal kayu yang membelah gelapnya malam memudahkan patroli Malaysia menemukan Abdul Rahman dan Gusti Riyandi, bagai penyusup di negeri orang.
Mimpi Buruk itu Menjadi Kenyataan.
Kapal patroli Maritim Malaysia mendekat. Petugas memberikan kode agar kapal Riyandi tidak lari.
Namun sebaliknya. Abdul Rahman yang kaget justru memacu kapalnya bersama Riyandi. Keduanya ketakutan, hendak melarikan diri.
“Demi Allah saya tidak berbuat macam-macam. Saya hanya mencari nafkah untuk anak isti. Anak saya masih kecil. Tidak ada niat sedikit pun,” kata Riyandi saat ditemui di dalam KN Bintang Laut milik Bakamla yang datang menjemputnya. Riyandi menunduk, meremas kedua tangannya. Matanya berembun.
Kedua paman dan kemenakan itu memang sepakat untuk kabur menghindar dari kejaran kapal patroli pihak Malaysia. Mereka tidak ingin ditangkap. Mereka ingin kembali ke dekapan orang-orang tercinta di Batam.
Petugas patroli Maritim Malaysia hanya menjalankan tugasnya. Bagi mereka, ada pihak asing yang berupaya masuk ke wilayah negara. Tentu saja mereka berusaha melakukan pengamanan.
Beberapa kali tabrakan antarkapal terjadi, sampai akhirnya Gusti Riandi dan Abdul Rahman pasrah. Kapalnya diikat ke kapal patroli. Keduanya menaiki kapal penjaga maritim Malaysia, pasrah.
Di kapal, petugas Malaysia menanyai kedua nelayan itu, mengapa mereka melarikan diri.
“Kami bilang, karena takut. Kami mau pulang,” kata Gusti Riyandi.
Keduanya pun dibawa ke pangkalan Maritim Malaysia, untuk diinterogasi. Keduanya tiba di Tahanan Reman sekitar pukul 12.00 waktu setempat.
Hidayah Ramadan
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya

















