Kejadian malam itu begitu cepat. Kedua warga Tanjunguma itu bahkan tidak sempat menarik satu ikan pun ke dalam kapal, karena jala baru direntang.
Hari berganti pagi, kedua nelayan semakin pasrah akan nasibnya.
“Kami mengaku salah. Kami mohon maaf,” kata Abdul Rahman.
Minggu (11/4/2021), malam pertama Ramadan. Abdul Rahman dan keponakannya berdua dalam sel yang sunyi. Sebagai Muslim, keduanya merasa terpukul. Ini awal Ramadh/an yang amat berat.
Petugas Malaysia mengantarkan baju bersih, sajadah dan Al Quran untuk Abdul Rahman dan Gusti Riyandi.
Petugas Negara Jiran memberikan perhatian kepada kedua nelayan yang berada dalam ketakutan. Mereka menyiapkan perlengkapan agar Abdul Rahman dan Gusti Riyandi dapat menjalankan ibadah Ramadan.
“Malam itu kami Shalat Tarawih berdua di dalam sel. Saya yang menjadi imam,” kata Abdul Rahman tertunduk.
Meski hanya berdua, di dalam ruangan sel yang muram, paman-kemenakan itu bertekad tidak akan menyia-nyiakan kesempatan meraup pahala Ramadan.
Bahkan, Abdul Rahman ingin memanfaatkan waktu di dalam tahanan untuk beribadah.
Keduanya mengambil Al Quran yang diberikan petugas. Memulai tilawah dan tidak henti-hentinya membaca firman Allah, berharap ridho pemilik alam.
“Kami mengaji. Sebenarnya selama ini juga mengaji kalau ada waktu. Tapi di dalam sel, kami punya banyak waktu, jadi mengaji saja di sana,” kata Abdul Rahman.
Sahur dan buka puasa pertama menjadi momen paling menyedihkan. Apalagi bagi Riyandi, yang selama ini selalu disuguhkan makanan oleh istri tercinta.
Pemerintah Malaysia memang menyiapkan makanan untuk sahur dan berbuka. Menurut Riyandi, makanannya pun terbilang enak.
“Tapi, tetap lebih enak makanan di rumah,” ucapnya sayu.
Selama 15 hari berada di dalam tahanan, keduanya mengaku diperlakukan sangat baik. Paman-kemenakan itu tidak mendapat kekerasan apa pun dari aparat Negeri Jiran.
Meski begitu, Riyandi mengaku trauma dan bertekad tidak mengulangi kesalahannya.
Pulang
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya

















